Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
100. Arvin dan Arion


__ADS_3

Mona pun sudah kembali ke istana mewah milik suaminya, sekarang dengan membawa serta dua bayi laki-laki mereka.


Para pelayan menyambut kedatangan dua tuan mudanya dengan bahagia, bahkan sangat antusias karena mereka terlihat sangat ganteng.


Hanya mama Vany saja yang bersikap biasa, bahkan tidak datang menyambut kehadiran cucunya, seakan tidak ada apa-apanya.


Mona pun hanya bisa pasrah akan hal ini, karena tidak mungkin juga Mona memaksa mertuanya untuk menerima dia hanya karena dia sudah memberikan cucu untuk sang mertua.


Gavin juga mengerti jika pasti perasaan Mona ada sedikit yang terhambat, seperti keluh kesah yang tidak dapat dikeluarkan.


Terkadang perasaan sedih Mona itu pasti ada, dia hanya menangis dalam hatinya, tidak akan menujukan keluar, apalagi depan anak-anaknya, karena walau anaknya masi kecil, tentu perasaan mereka menyatu.


*****


Tidak terasa 5 bulan berlalu Arvin dan Arion kina telah bisa membalikan badannya, saat pertama melihat anaknya berusaha membalikan badannya, Mona dan Gavin sangat antusias dan bahagia sekali melihat tumbuh kembang anak-anaknya, kini anak mereka sudah terlihat mulai membesar, badannya saja gemuk, mengemaskan jika dipandang lama-lama.


Dari setelah melahirkan, hari-hari Mona dan Gavin banyak berubah dan mulailah malam-malam Mona dan Gavin akan terganggu jam tidurnya, teruntuk Mona, karena dia harus bangun menyusui, dia bertekad memberikan asi penuh selama 6 bulan pertama.


Setiap malam Mona lalui dengan suara anak-anaknya yang menangis jika lapar atau terbangun karena buang air kecil, hingga aktivitas suami istri mereka juga terganggu.


Terkadang Gavin juga membantu Mona menjaga anak mereka, dia akan bangun juga dan membantu mengendongnya, hanya asi yang tidak bisa Gavin berikan.


Samanya seperti malam ini, Gavin terbangun melihat Mona tengah menyusui Arvin dan Arion menangis.

__ADS_1


Gavin bangun dan mengendong Arion agar lebih tenang tetapi tetap saja Arion tidak mau berhenti menangis.


"Duuuuhhh anak papa tenang ya, sabar! Arvin dulu ya, kan pasti Arvin duluan bangun!" Gavin mencoba menenangkan anaknya.


"Sayang sudah belum Arvin menyusu!"


"Belum, ini saya makin kuat menariknya!"


"Arion sabar ya, ini papa kasih susu papa! Mau!" Gavin memakai ide gila dia, dia membuka bajunya dan menampak susu ratanya untuk Arion, ditempelnya mulut Arion disusunya.


"Mana Arion mau!" Ledek Mona.


"Tentu Arion tau mana punya mama yang enak dan punya papa yang rata begitu!"


Gavin tertawa sendiri dibuatnya.


"Kamu ini ada-ada saja mengerjai Arion, kasihan tau Arion!"


"Sini Arionnya, Arvin sudah ini!"


Mona meletakkan Arvin kembali dikasur samping kirinya dan mengendong Arion yang masih dalam gendongan Gavin.


"Kasihan anak mama pasti lapar ya!"

__ADS_1


"Sini minum ya!"


"Pelan-pelan" ucap Mona pada anaknya.


"Papa mau" ucap Gavin memajukan bibirnya.


"Iiihhhh menganggu saja! Sana tidur" kesal Mona karena di ganggu oleh Gavin.


Mona mengambil bantal dan melempar kearah Gavin. Dengan cepat Gavin menangkap bantal tersebut sebelum sampai ke depan mukanya.


"Tidur" usir Mona lagi.


"Ibu singa galak sekali" ucap Gavin.


"Apa kata mu, ini sudah malam ya" ucap Mona mulai kesal. Tetapi masih dengan nada pelan yang menekan.


"Tidur sana, kasihan Arion tau!"


"Huft" Mona menghembuskan nafasnya kasar.


"Maaf ya nak, papa mu nakal!" Ucap Mona pada Arion, Arion terlihat masih sangat menikmati asinya tanpa perduli ocehan mamanya.


Akhirnya karena memang masih malam, Gavin memilih untuk tidur kembali dan menjaga Arvin, tetapi terkadang malahan Mona sangat takut Gavin menimpa anak-anak mereka disaat Gavin tertidur.

__ADS_1


Mungkin dengan perasaan seorang ibu yang memang melindungin anaknya, Mona bisa saja terbangun tiba-tiba ketika Gavin yang sedang tertidur mengerakan badannya dan hampir menimpakan tangan ke anak mereka.


__ADS_2