
Beberapa bulan pun berlalu, Mona telah menata hidupnya untuk lebih baik.
Dia pun semakin lebih dekat dengan Gavin, karena hanya Gavin yang selalu disamping dia selama ini dalam suka mau pun duka.
"Dirgo tolong buatkan ini" ucap Gavin dengan sedikit wajah memerah walau hanya ditelepon.
"Kyaaaaaaaa"
"Bos, ternyata kamu bisa romantis juga" ucap Dirgo mengejek Gavin.
"Hahaha"
"Hei!"
"Berani kamu tertawa lagi sekali, ingat apa yang akan terjadi" ancam Gavin.
"Ampun bos, tuan juga harus ingat saya belum nikah"
"Tu jodohmu sudah ada, kami restui"
"Siapa?" Heran Dirgo.
"Tidak usah pura-pura tidak tau kamu!"
"Si gila itu"
"Ih, enggak mau!"
"Tu kamu tau sendiri!"
Kemudian Gavin menutup teleponnya.
"Kan, kebiasaan" teriak Dirgo dihpnya ketika dia baru mau mengucapkan kata, tetapi sudah dimatikan teleponnya oleh Gavin.
*****
"Asisten Friska, dipanggil Nona" ucap seorang rekan kerja Friska.
"Ya baik, terima kasih" ucap Friska kemudian langsung menuju ruangan Mona.
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah Friska!" Ucap Mona yang sudah menerka jika yang mengetuk pintu itu asisten pribadinya.
"Sudah tau saja nona, saya yang datang!"
"Ya kan, saya memanggil mu!"
"Hehehe" ucap Friska.
Mona yang duduk di kursi kebesarannya pun berpindah posisi menuju kursi sofa dan meminta Friska duduk bersamanya.
"Asisten Friska, bagaimana kelanjutan pembangunan dikota X?" Tanya Mona untuk kantor cabangnya.
__ADS_1
"Sudah berjalan hampir 80%" ucap Friska.
"Wah, syukurlah semua berjalan lancar"
Mona sangat bahagia pembangunan cabang kantornya berjalan lancar, tidak seperti awal mula pembangunan.
*****
Gavin yang sedang berada didapur umum kantor, lagi menikmati secangkir teh hangat buatannya sendiri, saat ini dia masih menjabat sebagai supir pribadi Mona.
"Bro, mau kue?" Tanya salah seorang temannya.
"Oh, enggak terima kasih ya!" Ucap Gavin dengan sopan.
Tringggg! Hp Gavin berbunyi, segera dia mengangkatnya.
"Mama, kenapa dia tiba-tiba telepon?" Batin Gavin.
Gavin mengangkat teleponnya, tetapi tidak mengeluarkan suara dia, yang dia dengar hanya suara mamanya mengoceh.
"Gavin, kamu kemana saja tidak pernah menelepon mama, mana hasil mu, jika tidak ada segera lah pulang" ucap mamanya tanpa jeda, langsung saja berbicara cepat karena dia takut Gavin akan mematikan teleponnya.
"Rebeca masih menunggu mu dengan setia"
"Dia sangat ingin menikah dengan mu"
Ucap mamanya.
"Aku tidak perduli dengan Rebeca, dia siapa saja aku tidak kenal" ucap Gavin dengan tegas kemudian mematikan teleponnya segera mengnonaktifkan teleponnya.
*****
Mama vany (mamanya Gavin) dirumah mewahnya dipenuhi kekesalan karena setiap menelepon Gavin yang dia dapat hanya perdebatan dan dengan cepat telepon dimatikan.
"Anak sialaaaannnn" teriak mama Vany.
"Pasti menelepon tuan Gavin" bisik para pelayan, melihat nyonya yang sedang marah-marah tidak jelas.
*****
Diwaktu sore hari Gavin meminta waktunya Mona sedikit dan meminta Friska untuk pulang sendiri.
Mona pun mengikutin kemauan Gavin.
Ternyata Gavin membawanya kesebuah restoran mewah, sangat mewah.
Tetapi Mona binggung kenapa restoran semewah ini tidak ada pengungjung sama sekali.
"Ini hari spesial" ucap Gavin yang dapat mengerti akan keheranan Mona yang melihat kanan kiri.
"Spesial apa?"
"Spesial buat kita, ehm tapi mungkin buat ku saja sih" ucap Gavin dengan lembut kemudian menarik kursi yang didepannya mempersilakan Mona untuk duduk.
__ADS_1
"Apa sih" tanya Mona mulai risih.
Prok! Prok! Prok!
Gavin menepuk kedua tangannya dan datang lah beberapa pelayan membawakan sebuah kue yang sangat cantik, kemudian sebuket bunga mawar merah yang cantik kesukaan Mona.
Gavin sengaja mempersiapkan ini semua, tadi pagi lah dia yang menelepon Dirgo untuk mempersiapkannya.
"Ini" ucap Mona binggung, melihat kue yang bertuliskan "happy anniversary 1 tahun"
"Terimalah!" Ucap Gavin.
Mona menerima semua itu.
"Hari ini tepat setahun kita menikah" ucap Gavin.
"Ups" Mona memegang mulut dengan kedua tangannya.
"Maaf, aku tidak ingat"
"Tidak apa-apa" ucap Gavin.
"Mengapa kamu merayakan ini?" Tanya Mona.
"Aku hanya ingin ada yang mengenang ini, dan aku juga bersyukur terjadi pernikahan ini!"
"A-ku"
"Eh" Gavin menjadi gugup sendiri dalam berbicara, Mona menatapnya dengan heran.
Mona pun baru sadar bahwa penampilan Gavin sangatlah rapi malam ini, tidak seperti biasanya.
"Kenapa?" Tanya Mona.
"Mona mau tidak kamu menjadi istri ku seutuhnya" ucap Gavin yang tidak mau berbasa basi lagi.
"Maksud mu?" Tanya Mona dengan heran.
"Aku mencintaimu, entah sejak kapan cinta ini datang, hanya saja aku baru menyadarinya, aku sangat ingin selalu berada disisi mu, melindungin mu" Gavin yang berkata seperti itu, jantungnnya sudah berdetak tidak karuan, dia hanya berusaha menahan rasa dihatinya.
Gavin berusaha memegang jari jemari Mona.
Saat ini Gavin tidak mengeluarkan sifat aslinya sebagai keluarga Vilar, dia lebih melembutkan dirinya.
"Tapi aku" ucap Mona.
"Iya, aku tau, kamu tidak perlu berkata apa-apa" ucap Gavin yang juga binggung harus berkata apa, hingga ujung-ujungnya mereka berdua terdiam, malahan tercipta suasana canggung.
Tetapi pada saat itu, Mona binggung dengan hatinya, diantara senang, kaget, binggung segalanya bercampur.
Jantung Mona juga berdebar-debar. Tetapi dia masih belum bisa mengungkapkan apa yang dia rasa.
Sampai Gavin dan Mona pulang kerumah pun, mereka masih terlihat canggung.
__ADS_1
Gavin merasa bersalah atas hal ini.