
Dan ternyata setelah kepergian Rara, Desi sang bunda Rara duduk termenung. tidak bisa di pungkiri bahwa Desi merasakan sakit atas apa yang dialami oleh putri nya. dan tanpa sadar ternyata mata seorang ibu tersebut mengeluarkan cairan bening. Tadi sewaktu Rara bercerita ia memendam emosi nya untuk tidak menumpahkan air mata.
"bunda kenapa nangis...?
ucap seseorang yang mengangetkan Desi dan orang itu adalah Umar sang suami yang baru pulang.
"Eh ayah udah pulang " sahut Desi langsung menghapus jejak air mata yang kini baru terasa basah.
"Kenapa bun? Kenapa bunda menangis atau masih ada yang sakit? Pertanyaan ayah belum di jawab. Apa yang membuat mu bersedia sampai mengeluarkan air mata?, " sambung Umar sambil duduk di dekat sang istri dan memberikan kecupan di kening wanita tersebut dan jangan lupakan tatapan khawatir dari pria itu.
Terdengar helaan nafas Desi yang mempersiapkan diri untuk memulai cerita.
__ADS_1
"Bukan yah, ini bukan masalah bunda dan ada hubungannya dengan sakit yang bunda alami namun sebagai seorang ibu bunda ikut merasakan sakit yah" ucapan Desi disertai dengan isakan kecil.
Ya seperti itulah seorang wanita apabila berada di dekat orang yang menjadi tumpuan baginya dia tidak akan bisa kuat apalagi menceritakan suatu yang menyesakkan.
" Rara yah, hati bunda begitu sakit mendengar cerita yang baru saja di lontarkan nya" Umar tidak menyahut apapun dia hanya memberikan usapan di bahu sang istri yang sudah menemaninya puluhan tahun.
"Kalau ayah boleh tau emang Rara cerita apa sama bunda?. Sampai membuat bunda sedih begini hmm?" Tanya Umar dengan nada lembut dan memaksa Desi untuk menatap matanya.
"Rara tadi cerita bahwa hubungan nya dengan nak Hara tidak bisa lagi di lanjutkan yah. Bukan hubungan mereka yang aku sayangkan tapi perasaan bunda sebagai seorang ibu ikut hancur melihat Rara terpukul dan tatapan matanya yang terluka " Desi kini sudah masuk ke pelukan sang suami dan tangisannya sudah membuat baju suaminya ikut basah.
Sebagai seorang ayah yang membesarkan putri nya dengan penuh kasih sayang tidak bisa di pungkiri bahwa sebagian hatinya ikut merasakan sakit.
__ADS_1
"udah ya bunda jangan sedih sedih lagi, bunda baru sakit dan dalam masa pemulihan. Ayah ga mau nanti bunda sakit lagi dan ayah merasa ga berdaya melihat bunda di pembaringan rumah sakit. Nanti ayah akan coba bicara dengan Rara guna menghibur dia. Sekarang kita ke kamar biar bunda bisa istirahat " ujar Umar sambil menuntun istri nya berdiri dan berjalan ke arah kamar mereka.
Dan tanpa sepasang suami istri itu tau ternyata Rara mendengar semua obrolan orang tuanya.
Tadinya Rara berniat mengambil handphone nya yang tertinggal di sofa tempat ia bercerita dengan sang bunda, namun harus tertunda karena ternyata sanga bunda sedang menangis di pelukan ayah.
Rara kembali menangis, ini bukan tentang soalnya dia dan Hara lagi.
Tapi di satu sisi dia merasa sangat beruntung terlahir dari orang tua seperti Umar dan Desi karena begitu sempurna menjadi orang tua dan juga saling mengerti sebagai pasangan.
Namun di sisi lain dia sedih karena mulai pesimis takut tidak akan mendapatkan laki-laki yang sama atau setidaknya mendekati kepribadian sang ayah.
__ADS_1
Karena dia sudah terbiasa di perlakukan dengan sangat baik oleh ayah sang cinta pertama nya.
"Ra, kamu kenapa?"