Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Gelisah


__ADS_3

Dua Bulan berlalu berlalu kini hubungan suami istri itu kian membaik dan semakin dekat. Hanya saja Rara masih belum sepenuhnya bisa mengekspresikan diri yang sesungguhnya di hadapan sang suami, entahlah kenapa yang pasti ia hanya belum bisa sepenuhnya bersikap kepada Hendra sebagaimana kepada ayah dan ibunya. Menurut nya ia masih memerlukan waktu lagi agar bisa lebih 'dekat' dengan suaminya itu.


Padahal kalau dilihat dari perlakuan Hendra tidak ada yang kurang, ia begitu memanjakan sang istri dengan segala sesuatu yang ia anggap bisa memuaskan sang istri dan menjaga kenyamanannya. Itulah yang ia perbuat selama usia pernikahan mereka yang masuk bulan ketiga ini. Dan Rara bukan tidak bisa merasakan tindakan sang suami hanya saja ia ia belum bisa menjadi dirinya sendiri walau ia sudah menerima Hendra sepenuhnya sebagai suami, seolah-olah masih ada sekat walau tipis diantara mereka.


"sayang kenapa kok malah bengong?" tanya Hendra yang membuat Rara tersadar dari lamunannya dan sekaligus tersipu. Entah mengapa panggilan sayang dari suaminya selalu membuat ia merona walau dari malam mereka menjadi suami istri yang 'sesungguhnya' Hendra sudah membiasakan panggilan itu. namun tetap saja ada rasa yang tidak bisa Rara jabarkan ketika mendengar panggilan itu selain mendebarkan pastinya.


"ga kok mas, aku bingung aja mau milih dasi yang mana" jawab Rara berkilah yang kini sudah membalikkan badan menghadap Hendra membelakangi lemari yang tadi ia sempat ia buka. Sontak saja ia mengalihkan pandangan dari tubuh suaminya yang setengah telanjang berbalut handuk tersebut.


"Kenapa bingung?, kan mas selalu suka apapun yang kamu pilih" jawab Hendra tersenyum hangat kepada sang istri.


"ok yang ini saja, aku mau mandi dulu ya mas. Mas tunggu aku di meja makan" titah Rara kepada sang suami langsung ngacir ke kamar mandi karena penampilan sang suami tidak baik untuk kesehatan jantung nya. Senyum masih menghiasi bibir Hendra karena merasa terhibur dengan tingkah sang istri yang masih saja malu-malu. Segera saja ia mengambil baju yang sudah di pilih oleh istrinya tadi.


"memang selera nya tidak bisa di sepelekan" puji Hendra dengan senyum mengembang.


Sementara di Kediaman Hara


Yelsi kini tengah menyiapkan sarapan untuk Hara suaminya. Ini memang sedikit kepagian tapi semalam Hara mengutarakan bahwa pagi ini berniat keluar kota.


"Yel HPL nya masih dua minggu lagi kan?" tanya mas Hara membuka obrolan.


"iya mas, kenapa?" Yelsi menutup buku panduan melahirkan di pangkuannya.


"m-mmm jadi begini, besok mas mau keluar kota untuk meninjau proyek yang mas garap. Rencananya mas akan cuti seminggu sebelum kamu melahirkan. gapapa kan Yel?" tanya Hara yang khawatir dengan kelahiran sang baby. Yelsi tersenyum di buatnya karena ia merasa perlahan Hara sudah bisa menerima keberadaan mereka walau itu bayi nya sekalipun. Ia sangat bahagia.

__ADS_1


"gapapa kok mas, mas berencana cuti aja untuk kami aku udah senang" jawab Yelsi jujur. Hara meringis di buatnya karena ia sadar selama ini perhatian masih sangat jauh dari kata cukup. Namun ia tetap berusaha kok.


Hubungan mereka memang sudah ada sedikit kemajuan dibandingkan sebelum sebelumnya walau tidak banyak namun Yelsi bersyukur. Dan ia yakin suatu saat nanti akan bisa memenangkan hati sang suami. Sekarang memang hubungan mereka hanya sebatas mengenai anak mereka namun itu sudah lebih dari cukup bagi Yelsi.


Dan Yelsi yakin nanti Hara juga akan bisa mencintai diri lebih dari pada cinta suaminya kepada mantan nya yang lebih tepatnya mama mertua nya itu. Tidak ada sedikitpun dendam di hati Yelsi atau rasa ingin bersaing karena ia tau pasti ia tidak ada apa-apa nya dibandingkan Rara.


Ia adalah ia dan tidak akan pernah berubah menjadi orang lain walau itu sosok yang di kagumi suaminya sekali pun. Yelsi akan membuat suami nya jatuh cinta dengan apa yang ada dalam dirinya tanpa adanya bayang bayang dari masa lalu suaminya itu.


"Aku pasti bisa"Batin Yelsi tersenyum sendiri dengan hanyalah nya. Kembali ia mengusap pinggangnya yang terasa panas sejak subuh tadi.


"Ssstttttttt jangan kencang kencang nak, kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan hati papa ya. kita pasti bisa mendapatkan itu" Yelsi mengusap perut nya dengan lembut. Yang di sambut dengan tendangan halus oleh sang baby. Yang dianggap Yelsi sebagai tanda persetujuan dari sang baby dan ia semakin tersenyum lebar di buatnya.


Hara menuju dapur yang disambut dengan punggung sang istri yang nampaknya masih asik dengan masakan di depannya.


Hara juga takut anaknya kenapa-napa karena sayang nya berlipat setelah ia menyentuh perut Yelsi, ia bisa merasakan suatu yang ga bisa di jelaskan dengan kata-kata.


"gapapa mas, setidaknya aku ada gerak sedikit kan bentar lagi mau lahiran jadi biar mudah proses nya nanti. lagian kalau aku udah ga kuat aku kan bisa istirahat mas" tutur Yelsi saat itu dan hara hanya mengiyakan walau begitu ia tetap minta tolong kepada bi sumi agar selalu memantau aktivitas Yelsi ketika ia tidak di rumah.


"bi sumi kemana Yel?" ucap Hara pelan agar tidak membuat Yelsi terkejut.


"bi sumi ke lagi pasar mas, bahan-bahan udah pada abis soalnya" jawab Yelsi yang sudah membuka sepiring nasi goreng ke hadapan Hara.


"sarapannya pakai ini aja dulu ya mas" ucap Yelsi yang dibalas anggukan dan senyum tipis oleh Hara.

__ADS_1


Mereka sarapan dalam diam namun Hara bisa melihat bahwa Yelsi kini tengah menahan sakit yang coba ia sembunyikan.


"ada yang sakit Yel?" tanya Hara yang membuat Yelsi terperanjat.


"eh ga kok mas, hanya sedikit merasa mulas saja dan pinggang aku juga dari subuh tadi agak panas" jawab Yelsi tenang yang membuat Hara panik.


"kok ga bilang dari tadi, ayo sekarang kita ke rumah sakit" Hara segera berdiri dari duduknya.


"mas tenang dulu, ini hanya kontraksi palsu kok. dia kan hanya sesekali sakit nya, lagian kan masih dua minggu lagi mas" ucap Yelsi sedikit bisa menenangkan Hara.


"kalau gitu apa mas ga usah pergi aja ya Yel?" tanya Hara bimbang.


"eh jangan dong mas, katanya Minggu depan mau cuti. lagian kan ada bi sumi sama Tulang ucok jadi aku bakal aman toh mas juga ga akan lama" ucap Yelsi masih dengan mengelus-elus perutnya.


"ya udah mas pamit ya Yel, kalau ada apa-apa kabari secepatnya " pamit Hara dengan mengulurkan tangan kepada Yelsi.


"kamu jangan nakal ya nak, kasian mama" ucap Hara dengan mengecup perut Yelsi yang membuat ia tersenyum.


Entah apa yang membuat Hara begitu gelisah dari tadi, padahal ia baru saja berhubungan via telpon dengan yesli dua jam yang lalu. namun itu tidak mampu menenangkan hatinya.


"kamu harus fokus Hara, agar kamu bisa pulang malam ini juga" batin Hara.


Getaran ponsel di meja menyadarkan Hara dari pekerjaan nya.

__ADS_1


"iya hallo, a-apa.....


__ADS_2