Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Aku cemburu ga ya mas


__ADS_3

"aw mas isshhh...."


"sayang kenapa kamu ngompol, kan biasanya bangunin mas dulu. udah ga tahan ya" ujar Hendra yang belum sepenuhnya sadar. Tidak ada sedikitpun rasa marah melihat sprei mereka yang udah basah sebagian, ia maklum.


"aku ga ngompol mas tapi kek nya aku udah mau melahirkan iiissshhh" ringis Rara di ujung kalimatnya.


"oh melahirkan ya udah ayok sini mas bantu ke kamar mandi" sahut Hendra Santainya sambil berdiri dari tempat tidur.


"Eh apa sayang. MELAHIRKAN " Sahut Hendra dengan berteriak karena dia belum sepenuhnya sadar dan nyawanya belum semua kekumpul. wkwkwk.


"jadi sekarang kita harus ngapain sayang?" tanya Hendra dengan tampang orang bingung.


"iiissstttt mas sekarang bantu aku dulu ke mobil, kita ke rumah sakit" ujar Rara menahan emosi. bagaimana mungkin suaminya sekarang bertindak seperti orang bodoh seperti sekarang.


"oh iya ya, maaf sayang mas jadi ga tau harus gimana. mas panik" ucap Hendra yang segera memapah tubuh sang istri. Awalnya ia ingin menggendong Rara saja namun sang istri minta di papah saja. ngeri kalau sampai nanti jatuh walau itu ga akan mungkin terjadi.


" iiiisssttttttt mas tas yang udah kita persiapkan jauh jauh hari itu....


"oh iya ya, sebentar ya sayang" Hendra segera berlari kembali ke rumah mereka untuk mengambil tas yang di maksud sang istri.


"aih kenapa aku menjadi tolol kek gini ya" rutuk Hendra kepada diri sendiri. Rasanya apa yang sudah ia pelajari sebelum sebelum tidak ada gunanya sekarang, seolah menguap begitu saja.


Setelah berbagai drama mereka lewati akhirnya sepasang suami istri itu pun telah tiba di rumah sakit dan langsung dibantu oleh para tenaga medis untuk menuju ruangan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Dan segera saja Rara diperiksa oleh dokter sisil seorang dokter yang umurnya tidak begitu jauh di atas Rara.


"wah udah pembukaan tujuh Ra, sejak kapan mulai terjadi kontraksi?" tanya dokter sisil, mereka memang sudah akrab sejak kandungan Rara berumur tujuh bulan.

__ADS_1


"sebenarnya udah terasa mulai dari sore sih kak" jawab Rara tenang walau dengan masih menahan sakit yang semakin sering menghampiri.


"sayang kok kamu ga pernah bilang sama mas" protes Hendra kepada sang istri. Bagaimana mungkin Rara tidak ada bilang sedikitpun sementara ia sudah merasakan sakit semenjak sore.


"kan masih bisa di tahan mas, kalau mas tau bisa repot seantero rumah mas" jawab Rara yang masih bisa memutar matanya malas di tengah sakit yang ia rasakan.


"Jangan kek gini lagi ya sayang, mas ga mau kamu sembunyikan apapun pada mas, walau itu masalah sepele sekalipun" ujar Hendra sambil memegang tangan Rara yang wajah nya semakin memucat menahan sakit.


Hanya anggukan yang ia terima dari Rara sebagai jawabannya yang membuat Hendra semakin mengeratkan genggamannya.


"kamu yang kuat ya sayang, mas akan selalu di sampingmu " ujar Hendra sambil melabuhkan ciuman di puncak kepala sang istri.


Akhirnya Setelah melewati perjuangan yang melelahkan Rara berhasil melahirkan seorang anak perempuan yang begitu cantik dan sangat mirip dengan ayahnya. Hanya saja kini Rara masih betah tertidur setelah tenaga terkuras untuk melahirkan sang putri.


"makasih sayang, kamu udah berjuang keras untuk melahirkan putri kita. kamu cepat bangun dong, kamu ga mau lihat putri kita" ujar Hendra dengan nada lirih melihat keadaan sang istri.


"eugghhh mas..." leguhan dari Rara berhasil membangunkan Hendra dari lelapnya.


"sayang kamu udah bangun?, gimana sekarang keadaan kamu?, ada yang sakit " Hendra memberondong Rara dengan berbagai pertanyaan.


"mas mana anak kita?" kalimat yang pertama keluar dari mulut Rara adalah menanyakan perihal anak mereka.


"Aih ga adil kan mas, aku yang membawa dia kemana-mana selama sembilan bulan malah datangnya copy-an mas" ujar Rara merenggut untuk pertama kalinya melihat anak mereka dengan kesadaran penuh. Namun walau merenggut Rara tetap saja membelai wajah sang putri dengan sayang.


"yah namanya juga anak aku sayang, Lagian biar kalau mas kerja kamu ingat terus sama mas" jawab Hendra terkekeh melihat ekspresi sang istri yang tidak sesuai dengan tindakannya.

__ADS_1


"pokoknya nanti kalau dia udah besar mas harus buat yang seperti aku" rajuk Rara yang membuat Hendra melebarkan matanya.


"astaghfirullah sayang, ini aja baru bronjol masa udah kepikiran mau buat lagi. lagian itu anak apa kue sayang bisa di request" sahut Hendra geleng geleng kepala melihat tindakan sang istri yang di luar negeri. eh luar nalar.


"hoek hoek" tangis sang putri mengakhiri perdebatan sepasang suami istri itu.


"ih lucu mas, dia nangis" ujar Rara riang.


"hadeh istri kenapa ya Allah, anak nangis bukannya panik malah senang" Batin Hendra sambil menggaruk kepala.


"sayang anaknya nangis loh, mbok ya di susuin bukan di uyel-uyel kek gitu " ucap Hendra tidak habis pikir sama kelakuan istrinya.


Sekilas Rara menatap suaminya dengan senyum jahilnya. Kemudian ia menyusui sang putri yang sedang menangis berbekal ilmu yang sudah ia pelajari sebelumnya dan dibantu oleh Hendra.


"ternyata menjadi orang tua tidak semudah yang kita bayangkan ya mas. walau kita udah belajar juga sebelumnya tetap aja praktek tidak semudah teori " ucap Rara tanpa melihat ke arah sang suami. Rara hanya fokus kepada putri di pangkuannya sambil memainkan tangan mungil itu.


"mas....Aih tidur ternyata" Rara termenung melihat wajah lelah sang suami yang kini tertidur dengan posisi duduk hanya kepala yang berada di samping paha Rara.


"makasih ya mas, kamu udah begitu baik sama aku. Di samping mu aku begitu merasa di cintai dan juga di hormati " ujar Rara yang kini tangan nya sudah berpindah membelai kepala suaminya yang tanpa sadar sekarang ia sudah banyak bergantung sama suaminya itu.


Setelah sang putri, yang belum sempat Rara tanya sama Hendra siapa namanya terlelap karena kekenyangan. Rara terpaksa harus membangunkan sang suami walau dengan perasaan tidak tega karena melihat tidur suaminya yang begitu lelap. Namun ia belum berdaya untuk bergerak sendiri.


"mas bangun dulu sebentar, minta tolong pindahin dia ke box bayi. takut dia ga nyaman tidur disini" ujar Rara pelan membangunkan sang suami, yang syukur nya tidak pernah susah untuk di bangunkan.


"eh maaf ya sayang mas ketiduran, jadi kamu sendirian deh" jawab Hendra lalu perlahan berdiri dan mengambil sang putri dari pangkuan ibunya.

__ADS_1


"ga papa mas, aku tau kamu juga capek. Tapi aku terpaksa membangunkan mas karena aku masih belum bisa bergerak leluasa" ucap Rara sambil terus memperhatikan tingkah Hendra yang kini sedang menimang anak mereka dengan sayang, yang sempat terbangun mungkin karena ada pergerakan Hendra menggendongnya.


"mas nanti aku cemburu ga ya melihat kamu begitu sayang sama anak kita?"


__ADS_2