Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
62. Kehilangan Calon Anak


__ADS_3

Mona dibawa keruang bersalin, padahal dia belum waktunya bersalin bahkan jauh dari waktu bersalin.


Gavin menunggu diluar dengan gelisah, dia bolak balik didepan pintu kamar itu.


Dirgo yang sudah menerima laporan pun segera datang ke rumah sakit dimana Mona dirawat. Dirgo ingin dapat membantu menenangkan bosnya ini.


"Tuan bagaimana keadaan nona saat ini?" Tanya Dirgo yang sangat perduli terhadap Mona.


"Aku enggak tau, dia didalam sekarang" suara lemah Gavin.


"Dirgo, ku perintahkan kau selidiki kenapa lantai dirumah bisa sampai membuat Mona terpeleset!"


"Baik tuan"


Sekarang Dirgo dan Gavin masih menunggu kabar dari dokter soal keadaan Mona.


30 menit kemudian.


Seorang dokter muda keluar dari ruang bersalin.


"Bagaimana dok, keadaan istri saya??" Tanya Gavin dengan buru-buru karena sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi istrinya.


Dokter tersebut melihat kearah Gavin yang sudah nampak lusuh.


"Maaf tuan, kami tidak dapat menyelamatkan janinnya hanya nona Mona saat ini sedang dalam kondisi belum sadar karena proses pembersihan janin tadi!" Ucap dokter itu dengan sangat menyesal.


"Apa katamu" Gavin menarik kerah baju dokter itu dengan sangat marah.

__ADS_1


"Bagaimana bisa seorang dokter tidak dapat menyelamatkan janin ku!" Ucap Gavin dengan nada tinggi.


"Tuan jangan, tolong lepaskan tuan! Ini bukan cara yang baik, jika nona tau tuan begini dia juga pasti tidak suka!" Ucap Dirgo menenangkan Gavin.


"Tapi anak ku" teriak Gavin dengan rintihan.


"Dokter silakan tinggalkan kami dulu" kata Dirgo terhadap dokter tersebut agar tidak di amuk oleh Gavin lagi.


Dokter itu pun segera pergi, Dirgo masih berusaha memberikan pengertian terhadap Gavin, untung saja dokter tadi pun mengerti kondisi Gavin dan tidak mempermasalahkannya.


"Aku baru saja ingin menjadi papa, aku bahagia, sangat bahagia tetapi mengapa begitu cepat dia pergi" Gavin meneteskan airmatanya, Gavin menangis, dia merintih.


Ini kali pertamanya Dirgo melihat Gavin menangis, seorang yang dingin, cuek, tegas dan tidak ingin dibantah.


Dirgo pun sangat prihatin terhadap kondisi Gavin.


Gavin terduduk disudut ruangan dia menutup muka dengan kedua telapak tangannya, disana dia masih menangis, dia sangat menyayangin anaknya, padahal janin tersebut belum berbentuk.


"Sayang kamu sudah sadar!" Saat ini Mona sudah dipindahkan ke rawat inap biasa.


"Gavin, bagaimana anak kita?" Tanya Mona dengan nada binggung, dia meraba perut ratanya.


"Anak kita" kata-kata Gavin terputus dia meneteskan airmata lagi.


"Kenapa dengan anak kita" Mona mulai menumpuk airmata dikelopak matanya.


"Maaf nona, anak anda bersama tuan tidak dapat diselamatkan" ucap Dirgo karena tau Gavin tidak sanggup mengucapkannya.

__ADS_1


"Apa itu benar"


"Hah" teriak Mona ke Gavin.


Gavin hanya menganggukkan kepalanya, dia sudah tidak sanggup berbicara.


Mona menangis histeris. Dia sangat sedih, baru saja dia diberikan amanah tetapi sudah diambil kembali.


"Hiks, hiks, hiks! Anak ku!" Suara tangisan Mona sangat ringkih, sangat pedih dirasakan.


Gavin hanya dapat memeluk Mona dengan erat, untuk bersama melepaskan rasa kehilangan tersebut.


Mona masih saja menangis, hingga dia mencabut selang infus yang ditangannya karena dia sudah sangat kesal, ini baginya percuma saja.


"Nona jangan" cegah Dirgo.


Tapi Mona tidak perduli.


Tidak lama Gavin dan Mona dalam kesedihan, tiba-tiba saja mama Vany dan Rebeca datang.


"Itu tandanya rahim mu lemah gitu saja bisa keguguran" sindir Rebeca dengan jahatnya, ditambah dengan senyum jahatnya.


"Kau" Dirgo ingin menampar Rebeca hanya dia ingat saja kalau Rebeca wanita, jadi dia mengurungkan niatnya, padahal tangan Dirgo sudah di angkat.


"Kau keluar" tunjuk Gavin ke Rebeca.


"Ingat karma mu" ucap Dirgo dengan sinis karena Dirgo juga dipenuhi kemarahan.

__ADS_1


"Sudah, kalian tidak perlu menangis begitu, itu hal biasa masih ada 1 bulan lagi untuk hamil kembali, karena aku berbaik hati aku tambah 1 bulan lagi bagaimana!" Ucap Mama Vany yang tidak berperasaan.


Gavin hanya memandang tajam kearah mamanya, dia sebenarnya sangat murka ingin dia memarahin mamanya habis-habisan, hanya saja dia ingat kondisi Mona saat ini lebih terpukul ditambah lagi kedatangan mamanya dan Rebeca.


__ADS_2