
POV Rafa
"kurang ajar, sial, bangsat" berbagai macam umpatan keluar dari mulut Rafa seolah-olah ga pernah disekolahkan.(wkwkwk)
"kenapa aku bisa kecolongan hingga yang menikah dengan bang Hendra itu adalah Rara, wanita yang aku cintai" lanjut Rafa yang kini mondar-mandir kek setrikaan di kamarnya.
" kenapa aku bisa ceroboh tidak mengenali dari dekat siapa yang saat itu bersama bang Hendra akkhhh" teriak Rafa di ujung kalimatnya dan di ikuti tinju nya melayang ke dinding kamar.
Ingatan Rafa kembali kepada beberapa bulan yang lalu ketika Hendra mengadakan resepsi pernikahannya. Rafa memang mendapatkan undangan itu namun waktu itu dia sedang sibuk untuk mempersiapkan pembukaan cabang perusahaan nya yang baru sehingga ia begitu sibuk. Lagipula untuk apa ia mendatangi pesta tersebut toh kan ga penting juga, kalau cuma melihat kehancuran Hara ia bisa melihatnya setelah ia tidak sibuk lagi kan. Begitu pikirnya saat itu.
Namun kini ia menyesali semua nya dari ia yang gegabah menikahkan Hendra tanpa melihat siapa wanita tersebut hingga ia yang tidak bisa menghadiri pesta Hendra yang diadakan begitu meriah.
"apa kata dokter tadi Rara sekarang tengah hamil. tidaaakkk. akhhhh" kembali ia meninju dinding masih di tempat yang sama, kini tangan nya sudah terluka dan mengeluarkan darah walau tidak banyak.
Memang tadi Rafa berada di rumah sakit yang sama dengan keberadaan Yelsi melahirkan ia datang konsultasi seperti biasa mengenai emosi nya yang tidak stabil. Jadi ia sempat melihat Hendra yang merangkul pinggang Rara dengan begitu mesra seolah-olah Rara akan hancur berkeping-keping ketika Hendra melepaskan rengkuhan itu.
Rafa mencari tau hingga akhirnya ia mendapatkan hasil bahwa kini Rara tengah hamil. Rasanya tidak ada lagi guna ia datang konsultasi ke rumah sakit itu tadi karena sekarang emosi sudah tidak terbendung lagi melihat kehancuran untuk dirinya sendiri di depan mata.
Kini Rafa sudah terduduk di lantai yang begitu dingin dengan tatapan yang kosong syarat akan keputusasaan.
"kenapa tuhan selalu tidak adil kepada ku? kenapa aku tidak pernah di izinkan untuk bahagia. kenapa akhhhh" teriaknya yang terdengar pilu di rungu.
Tidak lama tatapan kosong itu berganti dengan senyum menyeringai yang terbit di bibirnya.
"maaf bang, kalau persoalannya seperti ini kita juga seperti akan jadi rival. untuk urusan Rara aku tidak mau mengalah walau sebelumnya kau begitu ku hormati" Perkataan Rafa seakan Hendra kini sedang berada di hadapannya.
__ADS_1
Sudah tersusun rencana di dalam otak picik Rafa untuk ia jalankan ke depannya, Karena lelah dengan berbagai pikirannya Rafa tertidur dengan masih menggunakan setelan kantor yang tadi sempat ia gunakan di atas lantai yang dingin.
***
Tidak terasa kini kandungan Rara sudah memasuki bulan ke enam. Ia begitu bahagia bersuamikan seorang Hendra yang begitu telaten mengurusnya selama ia hamil. Oh iya Rara juga sudah memutuskan untuk resign dari perusahaan Hendra semenjak ia di ketahui hamil yang disambut dengan wajah sumringah Hendra.
Sebenernya Hendra sudah menanti kabar itu sejak mereka baru menikah dulu namun Hendra ingin kesadaran istrinya itu sendiri yang membuat Rara mundur tanpa merasa terbebani dengan permintaan dari Hendra.
"mas nanti mau di masakin apa?" tanya Rara ketika Hendra akan pamit berangkat ke kantor.
"sayang bukannya mas ga suka masakan kamu, tapi melihat kamu sama baby sehat dan tidak kecapean udah membuat aku senang banget. jadi kami ga usah masak ya, cukup kamu datang ke kantor aja nanti kita keluar makan sama-sama.ok" Tutur Hendra lembut takut menyakiti hati istrinya kembali seperti Tempo hari dimana Rara sempat menangis karena mengira suami tidak mau makan masakannya lagi.
Padahal Hendra hanya tidak mau Rara kecapean, karena menurutnya Rara sehat saja sudah lebih dari cukup. Karena Hendra rasanya tidak kuat ketika, melihat Rara yang terbaring lemah dengan muka pucat ketika trimester pertama dulu. Ya Rara mengalami mual dan muntah yang parah pada saat usia kandungannya menginjak dua bulan.
"ya udah deh mas, tapi ga papa kan mas kalau aku ga masak. perut aku juga rasanya terkadang udah berat" ujar Rara yang membuat Hendra terkadang kasian melihat istrinya yang mungil dengan perutnya yang membuncit walau belum terlalu besar.
"iya sayang ga papa, melihat kalian sehat dan baik-baik saja mas udah senang banget. jadi kamu ga usah pikirin yang lain-lain ya. nanti kita cari alat atau apapun itu yang bisa meringankan perut kamu ya biar ga keberatan " ujar Hendra yang mendapat cubitan di pinggang nya.
"sakit sayang" adu Hendra dengan tangan masih mengusap pinggangnya yang terasa panas.
"salah mas sendiri kenapa pikiran aneh, ga ada alatnya atau apapun itu ya mas. itulah salah satu nikmat wanita hamil yang tidak dirasakan oleh wanita yang tidak hamil" jawab Rara yang membuat Hendra mengusap dada tanpa gerakan. lagian siapa yang ngeluh siapa pula yang merepet. ndehhhh.
"ya udah maaf ya sayang mas salah, sekarang mas berangkat dulu. kamu nanti pergi nya hati-hati kalau ada apa langsung kabari" ucap Hendra sambil mengecup kening Rara.
"Dan kamu nak jangan menyusahkan bunda mu ya, ayah berangkat kerja dulu ok sayang" kembali kecupan ia sematkan di permukaan perut Rara yang masih terbungkus dress rumahan.
__ADS_1
Inilah salah satu tindakan kecil yang membuat Rara merasa sangat bahagia. ia tidak menyangka bahwa ia akan memiliki suami seperti Hendra yang begitu lembut dan penyayang walau terkadang posesif dan juga pencemburu. Namun itu lah yang membuat ia merasa diinginkan dan dicintai oleh suaminya.
Setelah kepergian suaminya bekerja Rara Bersiap untuk mandi karena dia ada janji dengan Bulan untuk bertemu di cafe favorit mereka setelah sekian lama.
***
"hay bumiku, maaf ya sedikit telat" sapa Bulan dengan heboh seperti biasanya.
"ga papa Lan santai aku juga belum lama kok" ujar Rara menerima cipika cipiki dari sahabatnya itu.
Waktu berjalan tidak terasa ketika dua sahabat itu bertemu, mereka telah bercerita kesana kemari barulah Rara disadarkan bahwa waktu makan siang akan segera tiba.
"eh Lan kek nya aku harus cabut dulu deh, karena ada janji makan siang dengan mas Hendra atau mau sekalian bareng aja" ajak Rara di ujung kalimatnya.
"Lain kali aja ya Ra, soalnya aku juga masih ada kegiatan setelah ini" tolak Bulan halus takut menyinggung hati wanita hamil di hadapannya.
Hingga akhirnya Rara kini sedang di perjalanan menuju kantor suaminya bersama supir yang bekerja bersama mereka semenjak kehamilan Rara, Hendra bilang agar kalau Rara mau kemana-mana ada yang mangantar ketika ia sedang bekerja atau lagi ada kegiatan ia benar benar ingin yang terbaik untuk istrinya itu.
"eh maaf pak, boleh berhenti sebentar ga aku ingin makan batagor yang di pinggir jalan itu" ujar Rara kepada pak Beni, supir mereka.
"boleh non, biar saya aja yang turun ya" jawab sang supir karena sebelumnya ia sudah diwanti-wanti untuk hal seperti ini. mau tidak mau Rara harus mengiyakan walau ia sangat ingin membelinya sendiri namun ia tidak mau mengambil resiko jika itu tentang baby mereka.
Lama menunggu akhirnya senyum Rara terbit Ketika melihat pak Beni menenteng kresek di tangannya. Namun
BRAKKKK BUUUMMMM (anggap aja suara dentuman yang gengs)
__ADS_1