Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Bagaimana akhir dari semua ini


__ADS_3

Berikan alamat mu, Minggu depan aku akan mengunjungi keluarga mu sekaligus membicarakan rencana pernikahan kita" ucap ku dengan nada yang tidak bisa aku jelaskan bagaimana perasaan ku saat ini.


"Lalu bagaimana dengan wanita yang kau sebut tadi, bukanlah kesannya aku yang menjadi perusak dalam hubungan kalian" ucapnya dengan wajah yang kembali menunduk.


"untuk hal itu tidak usah kamu pikirkan biarkan itu jadi urusan saya. Yang pasti kita tidak bisa lebih lama lagi menyelesaikan ini semua" ucap ku dengan nada yang putus asa.


Ya putus asa, bagaimana tidak putus asa untuk semua yang telah aku lalui dengan Rara dan untuk semua yang telah kami rencanakan dari jauh-jauh hari hanya akan jadi wacana tanpa bisa terlaksana.


"Baiklah mas kalau begitu ini kartu nama ku dan kalau mas mau datang kabari aku lebih dulu biar aku sampaikan kepada orang tua ku dan bisa mempersiapkan segalanya " ucap nya dengan nada yang sudah lebih ringan dari sebelumnya.


Mungkin beban yang berat tadi seolah terangkat dengan adanya penyelesaian masalah tersebut.

__ADS_1


"Ya, untuk malam ini mungkin cukup dulu pembahasan kita. Mari aku akan mengantarmu pulang tidak baik seorang wanita sendirian pulang apalagi ini sudah sangat malam di tambah dengan kondisi mu yang demikian" dan dia pun hanya bisa mengangguk kan kepala.


Perjalanan kami di liputi dengan sunyi dan hening. Aku yang sibuk dengan pikiran ku dan dia juga mungkin dengan hal yang sama. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya kami sampai di sebuah rumah minimalis yang tampak sederhana namun begitu nyaman untuk di tempati. Ya begitulah kesan pertama yang aku dapatkan ketika melihat kediaman Yelsi ini.


"Makasih ya mas, sudah mau mengantar aku. Maaf sudah malam jadi tidak bisa menawari mas untuk mampir" ucap nya seraya membuka pintu mobil.


"Ya, sama-sama" jawab ku dengan singkat.


Aku ingin menenangkan pikiran dan segera beristirahat. Sampai di rumah keadaan yang begitu sepi menyambut maklum saja aku hanya anak semata wayang jadi tidak pernah merasakan suasana yang ramai ketika pulang ke rumah. Langsung saja aku ke kamar guna untuk membersihkan diri.


Selesai mandi aku berniat untuk menelpon Rara karena hanya dia yang bisa menjadi obat sekaligus penenang di kala keadaan seperti ini.

__ADS_1


Segera ku raih handphone dan menelpon wanita ku. Ya bagiku Rara akan jadi wanita ku. Namun tidak di jawab, ya seberangnya aku sih yang salah kenapa juga aku menelpon di saat jam seperti ini. Pasti wanita ku itu sudah tidur karena hari sudah begitu larut apalagi tadi dia sempat merasakan kekhwatiran yang sangat atas kejadian yang menimpa ibunya.


Ku coba pejamkan mata ini berharap bisa membuang segala kegundahan di hati dan juga segera terpejam agar bisa mengaruhi lautan mimpi yang tentunya lebih mempesona dari pada dunia yang fana.


Namun potongan-potongan kejadian bersama Yelsi kembali muncul ke permukaan mulai dari kejadian malam naas itu hingga kepada kejadian baru saja di cafe tadi yang membuat kepala ku rasanya akan pecah sebentar lagi.


Bagaimana aku akan menghadapi semua ini. Bagaimana cara ku untuk bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat. Walaupun kesalahan bukan dari aku seratus persen namun tetap saja sebagai laki-laki aku tidak bisa langsung lari dari tanggung jawab. Apalagi Yelsi wanita yang tidak tau apa-apa sudah terseret begitu jauh ke dalam kubangan permasalahan ini dan sekarang dia tengah mengandung anak dari ku. Hal itu tentu tidak bisa aku abaikan begitu saja.


Belum lagi bagaimana aku menyampaikan nya kepada Rara. Aku tidak akan sanggup menatap matanya dan mengatakan semua kebenaran ini. Aku juga tidak akan mampu melihat dia terpuruk atas kabar yang aku sampai kan.


Atau bagaimana jika....

__ADS_1


__ADS_2