Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
flashback Rafa


__ADS_3

"hey Ra, kok malah melamun sih?" Hendra menyadarkan Rara dari lamunannya tentang dilema antara wanita karir atau ibu rumah tangga.


Kini Hendra dan Rara sudah berada di kamar setelah makan malam yang diakhiri dengan Rara mencuci alat tempur makan mereka.


"mas kan tadi aku mau nanya" sahut Rara cepat selagi ia masih ingat. tadi ia sudah lapa gara-gara memikirkan mau resign.


" benar mas yang punya perusahaan tempat aku bekerja?" tanya Rara dengan tatapan ingin tau yang begitu terpancar dari wajahnya.


"oh itu, bukan mas aja sih Ra. Kan masih ada investor-investor lain tu." jawab Hendra sekenanya.


"ih mas, aku serius lo. kenapa mas ga kasih tau aku pas tadi ngantar. aku jadi malu sendiri karena baru tau dari Fara" curhat Rara sekaligus kesal kepada suaminya itu karena sudah membuat ia nampak begitu bodoh dihadapan sahabat nya itu dan berakhir di interogasi.


"kan kamu ga ada nanya Ra" kekeh Hendra begitu gemes dengan wajah kesal sang istri.


"lah aku kan ga tau bambang. gimana mau nanya massa" kali ini Hendra tidak dapat menahan tawanya lagi.

__ADS_1


"ya udah apa yang mau kamu tanya sok silahkan" Balas Hendra yang masih tersenyum.


"Ga ada lagi sih. kan udah dikasih tau Fara semua nya. cuma tadi aku nampak bodoh aja dihadapan Fara karena ga tau apa-apa tentang suami sendiri" cemberut Rara sambil memonyongkan mulut.


Hendra begitu bahagia dan gemes di saat bersamaan. bahagia karena Rara bilang suami, dengan begitu saja ia sangat bahagia sekaligus merasa dianggap, dan juga gemes karena bibir Rara yang dimonyongkan karena kesal membuat ia terlihat imut di mata Hendra.


"andai aku bisa...


"mas kok malah senyum-senyum ga jelas sih?"


"Ra boleh ga mas mencium kamu?" ingin sekali Hendra bertanya namun itu semua terhenti di tenggorokan. Lagi pula ia tidak ingin Rara menjaga jarak dengannya hanya dengan permintaannya itu.


"selamat tidur Ra, dan jangan lupa baca do'a" ujar Hendra menutup percakapan seraya mengecup kening Rara yang di sambut dengan pejaman mata Rara sebagai gerakan refleks. memang bukan kecupan yang pertama memang namun namun rasanya masih sama. mendebarkan.


Begitu juga dengan keadaan kamar seorang pria yang terlihat begitu bahagia. ia tampak sesekali tertawa keras.

__ADS_1


"sebentar lagi kamu akan jadi milikku Ra, aku berjanji akan membahagiakan kamu lebih dari Hara. Dan Hara selamat menikmati masa-masa terpuruk karena kehilangan Rara dan juga pernikahan terpaksa yang aku yakini kau juga akan ikut memikul kesedihan itu" suara tawa kembali menggelar memenuhi setiap sudut kamar.


ingatannya kembali kepada berbagai potongan kejadian masa lalu yang menimbulkan kebencian mendalam dihatinya.


Awalnya mereka begitu akrab karena sama-sama kekurangan kasih sayang, Hara yang berasal dari panti asuhan dan ia yang memang masih memiliki kedua orang tua namun tidak dengan perannya. mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing. hingga akhirnya Hara bertemu tanpa sengaja dengan Hendra yang mempunyai sikap sosial yang tinggi dan juga penyayang. awalnya Hendra menganggap mereka berdua adik karena memiliki persamaan yaitu kekurangan kasih sayang orang tua namun bedanya Hendra bisa menyikapi itu dengan dewasa hingga akhirnya ia sukses dengan memiliki beberapa perusahaan dan juga cafe.


Namun lambat laun Hara tidak menganggap Hendra lagi abang melainkan ayah. Rafa maklum saja pada saat itu karena ia berfikir mungkin saking inginnya Hara mempunyai orang tua dan Hendra mempunyai jiwa itu.


Namun lambat laun ia mulai merasa cemburu atas semua keberuntungan Hara hingga puncaknya ia bisa mendapatkan Rara dan menjalin hubungan dalam waktu yang lama.


Rafa sudah lama menaruh rasa kepada Rara namun tidak sedikitpun Rara melihat kearahnya gara-gara Hara. ya ini semua gara-gara Hara.


Sejak saat itulah aku ingin menghancurkan segala kebahagiaan Hara. aku sudah merencanakan jauh-jauh hari agar aku bisa memisahkan ia dengan Rara dan didukung dengan keadaan saat itu.


Hingga akhirnya kini ia menikah dengan wanita yang tidak dikenalnya. Pada saat itu aku sudah merasa puas dan untuk sementara waktu aku tidak menampakkan diri agar tidak ada kecurigaan bahwa aku adalah dalang dibalik semua ini.

__ADS_1


Namun kalau masih bisa di tambah kenapa cukup sampai itu saja. ibarat kata kalau bisa dua kenapa harus satu.


"bagaimana jika.....


__ADS_2