
Namun aku tidak ambil pusing, tetap ku lanjutkan langkah ini, dan setelah sampai di kubikel aku langsung di sambut oleh si biang kerok dua ini.
"apa kalian dua senyum senyum
"cie cie ternyata diam diam kamu_
"ekhhmmm" sebuah deheman mengejutkan kami
"eh buk Salsa, pagi buk" sapa Fara dengan wajah tersenyum namun kami tau ekspresi itu tidak sinkron dengan hati nya.
"pagi pagi udah mau bergosip mau seperti apa perusahaan ini ke depannya, silahkan kembali ke tempat masing masing" ujar beliau sambil berlalu ke arah ruangannya.
"baik buk" jawab ku yang ku rasa masih bisa di dengar oleh nya.
"sementara teman ku yang dua ini memonyongkan bibir dan membuat gerakan seolah mengejek buk Salsa yang terkenal cerewet.
"udah udah, yok kita ke tempat masing masing dan mulai bekerja " tanpa mendengarkan jawaban mereka aku segera melarikan diri.
"eh Ra kok malah di tinggal sih"
Sementara di suatu ruangan di lantai teratas perusahaan tersebut seorang pria tengah asik mengamati beberapa laporan keuangan perusahaan, yang sebelumnya dia percakapan kenapa sekretaris sekaligus kaki tangannya di perusahaan ini.
__ADS_1
Setelah memeriksa beberapa berkas dan merasa semua sudah sesuai segera saja ia membubuhkan tanda tangannya.
Begitu kegiatan Hendra dari hari ke hari dan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Ya walaupun kadang capek dengan rutinitas sehari-hari namun Hendra sangat puas dengan apa yang bisa ia capai di umur nya yang baru akan menginjak umur 32 dua bulan mendatang.
Dimana sekarang ia sudah mempunyai perusahaan di beberapa bidang dan dalam waktu dekat ia akan membuka cabang baru lagi.
Di tengah ia melamun ingatannya seakan kembali ke Rara wanita yang sudah di kagumi sejak saat pertama kali jumpa di cafe pada saat itu.
"Andi bisa ke ruangan ku sekarang"
"......
"Ya aku tunggu" segera ku letakkan kembali gagang telepon ke tempat semula.
"ada apa bos?" tanya Andi dengan muka jahil.
"akhhh, sakit bodoh" ucapnya sambil mengusap kepalanya yang menjadi bandara tempat mendarat pena yang baru saja aku lempar.
"hahaha panggilan itu lebih bagus dari pada yang tadi, siapa suruh panggil bos"
"ckckck iya deh iya, lo mau bilang apa?" tanya nya dengan nada setengah jengkal dan setengah lagi penasaran. hehehe
__ADS_1
"lo tau siapa Rara?" tanya ku to the point tanpa basa-basi.
"Rara yang si anak baru itu, eh ga anak baru juga sih kan dia udah tiga bulan disini"
"hah tiga bulan, kenapa aku ga tau" tanya ku
"elah lo mana tau sih, lo aja kesini cuma nengok laporan dan itu pun cuma sekali se-abad" jawanya dengan nada lebay.
"aku mau data dia secara lengkap sudah ada di atas meja ku dua jam ke depan. kalau ga gaji kamu bulan ini ga akan utuh lagi " ujar ku dengan nada bossy dan dia hanya melongo mendengar perintah ku.
"lah bego kerjaan ku banyak, dan aku tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk itu" jawabannya dengan jengah.
"kalau dalam waktu 1 setengah jam data dia belum ada di atas meja ku maka siap siap untuk berpisah dengan Tiara karena kamu akan di mutasi ke daerah terpencil " ujar ku sambil melihat wajahnya dan aku tau sekarang hatinya sedang mengupat ku.
"akkkhhh kamu memang semau mu" ujar nya sambil berjalan meninggalkan ruangan ku dan aku tau mau tidak mau dia pasti akan melakukan perintah ku.
"hehe salah siapa dia menolak perintah ku dan siapa suruh dia sok sibuk " batin Hendra tertawa jahat.
Di jalan yang sudah mulai terlihat sepi, Hendra melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Kebetulan hari ini Hendra lembur karena banyak nya laporan yang harus di periksa nya.
Dia begitu menikmati perjalanan hingga netra nya memindai sosok yang begitu di kenali dan sangat ia kagumi.
__ADS_1
Dia hendak menepikan mobilnya namun sebelum itu melihat Rara yang tengah menyebrang tanpa melihat kiri kanan dan sedikit lagi akan ada yang menabrak dia.
"tidaaaaaakkkk.......