
Belum lagi bagaimana aku menyampaikan nya kepada Rara. Aku tidak akan sanggup menatap matanya dan mengatakan semua kebenaran ini. Aku juga tidak akan mampu melihat dia terpuruk atas kabar yang aku sampai kan.
Atau bagaimana jika aku menyembunyikan ini semua dari Rara.
Ah tapi bukankah itu akan lebih menyakitkan nantinya apalagi dia tau dari orang lain bukan dari ku langsung.
Entahlah bagaimana penyelesaian semua ini. Bergelut dengan berbagai macam pikiran tak tersadar secara perlahan aku mulai memasuki alam bawah sadar dan terlelap di bawah remangnya pencahayaan lampu tidur.
Namun tidur ku terusik oleh suara yang bersumber dari handphone ku. Dengan gerakan malas aku menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan handphone ke telinga namun masih dengan mata yang terpejam, hanya insting yang ku ikuti.
"Assalamualaikum mas" Sapaan wanita ku di seberang sana. Masih pantaskah aku menyebutnya sebagai wanita ku aku pun tidak tau jawabannya.
"Mas, hallo, assalamualaikum" ucapan itu kembali menyadarkan aku dari lamunan.
"Iya Sayang waalaikumsalam" ucap ku dengan nada serak khas bangun tidur.
"Astaghfirullah mas belum bangun jam segini ya Allah" ucap nya dengan sewot, tapi aku menikmati itu semua dan aku suka.
__ADS_1
"Udah bangun kok Ra, nah buktinya udah ngomong sama kamu" jawab ku dengan terkekeh.
"Ihhh mas bukan gitu maksudnya. Masa jam segini mas masih baru bangun. Pasti ga sholat subuh dan akan telat berangkat kerja nanti" sambungannya dengan masih nada yang sama. Dan aku dapat membayangkan bagaimana sekarang mulutnya pasti lagi monyong. Aku terkekeh sendiri membayangkan nya. Beginilah kalau sudah mendengar suara nya semua gundah di hati pada saat yang bersamaan terabaikan.
"Mas hallo" ucapnya karena mungkin tidak ada jawaban dari ku.
"Iya sayang mas masih disini menikmati indahnya dan merdunya kicauan mu pagi ini" gombal ku yang pasti bisa membuat rona di pipinya timbul.
"Ih kok kicauan emang aku burung apa mas?" Tanya nya dengan nada yang semakin sewot.
"Tambah ga jelas mas, udah deh sekarang mas mandi dan segera siap-siap agar ga terlalu telat ke kantor"
"Siap bu bos, laksanakan" membuat ia terkekeh di ujung sana.
"Oh iya mas sampai lupa, kenapa mas nelpon aku tengah malam tadi?''
"Oh itu e e insomnia mas semalam kambuh" jawab dengan gugup karena belum memikirkan jawaban apa yang akan aku berikan.
__ADS_1
"Maaf ya mas Rara udah tidur. Pulang dari rumah sakit aku langsung membersihkan diri dan langsung tidur" paparnya panjang lebar.
"Iya sayang gapapa kok mas ngerti. Oh iya Ra mas ga bisa antar kamu hari ini ya karena mungkin mas akan sedikit telat ke kantor "
"Iya mas, lagian aku udah siap dari tadi tinggal sarapan aja lagi kemudian berangkat deh kalau nunggu mas bisa-bisa aku ikut telat"
Dan aku balas hanya dengan kekehan.
"Kita tutup dulu ya Ra biar mas mandi terus siap-siap dan berangkat kerja deh"
"Iya mas, Rara tutup ya Assalamualaikum "
"Iya sayang Waalaikumsalam "
Hari berlalu dengan cepat tidak terasa sudah berjalan 3 hari dari kejadian malam terakhir kami bicara dengan Yelsi.
Namun sampai saat ini aku belum bisa menentukan sikap terhadap permasalahan ini. Dan tiga hari ini hubungan kami agak renggang dengan Rara karena setelah kami nelpon malam itu.....
__ADS_1