
Dering dari handphone membangunkan ku pagi ini. Dengan gerakan malas aku meraih handphone namun masih dengan mata yang terpejam. Langsung saja ku tempelkan di telinga ku setelah menggeser tombol hijau menggunakan insting ku.
"Assalamualaikum Ra" suara itu yang pertama kali aku dengar.
Aku sempat tertegun beberapa saat mendengar suara pria yang menemani ku beberapa waktu belakangan ini.
Segera terbit senyum di wajah ku dengan mata yang masih terpejam.
"Hallo Ra, kamu dengar suara aku kan"
Namun suara itu kembali menyapa ku dan aku pun segera tersadar dari pikiran ku yang belum seutuhnya sadar.
Astaghfirullah ada apa dengan diri ku kok bisa sampai lupa dengan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Segera saja aku matikan handphone dan bergegas bangun.
Kulihat jam yang bertengger di kamar ku sudah menunjukkan pukul enam kurang sedikit.
Astaghfirullah untung saja aku sedang datang tamu bulanan, kalau tidak pasti aku akan terlambat menunaikan kewajiban ku shubuh tadi.
__ADS_1
Ku hirup udara pagi yang sangat sejuk setelah sampai di sekolah tempat ku berbagi ilmu ini. Rasanya begitu segar dan nyaman.
Namun rasa nyaman tersebut tidak bertahan lama karena ada suara yang menegur ku.
"Ra...
"Bisa ga sih kamu ga usah ganggu aku" ucap ku memutar bola mata malas sebagai bentuk pengalihan.
Ya pengalihan semata karena hati ini masih berdebar ketika melihat dan berdekatan dengan dia.
"Kenapa telpon aku tadi dimatikan Ra?" Tanya mas Hara lagi tanpa memperdulikan omongan ku.
"Apa lagi yang perlu aku dengarin. Apakah setelah aku mendengar semua penjelasan mu akan bisa mengubah yang telah terjadi?. Ga kan. Apakah setelah aku mendengar penjelasan mu sakit di hati ini akan sembuh. Ga kan. Jawabannya memang tidak" ucapan ku mampu membuat mas Hara bungkam dan mampu menyesakkan hati ini kembali.
Sekuat tenaga aku menahan kesedihan ini namun kalau sudah depan nya aku menjadi rapuh tak berdaya.
"Aku mohon mas selagi aku masih bisa berucap dan berkata-kata dengan baik tolong dengarin aku. Tolong bantu aku untuk keluar dari sakit hati ini dengan cara tidak menghubungi aku dan jangan pernah dengan sengaja menampakkan diri di hadapan ku. Tolong bantu aku dengan itu mas. Anggap saja itu bentuk pertolongan mu kepada ku sebagai bentuk perpisahan dari hubungan kita" ucap ku dan tidak ada respon dari dia.
Mas Hara hanya diam saja namun menatap ku dengan sangat dalam. dengan segera berjalan menuju ruangan ku sambil menahan sesak yang begitu menghimpit di dada ini.
__ADS_1
Begitulah kegiatan ku hari ini dengan sekuat tenaga aku berusaha terlihat baik-baik saja di depan para murid ku.
Aku pulang dengan badan yang rasanya sangat lelah, mungkin juga karena beban hati yang menambah lelah ini.
Namun lelah ku semakin bertambah dengan melihat ada mobil yang terparkir depan rumah dan aku tahu betul ini mobil siapa.
Langsung saja ku langkahkan kaki ini dan ketika melewati ruang tamu telinga ku di sapa dengan obrolan
"begitulah takdir nak Hara, kita tidak tau dan tidak bisa memilih. Ya takdir adalah takdir dan kita tidak dapat mangkir" ucapan ayah yang memang di tunjukkan kepada mas Hara.
Namun perkataan tersebut juga seolah menyadarkan aku, akan tetapi rasa sakit masih mendominasi di hati ini.
"Rara memang begitu, jangan khawatir seiring dengan berjalannya waktu dia akan bisa berdamai dengan keadaan. Kelihatannya memang dia keras dengan ego yang tinggi tapi sesungguhnya dia begitu rapuh apalagi ketika kecewa."ucap bunda yang diangguki oleh ayah.
"Kami berharap nak Hara dapat bertanggung jawab dengan baik. Dan masalah Rara dia akan membaik bersama waktu. Jadi tidak usah diambil hati " kali ini bunda lah yang menganggukkan kepala tanda setuju dengan perkataan ayah.
"Terima kasih untuk semua dan selama ini om Tante. saya merasa diterima di keluarga ini tanpa bersyarat. Dan aku juga sangat bersyukur pernah kenal dengan kalian walaupun ga akan ada ikatan keluarga diantara kita."ucap Hara tertunduk tidak bisa menyembunyikan kesedihan serta rasa penyelesaiannya.
"kita akan tetap jadi keluarga nak. Kamu masih bisa main kesini kapan pun ada waktu. Namun untuk sementara waktu tunggu dulu sampai rasa sakit Rara benar-benar sembuh karena bagaimanapun juga kami harus menjaga perasaannya " ucap ayah bijak dan mampu menenangkan semua orang yang mendengar nya.
__ADS_1
"Ra....