
Lama menunggu akhirnya senyum Rara terbit Ketika melihat pak Beni menenteng kresek di tangannya. Namun
BRAKKKK BUUUMMMM (anggap aja suara dentuman yang gengs).
Sebuah dentuman keras yang Rara perkiraan berasal dari belakang terasa sangat kencang seakan mendorong ia jauh ke depan. Secara spontan Rara meringkuk bagaikan bayi sambil melingkarkan tangan ke semua sisi perut yang dapat ia jangkau. Setelahnya tidak ada yang dapat Rara rasakan kecuali rasa sakit tiba-tiba kemudian gelap menghampiri.
Sementara di luar mobil Pak Beni di buat menganga dengan tindakan nekat yang di sengaja tersebut. Pak Beni dapat melihat dengan jelas bahwa kecelakaan ini disengaja dan mungkin juga sudah direncanakan sebelumnya.
"n-non Ra-Rara " panggil Pak Beni terbata seakan kembali disadarkan setelah mobil tadi kembali melaju dengan kecepatan penuh.
Seketika kresek yang berada di tangan Pak Beni ia lepaskan begitu saja kemudian ia berlari ke arah mobil majikan yang bagian belakangnya sudah sangat rusak karena tabrakan tadi.
Segera ia buka pintu yang tadinya di tempati Rara ketika ia keluar untuk membelikan pesanan sang majikan kembali matanya nyaris keluar melihat penampakan Rara yang meringkuk dengan darah sudah mengalir di kaki.
***
Sementara Hendra di Perusahaan sejak tadi sudah tidak tenang karena sang istri belum tiba jua sedangkan jam makan siang sudah dari setengah jam yang lalu. Tadi memang Pak Beni mengabarkan bahwa sang istri ingin makan batagor yang di pinggir jalan yang mau tak mau Hendra mengiyakan permintaan tersebut walau ia takut makanan tersebut tidak higienis namun semua demi baby mereka.
Namun Hendra merasa mereka terlalu lama sudah lima kali di telponnya sang istri namun belum juga di angkat.
"kamu dimana sih Ra? kenapa ga angkat telpon aku? atau jangan-jangan kamu begitu ngiler dengan batagor itu sehingga mengabaikan telpon ku?" batin Hendra sambil ia mondar-mandir di depan meja kerjanya.
"astaga kenapa aku ga telpon pak Beni aja, oon memang kamu hen" Hendra mengatai diri sendiri karena memang ia tidak bisa berfikir ketika sedang kalut atau sedang panik seperti ini.
__ADS_1
Segera ia ambil handphone guna untuk menghubungi sopir yang bersama istrinya tadi. Hendra menunggu hingga dering pada panggilan pertama habis namun tidak juga diangkat. Kemudian Hendra coba lagi dan sangat berharap diangkat karena ia begitu khawatir sekarang.
Sementara orang yang di telpon saat ini sedang gemetar melihat sang tuan menelpon. Ia sangat takut sekarang tuannya memang sangat baik namun jika itu menyangkut tentang masalah istrinya ia tidak akan pernah main-main apalagi istrinya sampai kenapa-napa. Namun setelah berfikir kembali Pak Beni memutuskan untuk segera menjawab panggilan itu karena bagaimanapun juga Hendra adalah suami dari wanita yang kini berada di dalam ruangan tersebut.
"ha-hallo d-den..."sapa pak beni terbata karena sekarang ia sangat gugup.
"bapak dimana? kenapa dari tadi tidak sampai sampai? istri saya baik-baik saja kan pak?" cerocos Hendra tanpa bisa menyembunyikan ke khawatiran nya.
"begini den, bapak sekarang lagi di rumah sakit aden datang ke rumah sakit 'Kembali sehat' ya saya tunggu" tut terdengar suara telpon dimatikan sepihak.
"pak tunggu pak, siapa yang sakit? kenapa saya harus kesana? pak? akhhh" Hendra segera menyimpan handphone nya di dalam saku dan segera ia raih barang yang ia anggap penting kemudian menuju ke rumah sakit 'kembali sehat' seperti yang di sebutkan oleh Pak Beni tadi.
"ini siapa yang majikan sih, perasaan yang lebih Judes tu pak Beni deh, dia yang matiin telpon sendiri dan di telpon kembali ga diangkat " omel Hendra ketika ia sudah berada di perjalanan menuju rumah sakit.
Sementara pak Beni belum juga bisa tenang apalagi pasti sekarang majikan laki-laki nya sedang di perjalanan menuju ke rumah sakit ini.
"maaf den, saya hanya tidak mau aden kenapa-napa di jalan karena khawatir jika sudah mendengar kabar dari saya" jawab Pak Beni jujur namun tidak sepenuhnya.
"memangnya apa yang terjadi pak? istri saya dimana? dia baik-baik saja kan?" cecar Hendra kepada supir yang bersama istrinya tadi.
"non Rara sekarang berada di ruangan itu pak" ujar pak Beni sambil menunjuk ruangan yang di maksud.
"tadi sewaktu non Rara minta berhenti untuk membeli batagor beliau ingin turun sendiri tapi saya melarang seperti perintah bapak. Namun sekembalinya saya dari membeli pesanan non Rara saya dikejutkan dengan kejadian sebuah mobil yang menabrak diri ke tuan" jelas pak Beni yang membuat lutut Hendra seketika lemes seakan menjadi jelly.
__ADS_1
"keluarga pasien..."ucap dokter yang keluar dari ruangan Rara.
"sa-saya suaminya dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Hendra dengan suara bergetar. Demi tuhan ia tidak sanggup jika terjadi hal yang tidak diinginkan kepada istri juga anaknya.
"mari pak, kita bicara di ruangan saya" ujar wanita paruh baya itu dengan lembut.
"begini pak, istri anda mengalami benturan yang cukup keras yang mengakibatkan ia mengalami pendarahan" ucap dokter wanita tersebut yang membuat Hendra kesusahan bernafas.
"te-terus sekarang bagaimana keadaan istri saya dok?" hanya itu kalimat yang bisa keluar dari Hendra walau sebenarnya banyak yang mau ia tanyakan.
"kandungan istri bapak sangat kuat sehingga ia bisa bertahan walau terkena benturan seperti itu. namun saya heran kenapa tangan dan punggung hingga leher istri anda membiru dan lebam. apakah...." tanya dokter seakan mengintrogasi Hendra.
"tidak dok, saya tidak pernah mengangkat tangan saya jika tujuannya untuk kekerasan kepada istri saya atau semacamnya. saya begitu mencintainya bahkan lebih dari pada diri saya sendiri " jawab Hendra yang bisa memahami kemana arah pertanyaan dokter tersebut.
"oh syukurlah pak, sekarang yang bisa kita lakukan adalah menunggu hingga pasien sadar. nanti akan ada pemeriksaan lanjutan. mudah-mudahan saja ia tidak begitu trauma dengan kejadian ini"
"baik dok, saya permisi dan terimakasih sudah membantu istri saya" ujar Hendra menjabat tangan dokter tersebut dan segera berlalu dari ruangan tersebut.
"Nanti kita akan bicara pak, sekarang saya mau menemani istri saya dulu" ucap Hendra kepada pak Beni ketika ia sampai di depan ruangan sang istri .
"baik pak" jawab Pak Beni singkat.
"sayang bangun, bilang sama mas apa yang sakit" ucap Hendra dengan memandang iba kepada sang istri yang terlihat lemah dan pucat.
__ADS_1
"pasti sakit sekali ya" ucap Hendra tanpa berani menyentuh tangan istrinya takut akan menyakiti melihat tangan Rara yang lebam dan membiru.
"bangun sayang, mas tidak tega melihat kamu seperti ini" ujar Hendra dan siapapun yang melihat keadaan itu secara langsung pasti tau bagaimana sayangnya laki-laki tersebut kepada wanita yang terbaring di depannya.