Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
apa yang kalian lakukan


__ADS_3

"maaf om, tante pagi-pagi saya datang bertamu. saya berniat untuk menjemput Rara untuk berangkat bekerja " ucap Hendra dengan sedikit gugup yang coba dia tutupi.


karena dia baru pertama kali mendekati perempuan dengan cara seperti ini.


"tapi...


"Udah Ra berangkat aja, ayah kek nya ga bisa ngantar deh. ada urusan tiba-tiba " ujar Desi yang seakan mendukung tindakan Hendra tersebut. Dia ingin melihat anaknya kembali bahagia dan tidak terpuruk dengan kenangan pahit yang dulu.


Singkatnya sekarang mereka telah di dalam mobil menuju kantor tempat Rara bekerja dan dia tidak mengetahui bahwa itu adalah kantor Hendra dalam artian yang sesungguhnya.


"sa-sa....


tring tring tring...


Bunyi suara handphone Rara menghentikan ucapan Hendra yang gugup sebelumnya.


huh... helaan nafas Hendra terdengar sedikit gusar atas kegugupan nya. jujur saja ia lebih memilih menghadapi client memperebutkan tender dari saat sekarang ia ingin memulai obrolan dengan Rara.


"maaf ya mas, kawan ku menelpon sehingga memotong ucapan mas" ujar Rara yang nampak menyadarkan Hendra dari lamunannya.


"oh iya ya" sahut Hendra datar


"mas tadi mau ngomong apa?" tanya Rara yang masih penasaran.


"oh ti-tidak, saya sudah lupa" ucap Hendra sambil merutuki diri nya sendiri yang begitu lemah dan tidak bermental untuk mengungkapkan keinginannya yang ingin lebih dekat dengan Rara.


"sial, benar-benar ya hen mental mu begitu lemah. mengungkap perasaan mu pada wanita yang kamu inginkan saja kamu tidak mampu" batin Hendra.


Kembali perjalanan dilalui dengan suasana yang hening hanya terdengar bunyi klakson yang sesekali sahut sahutan.


"makasih ya mas, sudah mau repot repot untuk yang kesekian kalinya" ucap Rara yang hendak keluar dari mobil dan di jawab hanya dengan deheman oleh sang lawan bicara.


Setelah pintu mobil di tutup dari luar baru lah Hendra bisa bernafas dengan lega.


"aku kenapa sih, sebegitu terpesona nya kah aku Sehingga mengeluarkan kata-kata saja terasa sulit. seperti melupakan rehan saja begitu syulit. padahal sebelumnya aku tidak begini, membuat wanita bertekuk lutut kepada itu adalah hal mudah dan bisa aku lakukan kapan pun aku mau. tapi sekarang.... entahlah ada apa dengan ku. aku tidak mengerti " ucap Hendra pada dirinya sendiri.


helaan nafas Hendra terdengar seakan menenangkan pikiran nya yang berkecamuk sebelum keluar dari mobil dan berjalan kearah kantor yang sudah nampak mulai ada kesibukan walaupun masih tergolong pagi.


"eh tumben pak bos kesini lagi, bukannya hari ini mau ke cabang yang ada di Surabaya" tanya Andi heran melihat bosnya pagi ini.


"disini yang jadi bos aku atau kamu, kok malah kamu yang ngatur" ujar Hendra dengan muka datar dan tatapan tajam, yang membuat siapa saja melihat menjadi takut.


Namun hal itu tidak berlaku untuk Andi selaku asisten sekaligus tangan kanan dan juga teman baik Hendra yang sudah mengenal sejak lama.


"oh aku tau, pasti gara-gara wanita yang kemarin itu ya?, makanya jadi betah disini. biasanya juga lebih suka melihat perusahaan cabang karena bisa pindah dari satu cabang ke cabang lain, bukan begitu BOS" ujar Andi yang tidak ada takut-takut nya kepada bos-nya itu.


"mulai bekerja sekarang, atau kamu akan dimutasi ke cabang yang di ...


"ck iya iya, ga asik lo main ancam mulu"


ucapan Andi tersebut tidak dipedulikan oleh Hendra dan ia lebih memilih menuju ruangannya.


Hari ini berjalan sesuai dengan semestinya, karena tidak ada lagi anak buah yang bertindak dengan kurang ajar seperti Andi.

__ADS_1


hari ini ia profesional dan tau batasan mungkin masih takut ancaman tadi pagi.


Hendra kini sedang berjalan menuju lobby namun ia menghentikan langkahnya karena netra nya menangkap gadis yang mengganggu pikirannya seharian ini.


"kenapa belum pulang?" tanya Hendra yang menghentikan kegiatan Rara dengan ponsel nya.


"eh, lagi menunggu teman mas katanya mau ketemu dan dia akan menjemput aku di tempat kerja" jawab Rara berdiri dari duduknya.


"btw, kapan mas kesini proyek kerjasama nya masih belum kelar ya mas?" tanya Rara yang menyimpulkan sendiri bahwa kedatangan Hendra kesini adalah menjalin kerjasama dengan perusahaan tempat kerjanya.


"bentar lagi hujan, apa mau nunggu disini?" ujar Hendra yang memang cahaya kilat sesekali menyilaukan mata


"iya mas, bentar lagi juga teman aku akan nyampe"


"ya udah kalau begitu saya du....


tring tring tring


suara dering ponsel Rara menghentikan ucapan Hendra.


"hallo yel, waalaikumsalam"


"....."


"oh gitu ya udah deh kita jumpa disana aja hati-hati ya"


"......"


"kenapa?" tanya Hendra melihat raut wajah Rara


"teman saya kejebak macet mas, jadi kami jumpa di tempat janjian saja"


"alamatnya?" tanya Hendra dengan singkat


"di cafe ...xxxx... mas"


"ya udah sama saya saja, saya juga lewat daerah sana"


"ga usah ma..." kini suara petir sudah mulai terdengar


"ayok mas, cepat" jawab Rara yang sangat takut dengan suara itu dan tanpa sadar dia menggenggam tangan Hendra dan berjalan meninggalkan lobby.


Di dalam mobil sebenarnya Hendra sudah mau akan senyum-senyum sendiri karena tindakan kecil Rara barusan membuat kupu-kupu menggelitik perut Hendra saking senangnya.


Namun hal itu tidak bertahan lama karena yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti.


"sebentar ya saya cek dulu" ucap Hendra yang diangguki oleh Rara.


"sial, kenapa bisa sampai ceroboh seperti ini sih" kata Hendra yang menyadari keteledorannya.


karena mobil sudah mati menyebabkan suhu du dalam nya tidak lagi kondusif bagi Rara. ia pun keluar dan menanyakan permasalahannya pada Hendra.


"maaf ya, saya teledor kerena lupa jadwal servis untuk mobil ini"

__ADS_1


"gapapa mas, lupa adalah hal yang manusiawi. sekarang kita harus gimana mas?" karena jujur saja Rara sudah mulai takut karena mereka sekarang tidak sedang di jalan raya yang ramai.


Karena menurut Hendra sekarang lagi jam pulang kerja pasti jalanan macet, jadi ia berinisiatif untuk mengambil jalan lain yang sedikit jauh namun tidak ramai dengan pengendara lain.


"ya sudah kita ke halte yang di sebrang jalan saja dulu, daripada kamu capek berdiri disini" jawab Hendra yang seakan rau pikiran Rara yang sebentar sebentar melihat kiri kanan.


Belum juga mereka sampai ke halte yang dimaksud hujan sudah turun dan membasahi tubuh mereka.


langsung saja Hendra mengambil ponsel disaku nya untuk menghubungi anak buahnya guna mengirimkan tumpangan secepatnya.


"sial, ponsel ku malah tertinggal di mobil lagi" rutuk Hendra yang ternyata ponsel tidak ada dalam saku.


"kenapa mas?" tanya Rara melihat gelagat tubuh Hendra.


"oh tidak, maaf ya mungkin kita harus menunggu hujan ini agak sedikit reda, karena ponsel saya tertinggal di mobil untuk menghubungi anak buah saya" ucap Hendra dengan perasaan bersalah.


"oh iya mas, gapapa. mudah-mudahan sebentar lagi reda" dan ternyata Rara juga sama karena tadi dia cuma berniat untuk bertanya kepada Hendra jadi dia tidak membawa apapun barangnya.


sudah setengah jam berlalu namun hujan belum memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia akan segera reda.


Rara sudah begitu kedinginan karena sekarang ia hanya menggunakan kemejanya saja. Karena halte ini nampak tidak begitu terurus jadi banyak tanaman merambat yang menjalar mengikuti tiang-tiang halte.


Rara merasakan ada yang aneh di punggungnya namun ia merasa malu untuk bergerak tapi lama kelamaan ia tidak tahan karena ia sudah bergidik membayangkan hewan melata sekarang yang ada di punggungnya.


"kamu kenapa?" tanya Hendra yang peka terhadap gerakan tubuh Rara walau tidak begitu kentara.


"sepertinya ada yang bergerak di punggung saya mas" ujar Rara semakin kegelian sakaligus kesakitan. entah apa yang ada di punggungnya sekarang.


"astaga kuta harus gimana?" tanya Hendra yang bingung sendiri mau ngapain.


"ga tau mas, tolong mas dia menggigit"ujar Rara yang sekarang matanya sudah berkaca-kaca.


"tapi saya harus gimana Ra, saya bingung?" tanya Hendra yang benar bingung sekarang.


dia tidak tau harus berbuat apa namun dia tidak tega melihat wajah Rara.


"tolong lihat apa yang ada di punggung saya mas, dan tolong singkirkan" jawab Rara yang sekarang sudah menangis.


"ta-tapi...


"saya mohon mas, sakit...


"ok, silahkan kamu hadap saya, supaya kamu yakin saya ga macam-macam" jawab Hendra mengambil tindakan setelah berpikir beberapa saat.


Rara dengan cepat mengambil posisi segera menghadap Hendra dan sekarang tangan Hendra akan menuju baju bagian belakangnya.


Hewan itu kembali menggigit dan Rara refleks memegang baju Hendra bagian depan.


"maaf ya" ujar Hendra ketika tangan akan menyentuh punggung Rara.


baru saja tangan Hendra menjangkau hewan yang memang bergerak tersebut mereka di kejutkan dengan....


"apa yang kalian lakukan......

__ADS_1


__ADS_2