
🌹Kamar Yang Indah
Aliya yang menyadari itu, segera iya memerintahkan para pelayannya untuk mengantar Alira kekamar yang sudah iya siapkan tadi.
"Bik, antar kak Alira kekamarnya" Perintah Aliya.
Bik Ina mengangguk mengerti, "Mari non" Ajak Bik Ina ramah.
Alira berdiri dari duduknya, dan sedikit mengulurkan tangannya kepada Bik Ina.
Ketika Alira hendak berdiri, Alira kehilangan keseimbangan dan akan terjatuh, karena kepalanya sedikit pusing.
Namun, Kairo yang berada tidak terlalu jauh dari Alira dengan sigap menangkap tangan Alira yang hampir jatuh itu.
Alira tertarik oleh Kairo dengan tubuh Alira sudah bersandar didada bidang Kairo, dan mata keduanya saling berpandangan cukup lama.
Aliya dan Reihan hanya tersenyum melihat adegan tidak terduga itu, "Ehem, ehem" Aliya sengaja berdehem, hanya sekedar menyadarkan kedua sejoli itu.
Kairo dan Alira terkejut, dengan wajah keduanya sedikit memerah karena merasa malu.
"Kamu tidak apa-apa" Tanya Kairo, mengalihkan pembicaraan.
"Hmm, iya" Jawab Alira lirih.
"Ayo bik" Sambung Alira lagi mengajak Bik Ina untuk pergi kekamar.
Alira dibawa oleh Bik Ina kekamar miliknya, Sementara Kairo masih memandang Alira hingga Alira benar-benar menghilang dari pandangan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa aku merasakan hal yang berbeda dengannya, tatapannya membuat aku menjadi bungkam dan jantungku berdetak dengan kencang" Batin Kairo, Kairo kembali duduk setelah Alira menghilang dari pandangannya, dan menyeruput secangkir teh sembari menenangkan hatinya yang masih berdetak tidak karuan.
"Kamu suka sama kak Alira ya" Tanya Aliya.
"Uhuk, Uhuk" Pertanyaan Aliya sukses membuat Kairo terkejut, sehingga iya yang tengah meminum teh terbatuk-batuk.
"Kamu bicara apa sih" Elak Kairo dan pergi meniggalkan Aliya dan Reihan.
Aliya dan Kairo hanya tersenyum melihat tingkah Kairo yang nampak sekali salah tingkah.
Didalam kamar, tepatnya kamar milik Alira.
Alira terpana akan sebuah kamar, dengan corak warna hijau dengan berhiaskan boneka kesukaan Alira, serta foto-foto kenangan bersama ayahnya dan juga Aliya sewaktu masih kecil hingga remaja.
Tentunya dengan ijin Reihan, semua keinginan Aliya akan selalu terpenuhi oleh Reihan.
"Bik apa Aliya yang menyiapkan semua ini" Tanya Alira kepada Bik Ina.
"Iya non, nona Aliya sendiri yang sudah menyiapkan ini semua. Apa nona sangat menyukainya" Tanya Bik Ina balik, ketika mendapati wajah haru sekaligus bahagia yang terlukis diwajah Alira.
"Aku begitu menyukainya bik" Balas Alira, tersenyum senang.
"Sebaiknya nona istirahat terlebih dahulu" Ajak Bik Ina, dan Alira hanya mengikuti saja dan membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.
Setelah Alira berbaring, Bik Ina pamit untuk pergi kedapur.
"Non, saya pergi dulu. Jika nona membutuhkan sesuatu nona pencet saja tombol hijau yang berada didinding samping laci ini" Ucap Bik Ina.
__ADS_1
"Baik bik" Balas Alira ramah.
Bik Ina pun pergi dari sana, ketika Bik Ina hendak membuka pintu dan ingin keluar. Bik Ina dikejutkan oleh sesosok pria tampan yang tidak lain adalah Kairo.
Kairo nampak mondar-mandir tidak karuan, tanpa menyadari bahwa Bik Ina sudah berada diambang pintu.
"Tuan ada apa" Tanya Bik Ina.
Kairo terkejut, dengan mata membulat sempurna.
"Bik, eeeeee.." Kairo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Alira sudah istirahat?" Sambung Kairo lagi.
"Sudah tuan" Balas Bik Ina.
"Baiklah" Kairo pergi begitu saja setelah melontarkan kata-kata yang menurut Bik Ina terlalu singkat itu.
Biasakan Like and vote ya sesudah membaca🙏🌺🌺🌺 jangan lupa komen dan Sarannya juga ya.
Terimakasih ❤️
Baca juga novel aku yang lainnya berjudul
- Kuntilanak Berwujud Manusia
- Reinkarnasi putry Lili
__ADS_1
- Cinta Segi Tiga