
Kami pun kemudian makan
Selesai makan aku dan mas Hara kembali ke rumah sakit lagi. Niatnya malam ini biar aku saja yang menjaga bunda dan besok aku akan izin ga masuk dulu. Namun sampai di ruangan kami di kejutkan dengan bunda yang sudah duduk dan juga bercerita dengan nada yang sebagaimana mestinya orang yang sehat ketika bercerita.
"Bunda, bunda udah baikan? Bunda tadi kenapa? Bunda ga tau aja gimana aku khawatir nya melihat keadaan bunda" ujar ku memeluk bunda dengan mata yang berkaca-kaca sudah ingin menumpahkan air mata.
"Hey bunda gapapa Ra, jangan berondong bunda dengan pertanyaan dong" kekeh bunda sambil mengelus kepala ku.
Namun aku tidak menjawab pertanyaan bunda tersebut, aku merasa lega dengan keadaan bunda saat ini.
"Udah Ra apa ga malu sama nak Hara, tuh di liatin lo" goda bunda karena aku yang tak kunjung melepaskan pelukan ku.
"Biarin aja bun, mungkin Rara masih shock dengan apa yang terjadi barusan " sahut mas Hara yang paham dengan apa yang aku rasakan.
"Maaf ya Ra, bunda udah buat kalian semua khawatir, sampai bunda masuk rumah sakit gini" ucap bunda bertepatan aku yang melepaskan pelukan ku.
__ADS_1
"Gapapa bun, tapi bunda tidak boleh capek capek lagi ya. Aku ga mau lagi liat bunda kek gini. Aku merasa ga berdaya melihat bunda seperti tadi" ujar ku masih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang iya maafin bunda ya"
"Waktu bunda kek gini ga ada satupun kami yang berada di samping bunda. Abang lagi ada pekerjaan di luar kota dan juga adik yang sedang ada acara tour sekolah nya" sambung ku dengan sedih
"Kan ada ayah sayang, bunda tau kalian ga bisa selalu ada untuk bunda. Bunda paham kalian juga ada kegiatan serta kesibukan masing-masing"
"Makanya bunda ingin kalian mendapatkan pasangan yang selalu bisa menemani kalian yang tidak hanya dalam keadaan suka saja tapi juga dalam keadaan duka. Karena sejatinya yang akan selalu bersama kita itu adalah pasangan bukan anak, karena anak pada masanya memiliki kesibukan dan juga kehidupan sendiri. Begitulah siklus kehidupan nak, bunda berharap nak Hara lah pasangan tersebut yang bisa selalu paham dan mengerti anak bunda yang cantik ini"
Aku melihat mas Hara menegang di tempat nya dan tidak lama kemudian tersenyum kaku.
"bukannya hanya nak Hara yang harus mengerti akan kamu nak. Tapi juga yang harus bisa memahami kondisi nak Hara, hanya hanya mau menang sendiri. Karena sesungguhnya hubungan itu bukan hanya tentang mengerti tapi juga dimengerti" sambung bunda lagi.
"Iya bunda iya insyaallah Rara akan belajar lebih mendewasakan diri lagi. Bagaimana pun keadaan nya nanti Rara akan coba mengerti dan apabila mas Hara melakukan kesalahan Rara akan coba berlapang dada menerima nya selama itu masih dalam batas kewajaran" ucap ku sambil memandang mas Hara, ku lihat mas hara tersenyum pada kalimat ku yang pertama akan tetapi langsung berubah ketika aku berbicara tentang kesalahan.
__ADS_1
Aku tidak mengerti dengan respon tubuh mas Hara mungkin saja dia saking terharu dan takutnya berbuat salah.
"sudah-sudah besok lagi di lanjut ngobrol nya. Biarin bunda dulu istirahat Ra. Bunda masih agak lemas tu" sahut ayah ingin segera mengakhiri pembicaraan kami agar bunda segera istirahat.
" eh iya bun, baiknya bunda istirahat aja biar cepat sembuh. Ayah pulang aja biar Rara yang jaga bunda disini."
"kamu aja yang pulang ra, bunda mau nya ayah yang nemanin" sahut bunda ga terima dengan saran ku.
"Mulai deh bucin nya" ucap ku dengan memutar bola mata dan tentu saja dalam hati .
Ayah tidak menjawab perkataan bunda, tapi aku tau ayah juga ingin seperti yang bunda bilang. Huh dasar sama aja.
"nak Hara bisa antarin Rara kan?" tanya ayah memastikan, ya walaupun jawabannya sudah dapat di prediksi.
mas Hara tidak menjawab tapi dengan sikap hormat seperti saat upacara hari senin serta sambil tersenyum sudah dapat mewakilkan semua nya.
__ADS_1
Akhirnya aku pulang diantar oleh mas Hara dan di tengah perjalanan
"Ra sebenarnya....