Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Baby Arsy


__ADS_3

"Eh maaf ya sayang mas ketiduran, jadi kamu sendirian deh" jawab Hendra lalu perlahan berdiri dan mengambil sang putri dari pangkuan ibunya.


"ga papa mas, aku tau kamu juga capek. Tapi aku terpaksa membangunkan mas karena aku masih belum bisa bergerak leluasa" ucap Rara sambil terus memperhatikan tingkah Hendra yang kini sedang menimang anak mereka dengan sayang, yang sempat terbangun mungkin karena ada pergerakan Hendra menggendongnya.


"mas nanti aku cemburu ga ya melihat kamu begitu sayang sama anak kita?" tanya Rara ketika Hendra sudah kembali ke tempat semula di dekatnya.


"jangan cemburu dong sayang, kalian sama-sama kesayangan mas. jadi ga boleh berebut ya" nasihat Hendra dengan nada lembut persis seperti mengajari anak TK. wkwkwk.


"Sekalipun mas sayang kepada anak kita, rasa sayang nya itu akan berbeda dengan rasa sayang mas kepada istri mas ini" ujar Hendra sambil menoel hidung Rara dengan gemes. Hendra tau pasti emosi seorang ibu yang baru saja melahirkan itu berbeda. begitu yang ia baca dari om yang maha tau, Jadi dia harus menjaga perasaan sang istri.


"ya udah sekarang tidur ya sayang, kamu masih perlu banyak istirahat." ujar Hendra sambil membantu Rara untuk mengubah posisinya menjadi berbaring.


"makasih ya mas, kamu udah selalu di samping aku" ucap Rara dengan melihat wajah lelah sang suami nya.


"mas yang makasih sayang, kamu udah mau berjuang sehebat ini untuk penerus kita. makasih sayang dan maaf juga hanya kamu yang merasakan kesakitan tadi, sedang mas...


cup


"ga ada kata makasih mas, karena ini untuk kita juga kan" kata Rara sambil terkekeh melihat ekspresi sang suami yang masih mematung di tempatnya mungkin karena pengaruh kecupan yang baru saja Rara daratkan di pipi sebelah kanannya.


***

__ADS_1


"udah ga ada lagi yang tertinggal kan mas? tanya Rara yang saat ini sedang mengendong babi Arsyi, anak mereka" sekali lagi memastikan barang-barang mereka tidak ada yang tertinggal. Hari ini adalah hari kepulangan Rara dan bayi nya dari rumah sakit setelah bermalam disana selama tiga malam lamanya.


"udah semua sayang" jawab Hendra yang begitu telaten menyimpan baju kotor Rara di tempat yang telah di siapkan.


Begitu beruntung Rara dipertemukan dengan laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu, sampai baju kotor Rara tidak di izinkan Hendra disentuh oleh bi Iyun selaku art mereka. Karena menurut Hendra itu merupakan bagian kotoran dari istrinya yang saat ini sedang dalam mas nifas. Jadi ia ingin sendiri yang turun tangan bukan orang lain sekalipun itu adalah orang yang bekerja untuknya.


Setelah sampai di rumah Rara dikejutkan dengan banyak nya orang yang berkumpul untuk menanti kepulangan mereka. mulai dari semua anggota keluarga Rara tanpa terkecuali dan juga oleh Hara tentu nya dari pihak sang suami.


Semua orang begitu antusias atas kelahiran Arsyi, anak pertama mereka. Setumpuk kado yang belum pernah Rara sentuh sama sekali bisa menjadi bukti di samping perhatian perhatian kepada baby Arsyi. Padahal sebelumnya Hendra Sudah mengatakan tidak perlu repot repot untuk membeli ini itu untuk putrinya. Bukan ia tidak menginginkan itu ia hanya tidak mau membebani mereka semua.


"capek banget ya sayang?" tanya Hendra setelah ia selesai menidurkan anak mereka dan menaruh nya di box bayi. kini mereka sudah berada di kamar sementara yang lain masih berada di ruang tamu. mereka memang berencana menginap mengingat bahwa pasangan muda itu akan kewalahan dengan status baru mereka. Lihat betapa beruntungnya mereka dikelilingi oleh orang yang begitu baik.


"Iya sayang, makasih ya kamu udah menghadirkan semua yang belum mas punya." ujar Hendra sambil menyelimuti sang istri. ia tidak mau Rara terlalu banyak bergerak dulu dan akan berusaha untuk selalu ada jika Rara sedang butuh apapun itu.


"mas jauh dikit deh, aku bau lho" Rara sedikit menggeser badan dari posisi nya tadi, karena Hendra begitu dekat dengannya dan bersiap akan memeluknya seperti biasa. Itu merupakan posisi favorit Rara namun tidak dengan kondisi seperti sekarang ini. Namun Rara tidak kuasa menolak kala suaminya itu membawa dirinya ke dekapan hangat itu.


"apa sih sayang, mau gimana pun kamu mas akan terima. apalagi itu karena anak mas yang akan menjadi penerus kita kelak. ingat ya sayang semenjak kamu sah untuk mas di hadapan Allah maka apapun tentang kamu itu akan mas terima. ibarat kata jika suka maka terima juga keburukan. begitu pun sekarang kemarin kamu harum, wangi.as nempel sama kamu sekarang pun ga ada bedanya sayang" papar Hendra panjang lebar sambil mengelus kepala Rara yang sudah bersandar nyaman di dadanya.


***


"jadi kapan gue bisa pulang?"tanya seorang laki-laki yang memakai seragam khas orang sakit.

__ADS_1


"ya sabar dikit napa?, keadaan lo aja masih kek gini. sok sok-an mau cepat pulang " jawab wanita yang kini menyuapi laki-laki itu.


Ya sudah banyak perubahan yang terjadi diantara mereka selama beberapa hari ini. mereka sudah banyak mengobrol walau masih ada sekat yang tidak bisa dilewati oleh masing-masing mereka.


Setelah Bulan tau alasan yang sebenarnya di balik terjadinya kecelakaan yang membuat ia menjadi tersangka walau tanpa sengaja ia begitu ilfil melihat laki-laki di hadapannya ini.


Beda halnya dengan laki-laki itu, walau belum lama mengenal Bulan ia begitu nyaman berada di samping wanita itu yang apa adanya bahkan sangking apa adanya sering di buat sakit hati dengan ucapan berbisa sekaligus menusuk itu. hedeh


Namun entah mengapa ada daya tarik tersendiri dari wanita yang suka ceplas-ceplos itu, ia begitu terhibur dengan tingkah absurd nya itu yang kadang di luar negeri eh nalar.


"Kalau boleh tau apa sih yang membuat kamu sampai hati berniat untuk melakukan tindakan kamu kemarin?" tanya Bulan yang masih amat sangat penasaran. Ia memang sudah tau bahwa terjadinya kecelakaan itu karena niat laki-laki di hadapannya ini gagal untuk mencelakai orang yang ia anggap rival tersebut.


"kapan-kapan aja deh gue kasih tau" jawab laki-laki itu dengan malas jika sudah menyangkut pembahasan itu. Entah mengapa ia tidak begitu bersemangat lagi untuk itu, bahkan sekarang ia merasa bahwa ini adalah karma untuknya karena kejahatannya.


"ayolah kasih tau gue, gue bisa jaga rahasia kok" rayu Bulan sambil meletakkan nampan yang berisi makanan untuk laki-laki tadi yang kini sudah kosong.


Terdengar helaan nafas dari laki-laki tersebut sebelum ia memutuskan untuk bercerita secara detail mengenai kejadian sebenar dan selengkapnya. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan wanita di hadapannya ini, karena ia tau betapa keras kepalanya wanita itu dan entah mengapa juga ia selalu di buat kalah oleh keinginan wanita itu.


"ya begitulah tiba-tiba aku terbangun udah merasakan sekujur badan ku sakit dan melihat mu di ruangan ini" tutup laki-laki itu mengakhiri ceritanya.


"bangsat tau gitu kemarin lebih baik ku biarkan mu mati sekalian"

__ADS_1


__ADS_2