
"Sekarang kamu istirahat dulu, kerena sebentar lagi akan ada orang yang mau mas kenalkan dengan mu"
"siapa mas?" tanya Rara penasaran karena setau nya tadi malam Hendra sudah tidak memiliki orang tua dan ia juga anak tunggal.
"dia adalah anak mas....
belum selesai kalimat yang akan di lontarkan oleh Hendra Rara sudah akan linglung dari posisi nya yang sekarang berdiri.
"apa dia bilang tadi, anak?. apakah aku seorang pelakor yang menikahi suami orang atau suami ku adalah duda yang memiliki anak?. namun kenapa ia tidak berterus terang kepada ku sebelumnya?". berbagai kemungkinan bersileweran di kepala Rara.
"hey Ra, kamu kenapa?, sakit lagi?"tanya Hendra membantu Rara duduk dan dengan tatapan yang khawatir.
segera saja tangan itu Rara tepis dengan kasar. ia tidak mau menganggu rumah tangga orang lain. namun ia harus bagaimana mereka baru saja sah menikah dan katanya ayahnya tadi pagi untuk resepsi akan diadakan paling lama sebulan lagi. bagaimana ia akan menghadapi orang tua nya. tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja.
"hey Ra, kamu kenapa?. kenapa tiba-tiba menangis?. ada yang sakit? atau aku ada salah sama kamu? " tanya Hendra beruntun yang kali ini tidak berani untuk menyentuh bahu Rara karena takut akan di tepis lagi.
__ADS_1
"ma mas jahat kenapa ga bilang kalau sudah menikah, kenapa mas membohongi aku juga orang tua ku hiks hiks" sahut Rara setelah mencoba mengatur nafasnya yang sesak karena menangis.
"Ra kamu tenang dulu ok, ia ga seperti yang kamu pikir. kamu tenang dulu biar mas jelasin ya" Jawab Hendra dengan menahan tawa karena melihat Rara menangis sesenggukan.
sebenarnya salahnya juga sih memberi penjelasan tidak lengkap.
"tenang kamu bilang mas? bagaimana aku bisa tenang setelah pernyataan kamu barusan? kamu...."
"suttt kamu jangan ambil kesimpulan dulu ya, tenang dulu dan dengarin penjelasan mas" beruntungnya ajakan Hendra kali ini tidak mendapat penolakan namun tetap saja Rara masih menangis.
"....tapi bukan anak kandung Ra. kami sebenarnya memiliki umur yang tidak terpaut jauh yaitu hanya 7 tahun saja. namun karena katanya aku memiliki sifat yang kebapakan maka dia ga mau manggil aku abang, mas atau sejenisnya. Dia tetep kekeh manggil aku papa karena dia sudah menganggap aku papa nya" sambung Hendra yang kali ini Rara sudah mendongakkan pandangan dari yang tadinya menunduk mencari kebenaran di raut wajah Hendra.
"sekarang kamu istirahat dulu sebentar karena capek juga kan habis nangis karena salah paham" canda Hendra yang entah sejak kapan berubah menjadi hangat seperti sekarang.
sedangkan Rara hanya membalas dengan anggukan dan berusaha menyembunyikan wajah yang sedang memerah karena malu.
__ADS_1
"oh iya mas kamar kita yang mana?" tanya Rara yang membuat Hendra tidak dapat menyembunyikan senyumnya karena mendengar 'kamar kita '.
"oh iya kamu gapapa sekamar sama mas? mas tidak akan memaksa. karena tidak bisa di pungkiri bahwa kita masih akan memerlukan waktu untuk saling mengenal satu sama lain"
"ini bukan pernikahan kontrak seperti yang sering aku baca ya mas. kita menikah sah secara agama dan negara. jadi aku ga mau ada drama drama pisah kamar. walau kita masih akan membutuhkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain. "
"makasih ya Ra, walau mas tau ini tidak mudah untuk kamu tapi kamu berusaha menerima mas" tatapan hangat dari Hendra belum bisa Rara tafsirkan apa maksud nya yang pasti ia nyaman dengan itu.
"Ra kita turun sebentar ya. anak mas udah datang tu. masa anaknya belum kenal dengan mamanya" canda Hendra yang membuat Rara tersipu karena masih ingat dengan tragedi tadi ketika ia menangis sebelum penjelasan Hendra selesai. huh ia malu.
setelah sampai di lantai bawah entah mengapa jantung Rara terasa berdebar dan ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Rata melihat dua orang yang rasanya tidak asing dan deg...
"kenapa harus dia"
__ADS_1