
Mona kini mempersiapkan diri untuk kerumah mamanya Gavin, dia berharap jika mamanya Gavin menerima dia dengan lapang dada.
Mona dan Gavin menyerahkan kantor Mona kepada asisten Friska, dan sesekali Dirgo juga akan datang membantu.
Friska sebenarnya tidak mau mengeyam tugas berat ini, baginya cukup jadi asisten pribadi Mona saja sudah lelah apa lagi mengurus semua yang disini.
Tetapi karena disemangati oleh kedua bosnya Friska pun lebih berani mengambil keputusan yang sangat baik.
Gavin kini tengah menelepon Dirgo, meminta Dirgo mempersiapkan kepulangannya kerumah orang tuanya.
"Tuan akan kembali" ucap Dirgo tidak percaya, akhirnya dia akan sedikit lebih longgar dalam bekerja begitu lah pikirnya.
"Iya" jawab Gavin malas sebenarnya, hanya saja karena Mona sudah memutuskan mengikuti Gavin, dia pun lebih semangat lagi untuk kembali kedunianya.
Waktu yang ditentukan Mona dan Gavin akan berangkat ke Singapura tempat dimana mamanya Gavin berada.
Dirgo sudah mempersiapkan jet pribadi milik Gavin untuk penerbangannya.
Dibandara Mona terlihat sangat cemas, dia gelisah sangat takut, bagaimana lingkungan Gavin disana.
"Sudah siap?" Tanya Gavin yang melihat raut kecemasan diwajah Mona.
"Hm"
"Iya sudah kog" ucap Mona dengan sebisa mungkin dia santai.
Padahal didalam hatinya sudah memiliki firasat takut dan lain sebagainya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, disana kamu akan selalu ku lindungin" kemudian Gavin memeluk Mona mencoba menenangkan Mona yang tengah gelisah tersebut.
"Aku hanya takut" ucap Mona.
"Jangan takut, ada aku" ucap Gavin menenangkan Mona.
Perjalanan mereka ini ditemanin dengan Dirgo, Dirgo akan terbang sana sini jika diperintahkan Gavin.
Mona memasuki jet tersebut, lalu mengambil posisi duduk ditepi dekat jendela, melihat pemandangan keluar yang indah lah disukai oleh Mona.
Gavin pun duduk disamping Mona merangkul pundak Mona, ikut lihat keluar.
Mona memutar kepalanya sedikit dan muka mereka saling bertemu, mata mereka saling menatap, lalu Mona melemparkan senyumannya. Membuat hati Gavin kian berdebar lebih kencang, Mona yang memperhatikan Gavin begitu dekat, terlalu tampan bagi Mona, wajah Mona pun memerah karena menahan malu.
Dirgo yang melihat mereka dari belakang pun, merasa malu, karena pemandangan itu.
"Uhuk!" Dirgo berpura-pura batuk.
Gavin dan Mona pun langsung menoleh kearah Dirgo, dengan tatapan tajam Gavin melihat mata Dirgo, tetapi sesaat kemudian Gavin memegang kepala Mona lalu memberi kecupan dipucuk kepalanya, membuat Mona kian malu karena juga diperhatikan Dirgo, sepertinya Gavin sengaja membuat itu untuk mengoda Dirgo.
"Tuaannnn" batin Dirgo.
"Awas ku balas nanti" batin Dirgo sambil menatap bahagia pasangan tersebut.
"Tuan sudah jangan bermesraan terus, please membuat mata, hati ku sakit" ucap Dirgo pelan.
"Kau" ucap Gavin ingin berjalan kearah Dirgo.
__ADS_1
"Terima kasih bro, sudah membuat kami jadi pasangan beneran"
"Hahaha" Gavin tertawa melihat expresi yang diberikan Dirgo.
Expresi tidak percaya.
Dirgo mengira tuannya saat ini akan marah, ternyata tidak.
"Tuan tolong mengerti posisi hati ku ini, hati yang jomblo ini" ucap Dirgo dengan actingnya, dilemah-lemahkannya.
"Kau ini"
"Tadi kenapa kau tidak mau mengajak Friska?" Tanya Gavin.
"Cewek gila itu, enggak! Mengingat momen liburan yang lalu saja membuat ku sakit kepala" ucap Dirgo.
"Agh sudah, rasakan sendiri" Gavin pergi dari kursi Dirgo menuju kursi dia kembali dan kembali bersama Mona.
"Hai sayang" ucap Gavin.
Jantung Mona semakin berdebar kuat yang mendengar panggilan sayang dari Gavin.
"Bolehkan aku memanggil mu sayang mulai saat ini" ucap Gavin dengan mengedipkan matanya.
"Dasar genit" ucap Mona kepada Gavin.
Mona hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuannya.
__ADS_1