Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Antara wanita karir dan IRT


__ADS_3

"Tapi kalau memang Rafa begitu obsesi ingin memiliki Rara kenapa malah membiarkan bahkan mendorong terjadinya penikahan antara aku dan Rara" gumam Hendra bingung.


"apa jangan-jangan ia juga tengah merencanakan sesuatu terhadap pernikahan ku?" Hendra berfikir keras apa yang tengah direncanakan oleh Rafa terhadap pernikahannya.


Hendra segera melajukan mobilnya menuju cafe karena Sekarang sudah lewat jadwal makan siang gara-gara berdebat dengan Rafa dan pastinya juga Rara sudah kembali bekerja kan. niatnya tadi setelah makan siang bersama sang istri ia akan meninjau bagaimana perkembangan Cafe karena akhir akhir ini ia begitu sibuk dengan perusahaan hingga hanya mempercayakan cafe kepada Rudi, asisten yang ia percaya mengelola cafe selagi ia sibuk dengan urusan perusahaan.


Bunyi suara klakson kendaraan bersahut-sahutan terdengar begitu nyaring di rungu, menemani perjalanan pulang sepasang suami istri yang terlihat raut lelah yang disamarkan dengan senyuman keduanya.


percakapan mengalir diantara mereka walau kesan canggung masih terasa sesekali. Wajar karena mereka tidak sedekat itu untuk langsung akrab satu sama lain. Sebenernya Rara sih yang masih merasa canggung dan segan. kalau. untuk Hendra sendiri ia lebih kepada mengikuti alur karena ia tidak mau Rara jeolous kepada nya karena begitu agresif.


"sebenernya aku bisa pulang sendiri loh mas, dan aku tidak akan kabur kok" ucap Rara di sela obrolan mereka.

__ADS_1


"mas bukannya takut kamu kabur Ra, mas Hanya ga mau jadi suami yang ga bertanggungjawab kepada istrinya" jawab Hendra apa adanya.


"Lah apa hubungannya tanggung jawab sama jemputan mas?"


"jelas berhubungan lah Ra, kalau mas menelantarkan kamu kan ga bisa dikatakan bertanggung jawab lagi" jawab Hendra tidak mau kalah.


Tanpa terasa mereka sudah memasuki kawasan perumahan mereka yang tidak terbilang perumahan sederhana.


"kalau nanya nya nanti aja gimana?. kita kan udah sampe nih. bentar lagi maghrib. kita juga belum mandi dan lain sebagainya " tawar Hendra yang membuat Rara mengedarkan pandangan ternyata mereka sudah sampai.


"mas aja dulu yang mandi, aku mau masak dulu, mas mau dimasakin apa untuk makan malam kita?" tanya Rara di ujung Kalimat yang membuat Hendra menatap wajah sang istri. Lihatlah istrinya nampak begitu lelah namun masih saja akan melaksanakan kewajibannya.

__ADS_1


"ga usah masak Ra, kita pesan aja atau ga kita makan luar gimana?" usul Hendra.


"mas gapapa kalau aku ga masak?" Rara menunduk karena merasa bersalah.


"ya ga papa dong, kan kamu juga pasti capek habis kerja seharian" jawab Hendra pengertian.


Setelah selesai makan malam yang akhirnya Rara masak juga ya walaupun masakan sederhana Hendra begitu nampak lahap. Rara tadi beranggapan bahwa sang suami tidak mau makan masakannya namun kemudian ia mengerti bahwa Hendra mengatakan mau pesan makanan atau makan di luar agar Rara tidak merasa kecapekan setelah bekerja seharian.


Rara sedikit tersentuh atas sikap Hendra dan juga perasaan bersalah menelusup dalam hatinya karena tidak mampu melayani suami dengan baik.


"apa aku resign saja?. ah tapi menjadi wanita karir adalah impiannya sejak lama. Aku belum bisa sepenuhnya percaya kepada mas Hendra. bagaimana nanti kalau ia selingkuh dan aku di usir dari rumahnya?. Orang yang saling mencintai saja masih besar peluangnya untuk menjadi penghianat apalagi kami yang belum kenal satu sama lain, tentu akan semakin besar kemungkinan untuk itu. namun kalau aku tidak berhenti bagaimana aku mau menjadi istri yang bisa melayani suami dengan sepenuh hati. ternyata wanita karir sekaligus menjadi ibu rumah tangga yang baik bukan sesuatu yang mudah. namun kenapa bunda bisa dengan mudah untuk membagi waktu antara keduanya" Batin Rara berperang.

__ADS_1


__ADS_2