
Saat ini Arvin dan Arion sudah berusia 1 tahun 8 bulan, sudah sangat menunjukkan keaktifannya.
Mereka terkadang membuat Mona sering marah-marah karena mereka suka memberantakin apa yang telah Mona rapikan seperti pakaian dalam lemari yang suka mereka keluarkan.
"Apa anak-anak ini nakal" pikir Mona.
"Tetapi kata orang ini bukan nakal tapi aktif" semakin membuat Mona binggung dengan tingkah anak-anaknya.
"Arhhh" teriak Arvin yang tiba-tiba saja sudah menujukan wajahnya mau menangis dengan air mata yang sudah menumpuk di kelopak mata.
"Arvin kenapa?" Tanya Mona lembut yang langsung menghampiri anak-anaknya.
"Avin di pukuk Aon" ucap Arvin yang masih tidak jelas.
"Arion apa yang kamu lakukan kepada saudara mu?" Tanya Mona dengan melotot, langsung saja Arion melembarang sebuah boneka yang dia gunakan untuk memukul Arvin.
"Aion gak" ucap Arion yang juga masih belum lancar.
"Enggak apa? Enggak boleh ya memukul saudara mu, harusnya kalian saling menyayangi!" Ucap Mona lembut.
Langsung saja Arion berjalan mendekat Arvin dan memeluk Arvin erat hingga keduanya terjatuh dan Arion menimpak badan Arvin. Arvin pun langsung menangis kuat. Sehingga membuat isi kamar Mona menjadi ricuh. Mona tidak sempat untuk menangkap keduanya karena posisi Mona agak menjauh dari mereka.
"Ariiiooon!" Gemas Mona melihat tingkah Arion. Mona pun langsung mengosok-gosokkan tangannya ke kepala Arvin yang sakit.
"Arion enggak boleh gitu, pelan-pelan saja kalau mau sayang Arvin, kasihan Arvin jadi kesakitan tu!" Mona duduk di samping Arion dan Arvin.
"Aion tayag Avin (Arion sayang Arvin)" ucap Arion.
"Iya, mama tau kamu sayang sama Arvin tapi jangan main menimpak begitu, kalian bisa jatuh berdua seperti tadi!"
"Ya" ucap Arion.
Arvin masih mengusap air mata yang jatuh dipipinya.
"Avin uga tayag aon (Arvin juga sayang Arion)" jawab Arvin.
"Af ma (maaf ma)" ucap Arion.
"Kalian berdua anak kesayangan mama!" Ucap Mona bangga terhadap anaknya.
Arvin dan Arvin kemudian bersama-sama memeluk Mona, dalam hati Mona dia merasa sangat bahagia anaknya selalu menunjukan hal istimewa baginya. Lalu mencium pipi Mona.
Kedua anak kembar ini sangat bergantung satu sama yang lain. Hanya saja Arion lebih jahil dari pada Arvin yang lebih diam seperti papanya.
*****
__ADS_1
Sore harinya, setelah Arvin dan Arion tidur siang, mereka ingin pergi ketaman belakang, Mona pun mengikuti kedua anaknya.
"Arvin jangan" teriak Mona.
Praaaakk! Bunyi benda jatuh ketika Arvin berlari lebih dahulu, sebelum Mona menyelesaikan perkatannya.
"Arvin, mama sudah bilang berapa kali sama kamu kalau jalan dalma rumah jangan lari-lari!" Ucap Mona.
"Af ma! (Maaf ma)" ucap Arvin langsung memeluk kaki mamanya.
"Lihat ini vas bunga kesayangan nenek pecah kena kamu, untung pecahannya tidak kena kaki kamu!" Mona sebenarnya khawatir, sampai dirinya bergetar, hanya saja dia tidak ingin menampakan anaknya soal kekhawatirannya, agar anak ini bisa belajar hertanggung jawab dari kecil.
Mama Vany yang mendengar bunyi benda jatuh pun segera keluar dari kamarnya.
"Nekkkk" panggil Arion langsung ketika melihat neneknya mendekat.
"Asain, nek tang (rasain nenek datang)" ucap Arion.
"Arion enggak boleh gitu sama Arvin ya!" Tegur Mona.
"Ya ma" jawab Arion menundukan kepalanya.
"Nek!" Teriak Arvin juga yang sudah merasa takut karena telah memecahkan vas bunga kesayangan neneknya.
"Iya sayang" jawab Mama Vany untuk kedua cucunya.
"Ini ma, Arvin berlari dan vas bunga mama itu pecah!" Ucap Mona merasa bersalah karena ini anaknya yang melakukannya.
"Sudah enggak apa-apa ini bisa dibeli lagi!" Ucap mama Vany dengan lembut, tersenyum tanpa nada emosi.
"Tapi, kata mama ini hanya ada beberapa saja tersebar dinegara lain pun!" Mona mengingatkan mama Vany.
"Sudah enggak apa-apa, nenek bisa cari model lain yang lebih bagus, yang penting cucu nenek baik-baik saja!" Ucap mama Vany kemudian mengendong Arion.
"Nek, Avin uaga (nek, Arvin juga)" Arvin juga meminta untuk digendong.
"Nenek enggak sanggup kalian sudah sangat besar dan berat, gantian ya!" Bujuk neneknya.
"Gak" jawab Arvin langsung membuang mukanya kearah lain.
"Arvin enggak boleh cemberut gitu, jelek ya!" Ucap Mona.
"Api ma (tapi ma)"
"Gantian ya!" Bujuk Mona lagi.
__ADS_1
Mama Vany hanya bisa tersenyum melihat tingkah cucunya.
Mona sangat bahagia melihat mama Vany yang sangat banyak berubah saat ini dari beberapa tahun lalu.
*****
Dimalam hari, ketika Gavin, Mona, Arvin dan Arion sudah berkumpul didalam kamar.
"Arvin, Arion jangan berlarian gitu diatas kasur, nanti kalian jatuh" jerit Mona.
Kedua anak itu pun terdiam sesaat.
"Pintar anak papa!" Ucap Gavin kepada kedua anaknya.
Sesaat kemudian keduanya berlari lagi.
"Huft" Mona menghela nafas.
"Tu anak mu!" Ucap Mona.
"Iya memang anak ku, aku yang buat" ucap Gavin senang.
"Yuk buat lagi" ucap Gavin ke istrinya.
"Uwat apa pa?" Tanya Arion.
"Buat dedek bayi untuk kalian mau!" Tanya Gavin yang mendapat pelototan dari Mona.
"Gak" ucap Arvin.
"Kenapa?" Tanya Gavin.
"Gak" ucap Arvin saja, mungkin Arvin bermaksud untuk bicara, jika punya satu adik saja dia sudah susah, mau ditambah satu lagi.
"Bagus Arvin" dalam batin Mona.
"Arion gimana?" Tanya Gavin.
"Ug (mau)" ucap Arion, membuat Mona melotot membesarkan matanya.
"Ayo ma! Arion mau!" Ucap Gavin kepada Mona.
"Apaan sih kamu bicara begitu pada anak-anak" kesal Mona.
"Sayang" goda Gavin. Membuat Mona semakin kesal.
__ADS_1
Disini lah mereka berkumpul, tertawa, mengobrol bersama setiap malam.