Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Tau nama


__ADS_3

"Gapapa mbak, uang itu untuk berobat ibu saya enam bulan yang lalu mbak. sebenarnya saya hanya meminjam uang sebesar lima puluh juta kepada bibi Eli, yang masih ada hubungan kekerabatan walau tergolong jauh. Namun saya juga tidak mengerti kenapa bisa jadi seratus juta setelah enam bulan berlalu. Saya sempat protes karena di awal meminjam tidak di sebutkan pakai bunga. Tapi katanya tidak ada yang gratis di dunia ini. sampai lah pada malam ini saya saya akan dijadikan salah satu wanita malam di tempat ini untuk melunasi utang tersebut hiks hiks" paparnya dengan nada pilu.


"udah sekarang sudah aman, hutang mbak sudah di lunasi mas dingin itu " ucap ku menenangkan wanita tersebut, dan aku baru tersadar ucapku tadi setelah Bulan memelototi ku dan aku pun melihat ke arah laki-laki dingin itu. Dia memandang ku dengan tatapan tajam dan ku balas dengan cengengesan.


"Makasih banyak ya mas, saya boleh minta kartu namanya?. saya akan mencicil hutang saya kepada mas. selama ini saya belum bisa bekerja karena kondisi ibu saya yang masih lemah karena dalam masa pemulihan. Namun mulai Minggu depan saya sudah bisa bekerja dengan baik mas dan saya akan mencicil hutang tersebut " ucapnya dengan nada semangat.


"ga usah saya ikhlas. mbak bekerja untuk menghidupi keluarga saja" ucap nya masih dengan nada dingin. Issss dia memang selalu dingin.


"oh iya mbak nama saya Reni, mbak berdua siapa namanya?" tanya nya yang seketika mengingatkan kami ternyata belum tau nama satu sama lain.


"Nama saya Bulan mbak baik, penyayang dan juga lucu dan ini Rara sahabat saya yang paling baik, cantik dan suka menabung" jawab Bulan dengan absurd dan aku hanya menggelengkan kepala.


"Ya sudah mbak ayo kami antar ini sudah sangat malam" ucap ku yang diangguki oleh Bulan.

__ADS_1


"Ga usah mbak, rumah saya ga jauh dari sini kok. Saya bisa jalan kaki dan itu akan aman mbak. Sekali lagi makasih mbak Rara dan mbak Bulan. Eh masnya juga makasih banyak" ucapnya segera berdiri dan kami pun tersenyum bersama dan laki-laki dingin itu hanya membalas dengan anggukan kepala. isss memang manusia dingin beeerrrr.


Dan setelah memastikan Reni hilang dari pandangan mata kami akan segera pulang dan Bulan bilang dia mau ke toilet dulu.


Sembari menunggu Bulan dari toilet


"ekhhmmm, makasih ya mas sudah datang menolong kami tadi, dan juga sudah mau membayar hutang Reni tadi" ucap ku mencoba mencairkan suasana.


"Mas namanya siapa, kita belum kenalan dari kejadian kemarin itu" ucap ku kemudian.


"Hendra" singkat dan padat sekali bukan jawabnya.


"Kenapa Bulan lama sekali, aku sudah tidak nyaman berada di dekat laki-laki dingin ini" batin ku.

__ADS_1


"Kenapa kamu tega melakukan ini kepada ku rey, aku sudah melakukan ini semua untuk mu. Orang tua ku juga sudah kenal dengan mu tapi kenapa kamu merusak hubungan ini dengan perselingkuhan" ucap seorang wanita yang berada tak jauh dari tempat ku saat ini.


Dan itu langsung membuat aku ingat dengan Mas Hara dan mata ku segera berkaca-kaca mengingat begitu miris akhir dari hubungan ku dengan mas Hara.


Betapa semua rencana yang sudah kami susun hanya akan jadi wacana semata dan tidak akan pernah menjadi nyata.


Dan apa yang akan aku katakan pada ayah bunda. bagaimana aku harus memulainya nanti. Mereka sudah begitu menginginkan melihat aku segera menikah. Tanpa ku sadari air mata ku sudah turun dan membasahi pipi.


Ada sebuah sapu tangan yang melambai di depan wajah ku dan itu berasal dari laki-laki dingin yang kehadirannya sempat aku lupakan tadi. Betapa malunya aku menangis di depannya begini.


"kenapa?" tanya nya yang memang tidak ada simpati nya sama sekali.


"aku aku....

__ADS_1


__ADS_2