Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Emosi Hendra


__ADS_3

"Eh Ra kamu sama siapa tadi?" sambut Fara kepada Rara waktu di lobby. ya walaupun ia sudah tau itu mobil siapa.


"kepo ae lu, emang kenapa?" tanya Rara tidak serius dan terkesan bercanda.


"ya elah ni anak. serius Lo Ra, kamu ada hubungan sama bos kita ya?" tanya Fara yang di balas dengan cengiran oleh Rara.


"hah apa bos ya engga lah, aku tadi sama mas Hendra" jawab Rara enteng.


"pak Hendra itu adalah bos besar disini Rara" jawab Fara yang membuat Rara mengaitkan potongan kejadian tadi.


"What... kenapa mas Hendra ga bilang. pantas tadi ia senyum senyum dan bilang akan melewati jalan yang sama. ternyata bukan jalan yang sama lagi tapi tempat nya juga sama"batin Rara.


"wait wait apa lo bilang tadi mas? apa hubungan kalian sedekat itu sampai panggil mas? ayo Ra jawab"desak Fara.


Sedang Rara tidak tau harus menjawab apa karena ia juga baru tau fakta ini.


"Ra kam....


"ekheeemmm" tegur buk Salsa yang selalu mengganggu ketengan karyawan salah satunya Fara.

__ADS_1


"pagi buk, kan belum masuk jam kerja buk" sapa Fara sekaligus membela diri sebelum di marahi.


"pokoknya Ra, kamu hutang penjelasan sama aku. kam...."


"Fara...." tegur buk Salsa yang kali ini nada suaranya sudah naik satu oktaf.


"iya buk iya maaf " perkataan memang minta maaf namun hati Fara mengumpat karena dari tadi dia ga bisa bebas menguak informasi dari sahabatnya Rara.


Dan Rara hanya tersenyum tipis menanggapi sikap sahabat dan atasannya itu. Namun pikiran nya masih kepada suaminya kenapa tidak memberi tahu bahwa ia bos di tempat kerjanya dan lagi pula kemana pria itu perginya sehabis mengantarkannya tadi.


POV Hendra


Aku tidak dapat membayangkan bagaimana reaksinya jika aku adalah atasannya di tempat kerja. apakah ia terkejut atau bahkan marah kepada ku. oh iya tadi aku sangat ingin sekali mengecup kening Rara ketika ia pamit akan kerja namun aku tidak mempunyai keberanian akan itu dan lagi pula aku takut ia akan ilfil dan nantinya akan jaga jarak kepada ku. aku tidak mau itu terjadi, biarlah dulu ia nyaman dengan ku.


Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat sekarang menunjukkan waktu istirahat sebentar lagi maka Hendra bergegas untuk segera kembali ke perusahaan pusat dimana Rara sang istri kini bekerja. ia tidak sabar lagi akan makan siang pertama setelah sah menjadi pasangan dengan istrinya.


Hendra berniat menelpon sang istri agar nantinya ia tidak perlu lagi masuk ke dalam untuk menjemput Rara. namun sebuah benturan terasa di bahu kanannya dan setelahnya terdengar suara barang jatuh.


Buuugh

__ADS_1


"maaf saya ga sengaja....eh kamu Raf. maaf ya" ujar Hendra tidak enak karena sudah membuat barang Rafa berjatuhan.


"eh iya bang gapapa" jawab Rafa dengan seringai di bibirnya yang entah bagaimana Hendra mendeskripsikan senyum tersebut karena terlihat aneh.


"oh iya bang mau kemana? tampak buru-buru?" tanya Rafa kemudian


"apakah mau ketemu istri nya?" lanjut Rafa yang kali ini tampak seperti mengejek.


Hendra jadi bingung sendiri karena setaunya yang mengetahui pernikahannya hanya diketahui oleh segelintir orang yang bisa di hitung jari.


"ga usah bingung gitu bang, aku tau kok abang sudah nikah" lanjut Rafa namun Hendra masih belum tau harus merespon seperti apa kecuali hanya tersenyum kaku.


"oh iya bang selamat menempuh kehidupan bersama orang yang belum dikenal ya. semoga langgeng sampai kakek nenek. ups" sahut Rafa seraya tertawa lebar.


"apa maksud kamu Rafa? apakah kamu mengetahui semuanya? atau jangan-jangan ini semua ulah kamu?" tanya Hendra bertubi-tubi.


"hahaha maaf ya bang, aku terpaksa melakukan semua ini gara-gara anak angkat mu yang tidak tau diri itu"


Bughhh suara tinju Hendra karena emosi menyapa pipi mulus Rafa yang membuat ia hampir saja terjungkal karena tidak memprediksi itu sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2