
Namun ketika mendongak kepala senyum itu langsung pudar berganti dengan wajah datar dengan tatapan tajam.
Jujur Rara baru melihat ekspresi itu setelah mereka menikah. Hendra tidak pernah memberikan tatapan melainkan tatapan hangat nan penuh cinta.
"ngapain kamu kesini?" tanya Hendra dengan santai namun siapapun yang mendengarnya akan merinding.
"mas kamu kenapa, kan mas udah tau kalau bulan mau berkunjung sekalian untuk menjenguk Arsyi" ucap Rara menghampiri sang suami dan mengelus lengannya.
Terdengar Helaan nafas dari Hendra yang seakan kini tengah mengontrol emosinya.
Bulan dan Rafa tidak tau harus berbuat apa. Ya Bulan tidak datang sendiri namun ia bersama dengan Rafa, laki-laki yang sempat menjadi korbannya walau tanpa sengaja. Namun sekarang status mereka sudah lebih dari rasa bertanggung jawab namun mereka sudah terikat dalam hubungan yang lebih serius semenjak Dua bulan yang lalu.
Ternyata bulan yang barbar, ceplas-ceplos dan apa adanya membuat Rafa jatuh cinta dengan mudah dan sekarang ia sudah bisa melupakan obsesi kepada Rara. Yang mana ketika melihat Rara sudah biasa biasa saja bahkan ia sempat berpikir betapa bodohnya ia dulu dengan segala tindakannya yang diluar nalar demi untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
"maafkan saya bang, saya tau tindakan saya kemarin sudah di luar batas dan sulit untuk di maafkan namun saya benar-benar merasa bersalah" setelah diam menyelimuti beberapa saat akhirnya Rafa memberanikan diri untuk berbicara lebih dulu.
Bulan menunduk menunggu jawaban Hendra yang sebentar lagi pasti akan kembali mengamuk. Karena walau tidak begitu kenal dengan Hendra Bulan tau bahwa Hendra adalah orang yang tidak main jika itu menyangkut dengan orang yang ia sayangi. apalagi ini menyangkut nyawa sang istri yang sempat kemarin dipermainkan oleh Rafa walau tidak sampai kejadian.
Lama menunggu namun tetap tidak ada balasan Bulan memberanikan diri untuk mengangkat pandangan. Wajah Hendra tidak berubah dari tadi walau ketika Arsyi melihat ke arahnya ia akan tersenyum. Berbeda halnya dengan Rara ia begitu bingung dengan kondisi sekarang ini.
"kita makan aja dulu yok, nanti malam semakin larut" ujar Rara memecah keheningan walau ia sendiri masih bingung dengan keadaan ini. Namun tidak mungkin bukan ia membiarkan tamunya terus berdiri meski banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Mereka mengikuti langkah Rara dengan diam, entah lah semenjak tadi hanya Rara yang bersikap seperti biasa sedangkan Bulan ikut merasakan ketegangan diantara kedua laki-laki tersebut.
"Ayo Lan silahkan makan anggap aja kek makan di rumah bunda kemarin dan untuk mas-nya juga jangan sungkan"ujar Rara sambil tersenyum yang hanya di balas Bulan dengan senyuman kaku sedangkan Rafa hanya anggukan.
"mas mau makan duluan atau gimana?" tanya Rara yang kali ini kepada suaminya.
"kamu aja yang makan duluan sayang, biar aku yang menjaga Arsyi" jawab Hendra dengan senyum seperti biasa yang membuat Rara menyendok nasi untuk mereka makan bersama. yang membuat Bulan sedikit lega karena dari tadi ia memperhatikan ekspresi dari Hendra.
"untung ada Rara disini, kalau kagak beh bisa bonyok si rapa. hadeh" Batin Bulan.
Karena ia juga bisa melihat dari tadi Hendra benar-benar berusaha untuk mengontrol emosinya.
Setelah mereka makan dalam keadaan diam mereka semua kembali ke ruang tamu.
"sayang kamu bawa Arsyi dulu ke kamar ya, sepertinya dia udah ngantuk. iya kan sayang" ujar Hendra yang masih sempat ngomong sama putrinya.
__ADS_1
"oh iya mas, Lan seben....
"aku ikut kamu menina bobokan Arsyi ya Ra, kan aku belum pernah jumpa secara langsung sama dia" ujar Bulan mencari alasan agar menyelamatkan diri dari perang yang sebentar lagi akan terjadi.
"oh gitu ya udah ayok" jawab Rara yang masih terkejut, karena tadi ia sudah berencana pamit sebentar taunya Bulan mau ikut dengannya.
"sebentar ya mas" Bulan pamit kepada Rafa namun dengan nada mengejek, karena seumur umur dia belum pernah panggil mas kepada Rafa. Sementara Rafa hanya melotot tidak percaya akan perkataan Bulan.
"are you kidding me, bantuin gue woy. katanya tadi mau di hadapi bersama" Rafa berbicara dari mata yang kira-kira artinya seperti itu.
"selesain sendiri, kan yang buat masalah situ" namun dengan jahatnya bulan berputar haluan jika sudah tiba di lapangan. Aih tidak setia kawan. eh pacar.
Setelah kepergian ketiga wanita itu Rafa tiba-tiba Tremor. entah kemana keberaniannya yang dulu seakan sekarang tidak ada lagi yang tersisa sedikitpun.
"b-bang aku ben...
"jika kamu merasa dengan memperalat Bulan dengan memanfaatkan persahabatan mereka kamu bisa mendekati istri saya, maka itu tidak akan pernah berhasil. saya bisa pastikan itu " ucap Hendra memotong pembicaraan orang yang membuat kemarahan Hendra seakan berada di ubun-ubun jika mengingat semua kejahatan yang pernah menjadi teman anak angkatnya itu.
Setengah jam berlalu Rafa berusaha meyakinkan laki-laki yang tidak berbeda jauh usia dengan nya itu namun seperti tidak ada niatan Hendra untuk memberikan maaf atau sekedar melunakkan ucapnya.
"saya mohon maaf sekali lagi bang, saya memang merasa bersalah sangat. Dan saya sudah disadarkan Bulan dan saya janji tidak akan pernah mengulangi perbuatan itu" memang terdengar seperti janji anak-anak namun itu memang berasal dari dalam hati Rafa. Ia benar-benar menyesal sekarang.
"kok tegang benar mas, lagi ngomongin apaan?" tanya Rara yang langsung mengambil tempat duduk di sebelah Hendra sedang Bulan hanya mengikuti kemana Rara pergi hingga Rara duduk.
"ga sayang, biasa urusan cowok" jawab Hendra sambil merangkul bahu sang istri.
"ya sudah, udah malam juga kami pamit kalau gitu bang" pamit Rafa yang hanya diangguki oleh Hendra.
Rafa segera berdiri dari tempat duduknya berniat untuk segera pergi.
"ah eh kok gue di tinggal sih, tungguin woy" teriak Bulan yang langsung nyengir melihat Hendra merotasi matanya.
"ya udah ya Ra, mas aku pamit dulu. nanti aku main lagi pasti Ra" ujar Bulan sambil berlari mengejar Rafa yang sudah berada dekat dengan mobilnya.
"woy tungguin elah, pake acara ngambek segala lagi" Bulan langsung saja duduk di kursi yang tadi ia duduki saat akan ke rumah Rara.
"maapin dah, lagian lan bagus kalau cuma kalian berdua yang ngomong jadi sesama cowok gitu, di tambah lagi gue kan takut kalau menjadi saksi mata perang itu." ujar Bulan yang mendapat benjolan di kening karena tiba-tiba Rafa rem mendadak karena ada kucing lewat.
__ADS_1
"bangcad ya lo"
"maap kan ada kucing lewat " jawab Rafa dengan muka polos tanpa ada rasa bersalah.
***
Hari ini merupakan week end, dan Hendra dari tadi hanya malas-malasan sambil menjaga putri nya, Arsyi di ruang tamu. Sementara Rara saat ini sedang di salon untuk melakukan berbagai treatment.Hal memang merupakan paksaan dari Hendra.
"bunda kok lama ya nak, sebentar lagi kan Arthur mau datang" celoteh Hendra yang di jawab oleh ketawa dari sang putri.
Arthur adalah putra dari Hara, anak angkat Hendra. Ya mereka memang ada janji untuk kumpul untuk hari ini.
"assalamualaikum" sapaan dari pintu utama menghentikan kegiatan Hendra.
"waalaikumsalam masuk Har" jawab Hendra sambil bangkit dari posisi berbaring menjadi duduk.
Setelah mereka semua duduk barulah Rara datang dengan menenteng kue dari sebuah toko kue ternama.
"eh udah pada datang, maaf terlambat" ujar Rara seakan tidak ada beban lagi berhadapan dengan mantan kekasihnya itu.
Ya hubungan mereka memang sudah seperti keluarga pada umumnya, baik Rara ataupun Hara sudah bisa melupakan hubungan yang sempat terjalin diantara keduanya. Kini mereka sudah bisa menerima takdir masing-masing.
Terutama Hara ia sudah bisa menerima Yelsi sebagai istri dan bisa di bilang ayah sau anak itu sudah mulai Bucin kepada sang istri. semua itu merupakan buah kesabaran Yelsi dalam menerima dan menemani proses Hara.
Begitulah kehidupan tidak ada yang tau kita akan berakhir seperti apa. Hara dan Rara yang dulunya nyaris bersatu namun ternyata memiliki jalan yang tak biasa hingga akhirnya memiliki kehidupan masing-masing seperti sekarang.
"oh ya pa, aku sekarang harus manggil papa atau abang aja?" tanya Hara yang membuat seisi ruangan mengalihkan pandangan.
"karenakan jarak umur diantara kita tidak begitu jauh, apalagi sekarang anak aku lebih besar dari Arsyi" lanjut Hara yang diangguki oleh semua orang.
"hmmmm benar juga sih, tapi aku rasa biar saja begitu tidak ada yang perlu di ubah. Biar cocok gitu dengan judul dan tidak melenceng" jawab Hendra enteng tanpa beban yang membuat seisi ruangan tertawa hingga kedua baby pun ikut-ikutan.
END.....
Terimakasih untuk semua yang udah mau membaca tulisan yang jauh dari kata menarik ini, namun walau begitu jangan di hujat ya gaes karena meski tulisan ini ala kadarnya kadang membuat pikiran terkuras juga. Belum lagi mikirin tugas kuliah ye kan😂
Pokoknya makasih ya guys udah mau mampir, mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan di hati pembaca atau ada kata yang menyinggung. Sama sekali tidak bermaksud.
__ADS_1
love you all 🥰❤️