Menikah Dengan Calon Mertua

Menikah Dengan Calon Mertua
Hendra yang posesif


__ADS_3

Kalau Hara sudah tidak heran lagi melihat Rara yang selalu gemes melihat anak kecil. Hara berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu setelah melihat istrinya dari dekat Hendra juga bergabung meninggalkan sang istri masih sibuk dengan bayi depannya ini.


"siapa nama anakmu Har?" tanya Hendra.


"Muhammad Arthur Alfarizi pa" jawab Hara tersenyum mengingat wajah anaknya yang copy paste dari nya itu.


"bagus na....


BRUUKK


"Ra....


sontak saja Hendra berlari kearah Rara yang sekarang sudah terbujur di lantai dekat tempat baby Arthur.


"Ra bangun Ra hey...." Hendra menepuk-nepuk pipi Rara yang pucat.


Sekarang Hendra sedang mondar-mandir di depan ruangan yang ditempati oleh Rara menunggu dokter keluar dari sana.


" pasti karena Rara belum makan dari tadi, aku juga salah kenapa tidak memaksanya tadi " omel Hendra kepada diri sendiri.


Terdengar suara pintu ruangan terbuka dan Hendra langsung mengalihkan pandangan kepada dokter tersebut.


"bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Hendra tidak sabaran kepada dokter yang membuat dokter tersebut tersenyum.


"mari kita bicara di ruangan saya pak" ujar dokter wanita itu sambil berlalu.


"jadi apa yang terjadi kepada istri saya dok?" tanya Hendra lagi ketika sudah sampai di ruangan dokter tersebut.


"ibu Rara hanya pingsan karena sudah melewatkan jadwal makannya di tambah dengan keadaan fisik nya yang lemah. Bapak juga harus memperhatikan asupan nutrisi untuk ibu Rara karena saat ini istri anda sedang hamil" papar dokter yang di dengarkan dengan serius oleh Hendra.


"apa aku bilang pasti karena dia terlambat makan, degil sih kalau di bilangin eh...


"apa tadi dok? hamil? istri saya hamil dok?" tanya Hendra yang baru tersadar dari gunaman nya sendiri.

__ADS_1


"benar pak, istri anda saat ini tengah hamil dan perkiraan usia nya baru empat Minggu. untuk lebih jelasnya bapak bisa membawa istrinya ke poli kandungan "


Setelah mendengar berbagai nasehat dokter untuk mereka sebagai pasangan yang menghadapi persoalan seperti ini untuk pertama kalinya Hendra keluar dari ruangan dokter tersebut dengan wajah yang berbunga-bunga. Ia tidak menyangka akan secepat ini di berikan kepercayaan untuk menjadi orang tua. tak henti hentinya ia mengucapkan rasa syukur yang tidak terhingga.


Sampai di ruangan Rara masih setia memejamkan matanya, ada rasa khawatir yang tidak bisa ditepis oleh Hendra melihat wajah pucat istrinya namun ia juga sangat bahagia akan kabar istrinya sekarang sedang mengandung buah cinta mereka.


"Eugghhh...."


"kamu udah bangun sayang? mau minum? atau ada yang sakit?" pertanyaan beruntun itu langsung menyapa Indra pendengaran Rara untuk pertama kalinya setelah ia sadar.


"aku kenapa mas? kepala aku juga pusing mas" adu Rara dengan manja dan Hendra tersenyum melihat tindakan Rara yang sebelumnya tidak pernah seperti itu kata dokter hal tersebut wajar untuk ibu hamil.


"kamu makan dulu ya Ra, biar pusing nya hilang" ujar Hendra dengan lembut sambil tangannya kini memijit pelan kepala Rara yang membuat ia memejamkan mata menikmati rasa nyaman tersebut.


"Aku ga selera makan mas, perut aku juga rasanya masih penuh"


"walau ga selera kamu harus tetap makan, kalian ga boleh kekurangan nutrisi dan harus selalu sehat" ucap Hendra yang kali ini dengan senyum dan tangan nya sudah turun ke perut Rara.


"apa maksud kamu mas?" tanya Rara, walau ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Hendra tetap saja ia tidak mau berekspektasi terlalu tinggi.


"a-aku hamil mas?" tanya Rara terbata karena takut salah dengar.


"iya sayang, selamat ya. kamu akan menjadi ibu dan makasih sudah menjadikan aku calon ayah" ucap Hendra membenarkan pertanyaan Rara. seketika tangis Rara menggema di ruangan dan Hendra membawa istrinya ke dalam pelukannya.


hiks hiks....


"hey kenapa nangis Ra? kamu ga senang? atau kamu belum siap?" tanya Hendra dengan tidak tenang, Hendra tidak pernah memikirkan bahwa Rara belum siap hamil mengingat perkenalan mereka yang masih singkat.


"bukan mas, aku hanya tidak menduga kita di beri kepercayaan secepat ini" ujar Rara sambil menggelengkan kepala di pelukan sang suami. Seketika Hendra lega dengan jawaban Rara, sebelumnya ia sudah salah menyangka kepada istrinya tersebut.


"ya udah sekarang kamu makan dulu ya. kalau baby nya kelaparan gimana " bujuk Hendra yang langsung mendapatkan anggukan dari Rara.


Setelah selesai makan yang di suapi oleh Hendra, Rara meminta kembali ke ruangan Yelsi.

__ADS_1


"ingat ya Ra, nanti kamu ga boleh pecicilan disana. kamu sedang hamil" pesan Hendra yang entah sudah berapa kali ia ucapkan.


"iya mas iya, udah berapa kali mas ulang kalimat itu" jengah Rara memutar bola mata kesal.


"ok maaf ya sayang, mas hanya khawatir sama kamu" ucap Hendra lirih.


"iya mas, aku tau tapi aku juga akan berhati-hati. lagian nanti kan mas disana"


Sekarang dua pasang suami istri itu sudah di dalam ruangan yang sama dan di tambah lagi dengan kehadiran bayi mungil diantara mereka.


"ganteng ya mas" ujar Rara dengan gemes menoel-noel pipi bayi yang berada di gendongan Hendra. Awalnya Rara ingin menggendongnya namun Hendra tidak memperbolehkan dengan dalih takut menindih anak mereka. Lebay kan, ah entah lah dengan suami Rara itu.


"untung udah mulai cinta" batin Rara.


"Baby Arthur bangun dong, kok tidur terus sih" ucap Rara yang gemes sendiri dengan bayi tersebut.


"Udah dong sayang jangan ganggu terus" ucap Hendra yang membuat Rara merenggut.


Interaksi suami istri tersebut tidak luput dari pandangan Hara dan Yelsi, mereka tersenyum bahagia walau keadaan masih canggung diantara mereka setidaknya bayi tersebut bisa menjadi jembatan diantara mereka.


"Har kami pulang dulu ya, Rara harus istirahat soalnya" pamit Hendra yang diangguki oleh Hara.


"iya pa, makasih juga papa udah repot seharian ini.." ujar Hara yang kalimat langsung di potong oleh Hendra.


"Udah lah Har, kamu ngomong apa sih. sekali lagi selamat ya atas kelahiran anak kamu"


Setelah sedikit berbasa-basi Hendra dan Rara meninggalkan ruangan Yelsi dengan tangan Hendra selalu bertengger di pinggang Rara. katanya agar anaknya selalu aman. Biarlah Rara sudah malas berdebat kalau mengenai sikap posesif Hendra kepada anaknya yang masih di dalam perut tersebut.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang kini tengah mengawasi pergerakan mereka dengan tangan terkepal.


"mas kita ke rumah ayah sebentar ya. aku udah kangen dan kita juga harus berbagi kabar kebahagiaan ini" ucap Rara ketika Hendra sudah duduk di kursi kemudi nya setelah menutup pintu untung Rara.


"mas kok hanya sebentar sih" Rara merenggut tidak terima dengan sikap Hendra yang menurut nya terlalu berlebihan. Di ruang ayah dan bundanya mereka hanya sebentar sekitar setengah jam. Kabar kehamilan Rara disambut dengan bahagia oleh umar dan Desi yang akan memiliki cucu kedua dari anak kedua mereka. selama disana juga Hendra tidak memperbolehkan Rara bergerak yang menurut membuat Rara capek walau itu hanya mengambil minum. Orang tua Rara sangat bahagia melihat menantu mereka meratukan sang anak.

__ADS_1


"besok kita kesana lagi ya sayang, sekarang kamu ga boleh terlalu capek kan tadi kamu juga udah sempet pingsan" ujar Hendra lembut mencoba memahami perasaan istrinya.


"udah jangan cemberut lagi, nanti baby nya juga cemberut"


__ADS_2