
"udah ya mas, kan saya udah minta maaf. Dan ini kartu nama saya nanti kita selesaikan. sekali lagi maaf dan sekarang saya buru-buru" ucap ku sambil menyerahkan kartu nama yang ku ambil dari tas ke tangan nya.
Tanpa menunggu jawaban dari nya aku langsung saja masuk mobil dan berniat segera meninggalkan tempat ini.
"Tunggu...
Namun itu hanya bisa aku ucapkan dalam hati, aku belum mempunyai keberanian untuk itu.
ku lihat mobil nya mulai melaju dan membelah jalanan. Bisa kah aku meminta agar suatu saat bisa bertemu lagi dengan dia atau bahkan melebihi itu bisa dipersatukan dalam ikatan yang sah.
Entah apa yang ada di dalam dirinya sehingga aku begitu terpesona kepada nya sejak saat pertama kali bertemu.
awalnya ku kira hanya sebatas perasaan kagum saja namun semakin kesini aku semakin yakin bahwa ini adalah perasaan seorang laki-laki ingin memiliki seorang wanita.
Namun bagaimana aku harus memulai semuanya. Dulu memang aku seorang bad boy yang bisa dengan mudah mendapatkan seorang wanita tanpa harus ku utarakan mereka dengan senang hati datang sendiri.
Namun sekarang berbeda aku menginginkan wanita yang hanya aku tau namanya saja tidak dengan seluk beluk dan apapun yang berkaitan dengannya. Apakah aku sudah gila. ah entah lah.
Setelah tersadar dari khayalan yang entah kemana arah nya itu aku pun masuk kembali ke mobil guna untuk memarkirkan mobil dan segera masuk ke tempat pesta yang menjadi tujuan awal ku.
Segera ku alihkan pandangan setelah sampai di ruangan yang sudah di sulap menjadi tempat pesta di laksanakan.
Memang tidak ada kesan mewah disini namun begitu elegan dan menyejukkan mata.
"oooo masih datang lu bang?, pesta udah mau siap nih" suara yang begitu familiar itu mengejutkan aku yang tengah asik memandangi dekorasi ruangan ini. segera saja ku balikkan badan ku.
"eh sin, maaf tadi cepat kok berangkat namun karena ada sesuatu yang harus di urus dulu ya terpaksa Abang tadi meeting menggunakan pakaian batik seperti ini" ujar ku yang disertai dengan kekehan di ujung kalimat karena teringat kembali kejadian barusan di kantor.
__ADS_1
"makanya bang jangan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sampai pernikahan anaknya aja terlambat seperti ini" ujar sindy dengan sewot.
Aku memutar bola mata malas karena sudah tau akan seperti apa ujung dari pembahasan ini.
"udah dulu ya sin, Abang mau nemuin anak Abang dulu takut dia ngambek karena Abang sudah datang terlambat" tanpa mendengarkan jawabannya langsung saja aku melangkahkan kaki sebelum radio rusak bumil itu kembali berkoar. hahahah
Bukan hal yang sulit untuk menemukan keberadaan Hara, ya iyalah orang yang pesta pasti mencolok keberadaannya. Hendra Hendra.
"Papa kemana aja, kok baru muncul" ucapan Hara langsung menjamu ku
"maaf Har, sebenarnya papa tadi cepat berangkat dari rumah. Tapi tiba-tiba ada rapat mendadak yang tidak bisa di undur. Ya terjadi lah papa meeting menggunakan pakaian seperti ini" jawab ku sambil tertawa.
"tetap aja papa terlambat, masa di hari anaknya menikah papa nya malah datang terlambat" Jawab Hara masih merajuk.
"Ya udah sih Har, udah besar juga masa ga malu sama istri merajuk seperti itu malah sebentar lagi ada anak" jawab ku sambil melayang kan pandangan ke arah menantu ku itu.
kata kata menantu sebenarnya sedikit menggelikan di telinga ku namun apalah daya.
Dapat ku lihat mereka berdua mengangguk kepala.
"Dalam banget kata katanya bang" sahut si paling XL. Nyambung terus.
"apa sih sin, jangan mengacau disini ya, Mana sih suami mu?. Biar diamanin nya dulu istri nya ini" tanya ku pada sindy.
seketika mata sindy berkaca-kaca.
"bang Saldi jahat bang masa dia lebih mentingin pekerjaan dari pada kesini. katanya tadi segera nyusul lah sampai sekarang belum datang juga" jawabnya dengan air mata yang sebentar lagi tumpah.
__ADS_1
" Ya udah ya sin, ga usah nangis bentar lagi pasti datang. nanti Abang kasih kalian voucher VVIP nonton di bioskop biar kamu lebih nyaman" ucap ku menghibur nya.
"yang benar yang bang" ucap nya dengan mata yang berbinar. membuat aku menggelengkan kepala.
Hadeh bumil bumil, baru juga mau nangis sekarang aja sudah berbinar kembali tanpa tersisa kesedihan sedikit pun di wajahnya.
saat aku menolehkan kepala ke arah Hara dia malah mengangkat bahu tanda tidak mengerti juga.
sedangkan Yelsi dia malah tersenyum lebar mungkin sebuah senyum maklum karena dia juga mengerti perasaan sindy sebagai sesama wanita hamil yang perasaannya sensitif dan moodyan.
"oh iya bang, masa kami aja yang dapat voucher VVIP nonton bioskop. emang Hara ga ada gitu dapat apa-apa sebagai kado pernikahan" ucap sindy yang membuat kedua pengantin itu salah tingkah.
" Pasti dong. siapa bilang Abang ga ada kado untuk mereka. nanti ketika pesta ini selesai maka mereka tinggal naik ke roof top hotel ini. disana akan ada helikopter yang menunggu mereka untuk dibawa ke tempat yang mereka inginkan untuk bulan madu." jawab yang lebih membuat mereka saling pandang.
"rasa nya ga perlu deh pa, Yelsi juga pasti capek siap pesta nanti" ujar Hara yang di ikuti anggukan oleh Yelsi.
"gapapa capek sedikit Har, toh kan akhirnya nanti akan dinilai ibadah juga. Dan pasti rasa capek nya segera terbayarkan" sahut sindy sambil tersenyum yang memiliki arti.
pletaakk
"aww sakit bang " ujar sindy sambil mengusap kepala nya.
"lebay orang cuma di sentuh doang " jawab ku yang membuat ia tertawa.
" oooo iya bang kembali lagi ke pembahasan kita tadi yang belum selesai. kenapa Abang ninggalin aku gitu aja" ujar nya yang membuat aku menyergitkan dahi berfikir pembahasan yang mana yang belum selesai tadi.
"Bang kan Hara udah nikah tuh , Abang kapan?" tanya nya yang seketika membuat aku berhenti berfikir dan segera memutar bola mata malas.
__ADS_1
kirain tadi karena aku udah menghindar dari dia maka pembahasan itu akan segera selesai untuk saat ini. ya setidaknya untuk saat ini.
"eh bang kalau diperhatikan sepertinya baju yang abang paka sekarang hampir sama dengan baju........