Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
64. Bertemu Malaikat Kecil


__ADS_3

Hari ini sebenarnya Mona sudah bisa untuk pulang kerumah dengan cara rawat jalan.


Hanya karena depresinya dokter yang merawat Mona tidak mengizinkannya pulang terlebih dahulu.


Gavin hanya bisa pasrah kali ini, dia tidak bisa marah-marah seenaknya lagi. Dia hanya meminta bantuan Friska untuk selalu menemani Mona, hingga Mona lebih baik baru Friska boleh kembali kekantor Mona.


Hari ini Gavin telat untuk ke rumah sakit dikarenakan Gavin harus menghadiri kasus yang bersangkutan dengan hilangnya janin yang dikandung Mona.


"Nona, apa anda bosan?"


"Mengapa ini terjadi lagi kepada ku, kehilangan anak ku sendiri" ucap Mona sangat lirih dengan airmata dia yang menetes dipipinya. Suara, kalimat pertama kali yang Mona keluarkan semenjak dia kehilangan calon anaknya.


"Nona tenang ya, sekarang nona sudah ada tuan Gavin yang selalu bersama nona" ucap Friska sambil mengusap airmata Mona dengan tisu yang dia ambil pas disamping kirinya.


"Nona, kita keluar yuk, jalan-jalan keliling rumah sakit ini kalau nona mampu" kekeh Friska, berharap Mona bisa tersenyum sedikit dengan candaannya.


Mona hanya diam saja, dengar airmata yang masih menetes walau tidak seberat yang tadi.


Friska pun menuntun Mona untuk duduk dikursi rodanya, kemudian Friska mendorong kursi roda yang sudah diduduki Mona mengarah keluar.


Friska membawa mengelilingin taman rumah sakit, disana Mona terlihat menikmati taman rumah sakit yang dibuat sedemikan cantiknya. Tidak kalah dengan taman-taman yang di taman kota.

__ADS_1


"Indah sekali ya nona!"


"Lihat itu ada bunga mawar kesukaan nona"


Kemudian Mona pun menoleh kearah tumpukkan bunga yang Friska sebut.


Disana Mona melihat seorang anak kecil yang kira-kira berusia 5 tahun sedang menikmati bunga mawar tersebut juga, bunga mawar merah itu pun diciumin bau harumnya.


"Hei, hati-hati itu durinya" Friska yang mengerti pun langsung mendorong Mona menuju kearah anak itu.


Anak itu tampak begitu kaget ketika diperingatkan oleh Mona, tetapi hanya sesaat setelah Mona mendekat, anak itu malah tersenyum kearah Mona dan Friska.


"Hei dek, kog kamu sendirian?" Ucap Mona, Friska senang melihat Mona yang lebih aktif hari ini.


"Tidak kog tante, Tasya sama mama, hanya mama sedang kekamar ku untuk mengambil tasnya" jelas Tasya.


"Kamu tidak takut sendirian??" Tanya Mona lagi.


"Tentu tidak, tante! Lihat saja disini aku banyak teman" sambil tersenyum anak itu berkata.


"Termasuk tante teman ku" senyum anak itu.

__ADS_1


"Syukur lah nona mau berbicara banyak terhadap anak ini" batin Friska.


Mona terlihat akrab kepada Tasya, begitu pun Tasya tidak ada rasa sungkan atau pun takut terhadap Mona.


"Tante cantik" pujinya terhadap Mona.


"Usia kamu berapa?" Tanya Mona lagi.


"5 tahun" ucap anak itu dengan jelas. Di usianya yang baru 5 tahun, tetapi nada bicaranya sudah sangat jelas.


"Rambut tante cantik, andai aku juga bisa mempunyai rambut seperti tante" muka sedih anak itu keluar.


"Lho kenapa, pasti rambut mu juga cantik, ini panjang" ucap Mona kemudian memegang ujung rambut anak itu yang terlihat tipis dan betapa terkejutnya Mona ketika memegang rambut anak itu.


"Maafkan tante, Tasya! Ram-but kamu jadi rontok begini" ucap Mona dengan rasa bersalah yang sangat tinggi.


Friska melihat ada hal yang beda terhadap anak ini. Muka Tasya saja terlihat pucat.


"Pucatnya muka anak ini" batin Friska hanya saja dia tidak berani bertanya kepada anak itu, karena dia tidak ingin menganggu Mona yang sedang berbicara dengan Tasya.


"Tidak apa tante, ini memang sudah resikonya" ucap Tasya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2