Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Melahirkan ll


__ADS_3

Tidak terasa perkiraan waktu Rara melahirkan tinggal tiga hari lagi, namun entah mengapa sejak zhuhur tadi Rara sudah merasakan mulas walau masih sesekali. Namun Rara tidak bilang kepada suami overprotektif nya itu bisa di bayangkan bagaimana paniknya Hendra.


"aw sabar ya sayang. udah ga sabar ya mau ketemu sama bunda dan ayah. udah ga sabar ya mau melihat dunia ini. sabar ya nak bentar lagi kita akan jumpa. kamu yang sehat ya dan juga harus kuat, nanti kita berjuang bersama oke" ucap Rara sambil mengelus lembut perut buncitnya yang kini tendangan dari sang anak sudah mulai mereda.


Rasanya Rara sudah tidak sabar menyambut kelahiran sang buah hatinya ini. ia begitu penasaran anaknya nanti akan seperti siapa. Akankah mirip ia atau justru mirip ayahnya. Namun mereka sengaja tidak mau mengetahui apa jenis kelamin baby mereka. Biar jadi kejutan kata Hendra kala itu.


Rara begitu antusias atas segala persiapan kelahiran sang anak pertamanya. Maklum untuk pertama kalinya ia akan memasuki fase baru dalam kehidupan yakni menjadi seorang ibu. banyak pelajaran yang baru ia ketahui sekaligus ia rasakan setelah kehamilannya.


"assalamualaikum sayang" ucap Hendra pelan tepat di telinga Rara yang menghentikan kegiatan Rara tadi yang di ikuti dengan tangan Hendra yang melingkar di perut buncit sang istri.


"eh mas waalaikumsalam, udah pulang kenapa ga kedengaran tadi" sahut Rara sambil memegang tangan Hendra yang berada di atas perut nya dan hendak membalikkan badan.


"eh ga usah balik badan sayang, kamu begini aja ya mas mau peluk dari belakang soalnya" ujar Hendra menolak lembut gerakan sang istri.


"mas ga mau kamu kecapean" lanjut Hendra dalam hati. iya lah dalam hati kalau di ucapkan secara langsung pasti di bilang lebay atau apalah sama Rara. Padahal Hendra hanya tidak ingin Rara banyak gerak dengan beban berupa perut buncitnya itu.


"mas kok diam aja? cape banget ya?" tanya Rara sambil terus mengelus tangan sang suami dan menyenderkan badannya dengan nyaman.


"ga kok sayang, mas lagi menikmati pelukan aja"sahut Hendra tidak sepenuhnya jujur karena dengan sekali melihat saja sudah nampak raut lelah terpatri di wajahnya.


"eh ga usah balik badan sayang, nanti kamu kecapean atau kesakitan gimana" sahut Hendra ketika kembali merasakan gerakan Rara yang ingin membalikkan badan menghadap ke arah nya.

__ADS_1


"ih mas hanya balik badan lo bukan tengkurap" ujar Rara dengan memutar bola matanya. kesal dengan sikap overprotektif sang suami. Rara tau sih itu merupakan bentuk kepedulian Hendra tapi ga selebay itu juga kan. hadeh.


"mas aja yang pindah ok, biar kamu ga usah balik badan" ujar Hendra cepat pindah dari belakang Rara mengabaikan wajah cemberut sang istri.


"kenapa tadi mau balik badan? ada yang mau di omongin sama mas? atau mau curhat gitu?" tanya Hendra bertubi-tubi sambil meraih tangan Rara lembut dan mengecup nya pelan.


seketika kesal Rara hilang karena perlakuan sang suami yang membuat ia merasa di cintai dan di perlakukan baik dalam waktu yang bersamaan. Kadang Rara berfikir kebaikan apa yang telah ia lakukan sehingga dikirimkan laki-laki sebaik suaminya ini. Ia begitu merasa di istimewakan walau dengan tindakan tindakan kecil seperti sekarang ini.


"kok malah bengong sayang? kenapa ada yang menganggu pikiran kamu? atau ada yang sakit?" ucap Hendra lagi yang kini memandang sang istri dengan tatapan hangat seperti biasanya.


"ga kok mas, makasih ya mas udah mau menerima aku dan memperlakukan aku dengan baik" ujar Rara menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca.


"suuuttt kamu ngomong apa sih sayang, kamu kan istri aku jadi udah sebuah keharusan bagi aku untuk membahagiakan kamu malah kalau bisa mas mau meratukan kamu. jadi ga boleh ngomong kek gitu lagi ya" ujar Hendra sambil membawa Rara ke dalam pelukannya yang membuat Rara semakin mengeraskan tangisnya.


"mas memang mencintai kamu Ra, walau mas ga bisa memastikan hal yang sama untuk mas dari kamu, tapi mas janji akan membuat kamu juga mencintai mas dan mas akan bersabar untuk menunggu hingga saat kamu juga bisa menerima dan mencintai mas" ujar Hendra sungguh-sungguh yang membuat Rara semakin tergugu di pelukan sang suami.


"maaf mas" hanya itu yang bisa Rara katakan, dia memang sudah merasakan nyaman di samping Hendra bahkan sangat. Namun dia masih memerlukan waktu untuk memastikan bahwa itu benar perasaan suka atau hanya hormat kepada suaminya.


"udah ya sayang ga perlu minta maaf, mas akan sabar menunggu dan jangan nangis lagi, nanti kepala kamu pusing gimana. kamu mau baby kita ikutan pusing nantinya" perkataan Hendra sontak membuat Rara memukul pelan dada sang suami.


"teori dari mana coba mas, sekali pun aku benaran pusing ga mungkin baby ikut pusing kan" jawab Rara sambil terkekeh walau masih ada air mata di pipinya.

__ADS_1


"nah gitu dong sayang senyum, kita ga usah melow atau sedih sedih ya. kamu ga boleh banyak pikiran oke. ingat baby kita" ucap Hendra sambil menangkup wajah sang istri dan di akhiri dengan kecupan yang ia labuhkan di bibir Rara.


Malam kembali manyapa penduduk bumi di beberapa bagian belahan. Kini Rara sudah tertidur lelap setelah setengah jam yang lalu di pijit pelan oleh Hendra. Kegiatan itu sudah seperti rutinitas bagi pasangan suami istri itu belakangan ini. Hendra dengan sabar memijit bagian tubuh sang istri yang dikeluhkan pegal hingga Rara tertidur seperti sekarang ini.


"maaf ya sayang kamu jadi kesakitan dan kecapean seperti ini. dan makasih juga kamu udah menjadi ibu yang hebat untuk anak kita" ucap Hendra memandangi wajah sang istri yang posisinya sedang menghadap Hendra.


Wajah Hendra tiba-tiba menjadi pias mengingat obrolan mereka sebelum Rara tertidur tadi. Rara sempat bertanya bagaimana jika nantinya ia tidak selamat ketika melahirkan sang buah hati mereka apakah ia akan menikah lagi dan berbagai macam pertanyaan yang rasanya tidak perlu di bahas menurut Hendra.


Hingga akhirnya ia bisa mengalihkan pembicaraan yang berakhir membuat Rara tertidur. walau akhirnya ia yang kepikiran seperti ini, sebenarnya ia juga bukan tidak khawatir bagaimana keselamatan kedua orang yang begitu dicintai nya ini. Bahkan awalnya ia menyarankan agar Rara melakukan operasi sesar saja, namun itu di tolak oleh Rara dengan dalih selagi ia sehat dan mampu untuk normal ia mau melahirkan normal. Hendra bisa apa kalau istrinya sudah punya keputusan seperti itu apalagi alasannya logis dan masuk akal. Tapi yakinlah itu semua karena mau menjamin keselamatan sang istri dan juga anaknya.


Tanpa sadar Hendra terlelap sambil memandangi istrinya. Hingga tengah malam tidur Hendra kembali terusik dengan ringisan yang berasal dari sampingnya.


"kenapa sayang, ada yang sakit?" tanya Hendra sambil mengucek matanya dan mengumpulkan kesadarannya.


"aw mas isshhh...."


"sayang kenapa kamu ngompol, kan biasanya bangunin mas dulu. udah ga tahan ya" ujar Hendra yang belum sepenuhnya sadar. Tidak ada sedikitpun rasa marah melihat sprei mereka yang udah basah sebagian, ia maklum.


"aku ga ngompol mas tapi kek nya aku udah mau melahirkan iiissshhh" ringis Rara di ujung kalimatnya.


"oh melahirkan ya udah ayok sini mas bantu ke kamar mandi" sahut Hendra Santainya sambil berdiri dari tempat tidur.

__ADS_1


"Eh apa sayang. MELAHIRKAN "


__ADS_2