Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Lumpuh


__ADS_3

Kini wanita tersebut tengah mondar-mandir di depan ruangan laki-laki yang menjadi korban tabrakannya tanpa sengaja. Ia tengah menunggu dokter yang menangani pasien keluar dari ruangan.


"astaga apa yang baru aku lakukan, aku menabrak orang. Ah tapi ini bukan salah ku sepenuhnya. lagian dia juga kan yang membelok dengan tiba-tiba yang membuat aku tanpa sengaja juga menabrak nya" ujar wanita itu yang membela dirinya sendiri.


Karena mendengar suara pintu ruangan di buka, segera saja wanita tersebut mengalihkan pandangan.


"keluarga pasien" ucap pria paruh baya yang merupakan dokter korban kecelakaan tadi.


"ah iya dokter, saya pacarnya" jawab Bulan cepat. ya wanita yang menabrak orang tadi adalah Bulan, sahabat nya Rara.


Bulan terpaksa berbohong karena ia tidak mau kasus ini sampai di bawa ke ranah hukum, bisa barabe kan kalau ia masuk penjara. kan ga lucu kalau ia belum menikah tapi udah jadi napi. ih membayangkannya aja seram.


"Luka pasien pada bagian kepala tidak begitu parah, sehingga kini ia hanya memerlukan waktu untuk siuman. Namun kakinya terluka parah sehingga ia akan mengalami lumpuh sementara. mudah-mudahan saja tidak akan lama jika kita terus melakukan pengobatan dan kemoterapi juga nantinya " papar dokter memberikan penjelasan. (benar ga sih kek gini, anggap aja benar ygy. wkwkwk)


"b-baik dokter, makasih penjelasannya" seketika wajah Bulan memucat mendengar penjelasan sang dokter.


Dokter beserta perawat menganggap itu reaksi terkejut dan terpukul mendengar kabar yang tidak mengenakkan tentang orang yang di sayangi. Namun bagi Bulan boro-boro terpukul mau memukul kepala sendiri karena sudah ceroboh iya.


Bulan segera menuju ruangan laki-laki yang menjadi korbannya. eh korban apa nih.


"bego lo Lan, bisa-bisanya lo buat anak orang sampai lumpuh. astaga gue harus gimana nih, apa gua kabur aja ya. lagian kan dia ga tau kalau gue yang menabrak dia" sebuah ide tercetus di kepala cantik Bulan.


Bulan masih terus bolak balik di ruang rawat korbannya tadi. ia belum memiliki keberanian untuk melihat lebih dekat orang yang sudah ia tabrak dengan tidak sengaja itu. walau tadi sudah sempat melihatnya namun tidak begitu jelas karena wajah itu berlumuran darah.


Setelah berpikir dengan matang Bulan segera menuju pintu karena ia sudah bertekad untuk melarikan diri dari sana sebelum orang tersebut siuman.


Namun sebuah leguhan menghentikan gerakan Bulan

__ADS_1


"uuuggghhhh" suara tersebut membuat Bulan tidak tega untuk melanjutkan niat awalnya.


Bagaimanapun juga ia adalah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini terlepas dari sengaja atau tidak.


Setelah beberapa saat berperang dengan hati dan pikiran, akhirnya hatilah yang menang diantara keduanya. Ia memutuskan akan bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Lo" ucap bulan ketika sudah berbalik bersamaan dengan laki-laki yang sempat menabrak mobil nya tempo hari.


Bulan seakan kehilangan kata-kata, tidak tahu harus berucap apa dan akhirnya ia hanya diam saja.


"ngapain lo disini? dan kenapa juga gue disini?" tanya laki-laki tersebut sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


"a-anu ma-maaf..." ucap Bulan terbata takut mengakui kesalahannya. Sedang lelaki itu masih sabar menunggu ucapan Bulan dan sekarang tangannya sudah turun dari kepala.


"Lo tadi kecelakaan" ujar Bulan singkat tanpa mengatakan bahwa ia yang menyebabkannya.


Tampak laki-laki itu sedang berfikir dan kemudian raut marah dan geram terpatri di wajahnya.


"ma-maafkan gue, g-gue..." ucapan Bulan terpotong karena disela oleh lelaki tersebut.


"silahkan keluar" ucap laki-laki itu yang membuat Bulan semakin di dera rasa bersalah.


"astaga kenapa ia begitu marah? apakah ia sudah tau bahwa kaki nya lumpuh tidak bisa digerakkan? bego lo Lan bego" rutuk Bulan yang di tujukan kepada diri sendiri.


"kenapa masih diam? Keluar sekarang juga!" bentak laki-laki itu yang menyadarkan Bulan dari berbagai spekulasi nya.


"Aneh kenapa dia marah-marah ya?" batin Bulan bertanya tanya.

__ADS_1


"ti-tidak gue ga akan keluar, bagaimana pun juga gue yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa lo. Maaf kan gue" ucap Bulan setelah menemukan keberanian namun masih dengan menundukkan kepala, tidak berani melihat kearah lelaki itu karena masih merasa bersalah.


"apa maksud lo?" tanya lelaki itu yang nampak berfikir terlihat dari kerutan di dahinya.


"maafkan gue, gue benar-benar ga sengaja. Lagian salah lo juga sih, kenapa mau belok tiba-tiba. jadinya gue ga sengaja nabrak deh" jawab Bulan enteng, entah apa yang membuat ia mendapatkan jati dirinya yang bar-bar kembali.


"Lo ga usah bertanggung jawab kalau begitu, silahkan keluar. lupakan apa yang terjadi barusan" ucap laki-laki itu dengan nada yang dingin setelah beberapa saat ruangan itu dalam keadaan hening.


"ga bisa gitu dong, ini semua kan salah gue walau ga sepenuhnya juga. gue harus tetap tanggung jawab, emang gue cewek apaan" balas Bulan tak terima, entahlah ia juga heran dengan dirinya sendiri. Tadi ia ingin kabur namun sekarang sudah dipersilahkan ia malah menolak. aneh.


"Gue ga butuh tanggung jawab lo, silahkan kamu keluar. saya ada kepentingan" ujar laki-laki itu dan berniat akan duduk.


"eh jangan banyak gerak dulu" ucap Bulan spontan sedikit berlari ke arah laki-laki itu.


"apaan sih, ga usah pegang pegang deh" marah laki-laki itu.


"ye elah lebay amat dah, siapa juga yang mau pegang pegang situ. Lo ga boleh banyak gerak dulu, lo baru siuman lagian sekarang kaki lo ga berdaya. lumpuh tau ga" ucap Bulan brutal melupakan sebuah fakta yang coba ia tutupi setidaknya sampai lelaki di hadapannya tenang.


"a-apa lo bilang lu-lumpuh?" tanya Laki-laki itu terbata yang membuat Bulan kembali sadar atas perkataannya barusan.


"ah itu..."


"KELUAR" bentak lelaki itu dengan nada yang naik beberapa oktaf dari sebelumnya.


"Maafkan gue, gua tau salah walau dikit. Tapi suer gue bakal tanggung jawab kok" ucap Bulan dengan nada memelas.


"Gue mohon lo keluar dulu, gue butuh waktu untuk ini semua. gue mohon" ucap lelaki itu dengan nada lirih syarat akan permohonan.

__ADS_1


"baik gue akan keluar, kalau ada apa-apa gue di luar. lempar aja gelas ini atau apapun itu, gue bakal dengar kok. tapi Lo jangan melakukan perbuatan nekat ya" ucap Bulan tanpa rasa bersalah. Kan gawat kalau tiba-tiba ia bunuh diri.


"Gue masuk penjara karena nabrak orang atau karena korban gue bunuh diri karena depresi ya. atau malah keduanya " iiiiih seram. Batin Bulan membayangkannya.


__ADS_2