
Tapi di satu sisi dia merasa sangat beruntung terlahir dari orang tua seperti Umar dan Desi karena begitu sempurna menjadi orang tua dan juga saling mengerti sebagai pasangan.
Namun di sisi lain dia sedih karena mulai pesimis takut tidak akan mendapatkan laki-laki yang sama atau setidaknya mendekati kepribadian sang ayah.
Karena dia sudah terbiasa di perlakukan dengan sangat baik oleh ayah sang cinta pertama nya.
"Ra, kamu kenapa?"
Tanya seseorang mengagetkan aku yang ternyata adalah ayah.
Langsung saja ku ulurkan tangan ku untuk menghapus jejak air mata ku.
"Ga kok yah, Rara cuma kelilipan sampe perih matanya. Eh ayah mau kemana?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu ga perlu berpura-pura kuat di depan ayah nak. Mungkin Hara belum yang terbaik untuk mu tapi ayah harap kamu tidak sampai menutup hati kepada orang baru. Memang ga mudah tapi ayah yakin putri ayah pasti bisa" ujar ayah membawa ku ke pelukannya.
Dan ternyata kesedihan dan air mata yang coba ku sembunyikan dari tadi kembali luruh diperlukan cinta pertama ku.
__ADS_1
"Ayah yakin suatu saat yang tepat nanti akan ada laki-laki yang tidak banyak berkata-kata namun mampu membuktikan dengan tindakan bahwa ayah pantas mempercayakan anak ayah ini kepada dia" ucap ayah yang disertai dengan elusan di punggung dan juga sesekali kecupan dilayangkannya di kepala ku.
"Udah ya Ra, mungkin awalnya memang susah dan terasa berat namun semua pasti bisa di lewati. Dan satu hal yang penting dan perlu di tanamkan dalam hati bahwa sebelum memulai suatu hubungan pasti ada resiko nya, apabila terjadi sesuatu hal yang tidak terduga atau pun suatu hal yang tidak diinginkan. Dan kita harus siap akan itu dan kemungkinan terburuk adalah kehilangan " ucap ayah yang membuat ku semakin tergugu.
Ayah dengan sabar masih melakukan hal yang sama seakan mengerti dengan apa yang aku inginkan saat ini, yaitu hanya ingin diam dan dipeluk seperti ini dengan begitu aku bisa menyalurkan kesedihan ini dengan menangis.
Setelah beberapa waktu aku menjadi lebih tenang dan seakan kegundahan dalam hati ini sedikit berkurang dengan mendengarkan nasehat ayah yang seakan menjadi motivasi untuk ku.
"Maaf ya ayah, sudah sebesar ini Rara masih ga malu menangis di hadapan ayah" ucap ku menundukkan kepala.
Ucapan ayah tersebut lantas membuat ku kembali menghamburkan diri ke pelukan ayah.
"Makasih ayah, sudah menjadi ayah yang terbaik dan tetap lah selalu seperti ini untuk kami. Ayah ga boleh berubah dan harus selalu seperti ini" ucap ku yang kali ini menangis karena merasa sangat beruntung memiliki ayah .
"udahan dong peluk nya, lama banget"
lantas saja aku memutar bola mata malas karena tanpa menoleh aku sudah tau siapa dalangnya.
__ADS_1
"apaan sih bun, ganggu aja lagi romantis juga" ujar ku sambil memonyongkan bibir sambil melepaskan pelukan dan sambil mengusap lendir yang keluar dari hidung ku.
"ihhhh jorok deh" kata bunda manampilkan rawut jijik yang membuat ayah tergelak.
" romantis sih romantis, tapi kan ga selama itu juga pelukan nya. Dari tadi ga nyampe nyampe ya air nya. ternyata oh ternyata ini yang terjadi" ucap bunda galak.
Namun aku tau jauh di lubuk hatinya bahwa bunda sedang berusaha untuk menghibur ku dan aku cukup terhibur dengan itu .
"eh iya bun, ayah sampai lupa" ujar ayah sambil menggaruk kepala sebagai suatu kebiasaan ketika melakukan kesalahan kecil kepada bunda.
"ya udah deh bunda ambil sendiri aja"
"jangan dong, sama-sama aja yok bunda kan baru sembuh"
"ya udah bun, yah Rara ke kamar dulu"
yang hanya dibalas dengan anggukan oleh keduanya dan aku melanjutkan langkah ke sofa guna mengambil handphone ku yang tertinggal tadi sewaktu curhat dengan bunda dan berakhir dengan sesi kedua bersama ayah.
__ADS_1