Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Rafa (lagi)


__ADS_3

"Bagaimana apakah dia sudah didalam" tanya Hendra yang sebenarnya itu adalah pertanyaan retoris yang tak perlu di jawab oleh anak buahnya.


"Sudah tuan" jawab seorang yang berbadan tegap dan menggunakan kostum hitam-hitam.


"apa kabar?" sapa Hendra dengan tatapan membunuh ketika sudah berada di hadapan orang yang sudah membuat istrinya kesakitan hari ini dan bahkan hampir membahayakan keselamatan bayi mereka.


pertanyaan itu membuat orang yang dimaksud Hendra mendongak kepala karena tadi ia di pukuli karena melawan saat hendak di bawa. Seketika ia menegang di tempatnya. seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Kenapa dia ada disini? astaga aku ga salah sasaran lagi kan? ken...."batin orang yang sekarang semakin menegang di tempatnya namun terhenti karena sebuah bogeman menyapa pipinya kembali dan berlabuh di atas luka yang masih terasa nyeri nya.


"BUGG, itu untuk kamu yang membuat sakit istri saya seperti sekarang"


"BUGG, itu untuk keselamatan anak Saya yang kau permainkan"


"BUG BUG BUG BUG BUG, itu untuk kemarahan saya sebagai suami kepada orang yang sudah menyakiti istri saya dan hampir membahayakan anak saya" ujar Hendra membabi buta menjadikan orang tersebut sebagai samsak.


Hendra benar-benar meluapkan emosi yang beberapa saat lalu ia tahan.ia sangat frustasi melihat keadaan Rara dan Ia tidak tau harus berbuat apa ketika melihat tubuh istinya yang rapuh dan di penuhi memar yang membiru. Ingin rasanya ia membunuh pelaku di balik kecelakaan itu. Namun ia kembali di sadarkan bahwa kini sang istri tengah hamil, jadi ia tidak mau hal itu terjadi.


"ma-maaf ba-bang uhuk uhuk" ujar orang tersebut terbatuk yang menyadarkan Hendra dari berbagai pikiran berkecamuk nya.


"maaf kamu bilang, apa maaf kamu bisa menyehatkan istri saya seketika?, apa maaf kamu bisa membuat hilang trauma istri ku akan takut kehilangan janinnya? BUG BUG" cecar Hendra sambil melayang tinju nya kembali.

__ADS_1


Sungguh Rafa baru melihat sisi Hendra yang menyeramkan seperti ini, ya dalang di balik kecelakaan yang di sengaja itu adalah Rafa. selama ini Rafa hanya melihat sosok yang dewasa, penyayang dan juga selalu mengayomi. Namun sekarang di hadapannya ini adalah sosok iblis yang kapan saja siap menghabisi nya dan jangan lupakan anak buahnya yang akan siap sedia hanya menunggu perintah saja.


Awalnya Rafa melakukan perbuatan itu karena murni mengincar Hendra, tidak ada sedikit pun niatnya untuk mencelakai Rara apalagi membuat keselamatan nya terancam. Bahkan Rafa sudah merancang semuanya dimana setelah ia melenyapkan Hendra, ia akan menikahi Rara masalah anak yang berada dalam kandungan Rara menerima nya bukan hal yang sulit. Sungguh Rafa rela menjadi ayah dari anak itu jika seandainya. ah sudahlah.


"apa yang membuat kamu melakukan ini?" tanya Hendra masih dengan dada yang naik turun, karena emosi yang belum stabil."maaf bang, aku benar-benar ga tau kalau yang berada dalam mobil itu adalah Rara bukan abang" jawab Rafa dengan wajah menunduk. entah kemana keberanian yang sudah ia persiapkan tadi ketika di bawa kesini.


"jawab apa yang membuat kamu melakukan perbuatan itu kepada istri saya?" ujar Hendra dengan Suara yang bergetar. Tiba-tiba ia ingat tentang kondisi Rara saat ini. Namum ia harus berlaku kuat di depan Rafa yang mulai saat ini ia anggap musuh.


Sedangkan Rafa hanya terpaku di tempatnya, dia bingung harus menjawab apa. karena biar bagaimanapun ia adalah orang paling bersalah terhadap Rara.


"jawab bangsat, kenapa kamu malah diam saja. kemana keberanian mu seperti tadi ketika menabrak mobil ku? BUG" tanya Hendra yang di sertai Bogeman. lagi.


Tanpa kata Hendra memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan pada tubuh Rafa. Kode itu langsung di mengerti oleh sang anak buah.


"awalnya aku tidak tau bahwa istri mu adalah wanita yang aku inginkan. sebenernya salah ku juga sih tidak dengan cermat melakukan jebakan kemarin. hingga akhirnya aku menyesal setelah melihat kebersamaan kalian. namun aku tidak patah arang lagian apa pun kondisi Rara aku menerima nya."terang Rafa yang membuat Hendra kembali mengepalkan tinju.


"Terbesitlah sebuah rencana dan kejadian hari ini adalah jawaban. sedikit pun tau aku tidak tau bahwa yang berada di mobil itu adalah Rara, karena biasanya itu adalah mobil kesayangan mu yang selalu ikut membersamai mu. Namun setelah melihat keadaan dan mendengar cerita mu, harapan ku tumbuh kembali. Lebih bagus kan kalau anak kalian itu mati lal..." perkataan Rafa tidak berujung karena kali ini tendangan menyapa perutnya.


"Bajingan, keparat aku tidak akan membiarkan mu hidup Lagi " ucap Hendra memukuli Rafa membabi buta, ia benar-benar emosi mendengar kalimat terakhir lawan bicara nya.


"sudah tuan, dia bisa mati jika seperti itu. ingat nyonya sedang hamil saat ini" ujar Rio mengingatkan sang tuan. Rio memang dekat dengan Hendra hingga ia berani menghentikan kemarahan tuannya itu.

__ADS_1


Belum puas melihat keadaan Rafa sebuah tendangan kembali melayang di perut rafa hingga menyebabkan ia terbatuk yang mengeluarkan darah.


"Selidiki usaha yang saat ini tengah di jalankannya. kau tau kemana arah kalimat ku ini" titah Hendra yang membuat Rio menganggukkan kepala dengan cepat.


Sedangkan keadaan Rafa yang sudah berada di ambang bata kesadaran masih sempat menegang di tempatnya. Itulah kalimat terakhir yang sempat Rafa dengar sebelum kegelapan menyapanya.


"Bawa ia ke rumah sakit, jangan lupa untuk yang tadi" ujar Hendra sebelum meninggalkan ruangan tersebut yang membuat semua anak buahnya menundukkan kepala hormat. Sungguh semarah apapun Hendra ia sebenarnya tidak sekejam itu menghabisi Rafa dan membiarkannya mati.


***


Segera Hendra melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tidak ada tujuan selain rumah sakit tempatnya istinya sekarang di rawat. sebenernya ia begitu khawatir dengan Rara yang ia tinggalkan bersama bulan, walau sahabat Rara namun ia tidak bisa percaya sepenuhnya.


Tiba di depan ruangan sang istri Hendra di sambut oleh pak Beni yang langsung berdiri, memang tadi Hendra memerintahkan pak Beni untuk selalu berada di depan ruangan Rara. jaga-jaga kalau Rara memerlukan sesuatu atau mau makan sesuatu. Hendra membuka pintu dengan pelan karena takut jika Rara tengah tertidur makan akan menganggu.


"Pak tolong antarkan teman istri saya dengan selamat!" pinta Hendra yang segera di iyakan oleh sang supir.


Kini di ruangan itu hanya tersisa sepasang suami istri setelah kepulangan Bulan yang mana Hendra sempat sedikit berbasa-basi dengan sahabat istri nya itu, bagaimanapun Hendra berterimakasih kepada bulan yang telah menjaga Rara selama ia pergi. Walau Bulan tetap aja grogi dan sedikit tidak nyaman di hadapan suami sahabatnya itu.


Hendra yang kini memandangi Rara, seakan ketika ia mengalihkan pandangan Rara akan hilang dalam sekejap mata.


"makasih ya Ra, kamu udah menyelematkan anak kita dan maaf kamu ga bisa berbagi sakit dengan mas. Kalau bisa biar mas saja yang merasakannya jangan kalian.Namun akan mas pastikan Rafa akan menuai apa yang telah ia perbuat" kata Hendra lirih tanpa menyentuh Rara takut itu akan membangun sang istri dan yang lebih parah akan menyakiti Rara

__ADS_1


__ADS_2