
"Oh iya Lan hampir lupa, aku mau ngasih tau sesuatu sama kamu" Rara menggigit bibir untuk meredakan kegugupannya.
"apa Ra? kamu udah mendapatkan pengganti si brengsek Hara itu. Dan kalian udah pacaran gitu?" tanya Bulan dengan antusias.
Rara meringis mendengar perkataan Bulan yang tidak salah namun tidak juga benar sepenuhnya.
"Lan Minggu depan aku akan melaksanakan pernikahan, tepat nya resepsi " ujar Rara yang masih menggigit bibir karena kegugupan masih mendera nya.
Namun walau ia gugup ia tetap mampu untuk mengambil semua undangan dan menyodorkannya kehadapan Bulan, yang sampai saat ini masih melotot karena belum yakin dengan pendengarannya namun dipatahkan dengan keberadaan undangan berpita dan berwarna hitam di hadapannya sekarang.
Dengan gerakan patah patah Bulan mengulurkan tangan untuk meraih undangan tersebut.
"Gila kamu Ra, aku baru menebak kamu sudah ada pacar baru. namun yang terjadi malah melebihi apa yang aku ekspektasikan. bukan hanya sekedar pacar tapi langsung suami. bravo. kamu hebat Ra " ujar Bulan dan tidak lupa seraya tepuk tangan yang membuat kelegaan segera menyapa Rara.
Rara hanya menyikapi itu dengan senyuman yang mungkin terlihat aneh. namun ia sudah berusaha untuk menampilkan senyum terbaik. tapi ia rasa ia gagal.
Tangan Bulan terulur untuk membuka undangan berpita tersebut yang nampak mewah dengan warna hitamnya dan disempurnakan dengan tulisan gold keemasan tersebut.
Dengan perlahan Bulan menarik pita pada undangan tersebut entah mengapa ia jadi berdebar. Bulan benar-benar kagum dengan desain undangan yang memberikan kesan elegan dan mewah dalam waktu bersamaan.
Tertulis disana nama Rani Anggraini sebagai mempelai wanitanya dan Hendra Mahardika sebagai pasangannya.
"Wah selamat ya Ra, aku turut bahagia atas sold out nya dirimu"kekeh Bulan di ujung kalimatnya.
"ya elah macam barang aja sold out Lan" ujar Rara merenggut tak terima.
"Eh kalau boleh tau gimana sih awal kalian jumpa?" tanya Bulan memulai sesi interogasi nya.
Ingatan Rara seketika melayang kepada pertemuan mereka di cafe waktu itu yang memang tidak berkesan sama sekali. Rara meringis mengingat nya.
"ayo dong Ra, ceritain gimana kalian kenalan pertama kali dan sampai akhirnya kalian terikat dalam hubungan ya sah seperti ini?" yang kali ini ke-kepo an Bulan sudah maksimal.
__ADS_1
Cerita mengalir dari berbagai runtutan kejadian sejak saat pertama kali mereka berjumpa, pertemuan mereka yang beberapa kali hingga akhirnya peristiwa sore di kala hujan ketika akan jumpa dengan Bulan yang berakhir dengan "di tangkap nya" mereka hingga sekarang mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.
Rara mengamati ekspresi Bulan yang tampak melongo dengan cerita Rara juga sesekali melotot matanya.
"Ra jangan bilang kamu nikah sama ....
"ya benar Lan, aku memang menikah dengan laki-laki yang selalu aku bilang dingin, kulkas dan berbagai kata sejenisnya " ucap Rara menyela Bulan ketika sudah tau kemana arah pembicaraan tersebut
"Astaga tega kamu Ra, kamu memukul aku mundur sebelum maju" ujar Bulan dengan ekspresi nelangsa yang di buat buatnya.
"ck ck udah deh Lan, ga usah drama. Apa Rizki belum cukup untuk kamu" Rara memutar bola mata jengah atas perlakuan sahabatnya.
"eh kalau mas Rizki kan untuk serius nanti kalau yang lainnya kan hanya candaan. ye elah serius amat lo. tapi kalau modelan mas yang seperti mas Hendra juga kek nya aku mau deh" Lagi lagi Rara menggelengkan kepala merespon jawaban Bulan.
Disinilah Rara sekarang berdiri bersama sang suami disampingnya untuk menyambut tamu dengan senyum Hendra yang dari tadi tidak luntur sama sekali malah semakin lebar. Rara heran apa yang membuat sang suami nya itu begitu bahagia sedang ia bukannya tidak bahagia namun tidak seperti Hendra juga.
Dekorasi resepsi pernikahan mereka ini tidak bisa di bilang sederhana namun tidak juga berlebihan namun Rara tau bahwa untuk mewujudkan konsep yang sedemikian rupa merogoh kocek yang tidak sedikit. Biarlah toh acara seperti ini hanya terjadi sekali seumur hidup dan lagian suaminya juga tidak akan bangkrut kan hanya dengan melangsungkan pernikahan dengan konsep yang di impikan Rara. Secar dia kan CEO dari HM Grup yang keberadaannya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Belum sempat Rara menjawab perkataan sang suami sahabat hebohnya sudah berlari menghampiri Rara.
"wah selamat ya Ra, semoga keluarga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah dan yang paling penting kalian mudah-mudahan bisa sehidup dan sesurga." do'a Bulan yang diamini oleh kedua mempelai tersebut.
Setelah mengucapkan do'a tersebut Bulan Berjalan ke arah meja meja tempat makanan dihidangkan karena dibelakangnya masih antri untuk memberikan selamat kepada kedua pengantin. entahlah padahal tadi waktu dia datang ga ada tuh yang antri. Bulan sebel sendiri karena hanya sempat bersalaman dengan Hendra laki-laki yang sudah sah menjadi suami Rara. padahal kan ia mau lebih lama berbincang tadi. Dasar Bulan.
"kamu nunggu seseorang mas?" tanya Rara yang seakan bisa memahami kegelisahan Hendra. Apa jangan-jangan suami khawatir kepada Hara yang tadi hanya datang sebentar kalau ibarat kata mah asal nampak aja batang hidungnya. Hara berdalih bahwa Yelsi tidak boleh berdiri terlalu lama. padahal disana disediakan kursi. memang Hara tidak pintar mencari alasan.
"eh ga kok Ra" jawab Hendra cepat. apa begitu kentara ya jika ia sedang menunggu seseorang yang kedatangan sudah ia harapkan sejak tadi.
Orang yang di tunggu Hendra adalah Rafa, ya tidak salah lagi Rafa rivalnya Hara. Awalnya Hendra tidak menginginkan Rafa untuk hadir bahkan ia juga sudah merencanakan agar Rafa tidak perlu tau bahwa ia dan Rara sudah menikah mengingat betapa obsesinya rafa kepada istrinya. ia jadi geram sendiri.
Namun setelah berfikir ulang Hendra bukanlah pria pengecut yang menyembunyikan pernikahan bahkan di depan orang yang terang terangan ingin memiliki sang istri. Bahkan ketika nanti Rafa datang Hendra akan mengucapkan terimakasih kasih karena tanpa Rafa ia tidak akan bisa menikah secepatnya ini dengan Wanita yang sudah menjadi istri nya kini.
__ADS_1
"mas kamu kenapa sih?" tanya Rara heran karena sang suami menampilkan berbagai ekspresi dan bisa bertukar dalam waktu yang singkat. Namun Hendra hanya menjawab dengan gelengan dan Senyum manis yang membuat Rara sempat lupa untuk bernafas. ya elah lebay bat dah. wkwkwk.
Namun sampai pesta berakhir Rafa tidak juga menampakkan batang hidungnya.
"kamu benar ga capek Ra? kalau kamu capek gapapa. kuta bisa undur acara malam ini" ucap Hendra yang membuat Rara seketika melototkan matanya.
"ga usah aneh aneh deh mas, emang nas pikir ga pake uang untuk menyiapkan semua ini" kesel Rara.
"uang masih busa di cari Ra, tapi mas ga mau kamu capek "
"aku ga capek mas, lagian kan kalau ada apa-apa mas ada di dekat ku" senyum merebak seketika di bibir Hendra mendengar perkataan sang istri.
"Ternyata benar katanya mas Hendra, capek banget. tapi kenapa tadi ga kerasa ya" Rara kini telah membaringkan diri di peraduan yang rasanya sangat nyaman dan empuk.
Sementara suaminya kembali keluar setelah mengantar Rara ke kamar mengobrol dengan rekan kerjanya.
Malam semakin larut barulah Hendra bisa kembali ke kamar mereka karena begitu banyak rekan bisnis yang menghadiri peringatan hari penting perusahaan karena Hendra cukup populer di kalangan orang bisnis yang terkenal dengan keuletan dalam berbisnis.
Senyum Hendra terukir setelah melihat penampakan istrinya yang begitu pulas masih dengan menggunakan gaun pesta. Padahal tadi Hendra sudah berpesan agar mengganti baju terlebih dahulu agar tidur nya nyaman. Hendra menatap kasihan kepada sang istri yang begitu nampak kelelahan mungkin karena itu juga belum sempat mengganti baju langsung tertidur.
"Ra bangun dulu, ganti baju baru lanjut tidur lagi" ucap Hendra sambil menyentuh lembut bahu Rara yang dibalas dengan gumaman khas bangun tidur oleh Rara.
"m-mas a-apa kamu tidak ingin meminta hak mu?" tanya Rara dengan terbata sekaligus dengan menundukkan.
"mas ga akan memaksa Ra, mas akan tunggu kamu siap" jawab Hendra lembut sambil tersenyum.
"a-aku....
"ga usah dipaksa Ra, mas paham kok" jawab Hendra masih dengan tersenyum.
"ta-tapi aku benar siap kok mas, dan kamu juga berhak atas itu" jawab Rara yang kini sudah mampu melihat wajah Hendra dengan muka yang memerah.
__ADS_1