
Hari ini tante Dewi menemui Mona diruangannya. Walau perusahaan itu milik Mona, tetapi tetap tante Dewi menjadi wakil orang tuanya Mona.
Jika tante Dewi menginginkan memakai uang untuk kebutuhan pribadi, maka dia harus meminta persetujuaan Mona.
"Tante" panggil Mona ketika melihat tantenya memasuki ruangannya.
Tante Dewi datang dengan pakaian yang sangat seksi, berjalan berlenggak-lenggok bak seorang model.
"Sayang, tante butuh uang nih" menyerahkan selembar cek.
"Astaga tante banyak sekali, untuk apa?" Ketika Mona meraih cek itu kemudian dia melihat permintaan tante Dewi.
"Kamu enggak mau memberikan untuk tante?" Tante Dewi.
"Bukan, tante tapi ini terlalu banyak"
"Tante yang sudah mengasuhmu sejak orang tua mu meninggal, jangan lupakan itu Mona, ingat balas budi!"
Mona tidak habis pikir jika tantenya akan berkata begitu soal uang ini.
"Tante, kita dalam masa pembangunan untuk cabang kantor membutuhkan banyak biaya, dan lagi perusahaan ini sedang mengalami goncangan ekonomi" ucap Mona dengan wajah kecewanya.
"Tidak akan ada kontraktor pembangunan yang tahan mrmbangun cabang kecil itu"
"Maksud tante" Mona binggung mengapa tantenya berkata begitu yakin soal pembangunan sana.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan cepat tanda tangan saja!" Ucap tante Dewi.
"Mengapa tante mulai berubah begini"
"Sudah tanda tangan saja!" Ucap Dewi dengan sangat ketus.
Mona pun akhirnya tetap memberikan uangnya kepada tante Dewi, tetapi tidak sesuai dengan jumlah yang diminta, Mona mengurangin 60% jumlah uang yang diminta.
Dewi yang menerimanya pun dengan wajah tidak suka, karena hanya mendapatkan sedikit uang saja.
Dewi berjalan keluar kantor dengan menghentak-hentakkan kakinya, ada barang yang menghalanginnya didepan kaki langsung saja ditendangnya.
"Apa itu adik Tuan besar kita dulu" ucap seorang karyawan yang sudah lama bekerja dengan papanya Mona.
"Iya" sahut salah satu temannya, mereka memandang dewi sebagai orang yang tidak baik, karena mereka tau dari dulu dewi hanya suka memakai uang perusahaan suka-sukanya saja.
*****
Diruangan Mona, dia merasa lega karena tantenya sudah keluar dari ruangan.
Mona pun meminta sekertarisnya untuk memanggil asisten pribadinya si Friska.
"Ada apa nona?"
"Tadi saya dengar kalau tante dewi kesini ya!" Tanya Friska ingin tau apa yang terjadi.
"Iya" jawab Mona sambil memijit-mijit pelipis karena merasa pusing.
"Nona pusing, saya akan ambilkan Nona obat!"
"Tidak, tidak apa-apa" ucap Mona sembari menyandarkan badannya kekursi besar yang selalu menemaninnya didalam ruangan itu.
__ADS_1
"Friska, tolong kamu cek pengeluaran yang dipakai oleh tante Dewi, selama 2 tahun belakangan ini" ucap Mona tegas menatap tajam kedepan.
"Baik nona, tetapi beri saya waktu untuk menyelesaikan tugas ini"
"Ok"
Friska selalu menjalankan tugas tanpa bertanya lagi, dia tau jika Mona memberikannya tugas, pasti ada sesuatu yang sudah menganjal dipikirannya.
*****
"Sudah kau dapatkan apa yang aku minta?" Tanya Gavin yang kini sedang menelepon Dirgo.
"Sudah bos" jawab Dirgo
Tuk! Tuk! Tuk!
Gavin terkejut karena Mona mengetuk kaca mobilnya dipagi begini, padahal tidak ada jadwal pengantaran atau perjalanan lainnya.
Dia pun langsung mematikan hpnya.
Dirgo yang baru diteleponnya pun lagi-lagi mendumel.
"Bos-bos" sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Gavin membuka jendela mobilnya dan berkata
"Ada apa Nona?"
"Buka pintunya aku mau masuk" jawab Mona lemah.
"Kita ketempat yang bisa menenangkan diri ku" ucap Mona.
"Baik" jawab Gavin.
"Mona kenapa sih?" Tanya batin Gavin.
Mona pun didalam mobil tertidur.
"Mona bangun, kita sudah sampai" Gavin membangunkan Mona, ketika mereka berdua, Gavin akan memanggil nama ke Mona.
"Hmm"
"Dimana ini" mereka telah berada didalam mobil 3 jam perjalanan.
"Lihatlah keluar" ucap Gavin memandang kedepan.
"Pantai" mata Mona membesar, terpesona oleh pantai itu, dari dia yang tadi masih mengantuk menjadi segar.
"Kamu suka"
"Suka sekali" Mona langsung saja merangkul tangan Gavin. Membuat Gavin menjadi kaki.
Mona tersadar dia merangkul tangan Gavin,
"Maaf" wajah putih Mona pun tanpa memerah, merona karena dia merasa malu dan canggung, dia juga heran pada dirinya sendiri mengapa bisa dia langsung merangkul Gavin begitu.
"Tidak apa-apa" jawab Gavin santai padahal didalam dadanya jantungnya berdetak sangat kencang.
__ADS_1
Mereka pun segera turun, Mona pun dengan segera berlari kearah tepi pantai.
Gavin melihat Mona begitu bahagia melihat pantai itu pun merasa sangat senang, karena dia belum pernah melihat Mona sebahagia ini.
Setelah capek berlarian dengan serbuan ombak, air, angin. Mona pun memilih duduk dibawah sebuah pohon yang rindang.
"Kamu kenapa, capek" tanya Gavin memberikan es kelapa muda kepada Mona.
"Aku senang banget, terima kasih" ucap Mona dengan tersenyum.
Sesaat kemudian Mona terdiam, mukanya seperti menyimpan kesedihan.
"Kamu kenapa, cerita padaku, sekarang aku suamimu" ucap Gavin lembut.
"Ak-u, kangen papa dan mama" Mona meneteskan airmatanya.
"Papa suka membawa aku dan mama kepantai"
"Pantes dia sangat suka sekali pantai"
"Makasi, aku benar-benar senang" ucap Mona lagi.
"Tadi dikantor tante Dewi datang, kog pulangnya marah-marah" tanya Gavin pelan-pelan, dia tidak tau sebenarnya Mona tadi begitu karena tantenya.
"Iya, tadi tante Dewi meminta sejumlah uang dan itu sangat besar, cara berbicara tanye juga membuat ku kecewa" ucap Mona sambil mengusap airmatanya yang juga mulai mengering.
Mona menceritakan semuanya, Mona juga tidak tau mengapa dia sangat lega sudah bercerita dengan Gavin. Gavin memdengarkan tanpa memotong omongan Mona.
"Ayo kita lari lagi disana siapa yang kalah harus bayar kelapa tadi ya" Gavin menunjukkan tepian pantai.
Mona menatap Gavin kemudian dia pun langsung berlari, Gavin menyusulnya.
Mereka berlari sambil saling menyipratkan air membuat mereka berdua basah.
Mereka juga saling dorong mendorong, disini Gavin dan Mona sangat leluasa, tidak ada rasa malu, atau pun segan.
"Eh" ucap Mona ketika Gavin tidak sengaja menimpanya diatas pasir.
Gavin memandang Mona dengan penuh kasih sayang, Mona yang melihat mata Gavin secara langsung pun merasa sangat tenang berada disisi Gavin.
Gavin sangat terpesona oleh Mona, melihat wajah cantik Mona membuat Gavin ingin sekali menciumnya, tetapi dia tidak berani.
"Sorry" ucap Gavin secepatnya dia membenarkan posisi tubuhnya, dia berbaring disamping Mona.
"Cantik" ucap Gavin.
"Siapa yang cantik" Mona
"Kamu"
"Hah"
"Langit yang cantik" jawab Gavin.
Membuat Mona mendengus kesal.
"Hehe" Gavin terkekeh mengetahui Mona bisa kesal begitu.
__ADS_1