Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
80. Pesta Rekan Bisnis


__ADS_3

Dikantor Gavin.


Dia sedang duduk bersandar dikursi kesayangannya itu. Hari ini Mona tidak menemani suaminya dikantor.


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukkan datang dari luar pintunya,


"Pagi bos ku" ucap Dirgo dengan senyum jahilnya.


Gavin pun menatapnya dengan tajam disertai muka datar. Membuat Dirgo merasa takut, apa Gavin hari ini baginya sedang dalam emosi yang tidak baik.


"Mengapa tuan begitu menakutkan pagi ini" Dirgo bergidik ngeri sendiri.


"Atau tuan tidak" senyum Dirgo dalam pikirannya.


"Hei, apa yang kau pikirkan" tegur Gavin melihat Dirgo yang terdiam.


"Pasti anak itu memikirkan hal yang lainnya" senyum Gavin dalam hati, mengerjai Dirgo dengan tatapan tajamnya. Terkadang Gavin memang ingin mengerjai Dirgo yang begitu santai menghadapinya.


"Maaf tuan" ucap Dirgo dengan cenggiran.


"Ada apa kau kesini?" Tanya Gavin datar.


"Ini, ada undangan dari Jab Group" menyerahkan undangan yang berkilauan, bagian depannya sedikit dilapisi emas, menunjukkan kekayaannya.


"Cih"


"Orang ini"


"Pestanya hari ini, undangannya pun baru datang" undangan itu adalah datang dari salah satu rekan bisnis Gavin.


"Tuan, apa akan menghadirinya?" Tanya Dirgo yang penasaran dengan jawaban Gavin.


"Tentu, kenapa tidak"


"Dan kau harus ikut" menunjuk Dirgo.


"Tuan, bolehkah aku libur saja ya!" Mohon Dirgo.


"Tidak, kau harus menemani kami"


"Kami?" Tanya Dirgo


"Iya, aku dan Mona, siapa lagi"


"Aku jadi obat nyamuk lagi lah tuan" batin Dirgo yang tidak berani mengeluarkan unek-unek itu, karena takut tuan Gavin ini anak mengejeknya lagi, pas datang jahilnya.


"Kau takut jadi obat nyamuk kah" ucap Gavin memandang Dirgo dengan datar.


"Lah, kog tuan tau apa yang aku pikirkan" batin Dirgo seperti orang ketangkap basah melakukan kesalahan.


"Kau tinggal membawa cewek mana saja yang kau mau!" Ucap Gavin dengan santainya.

__ADS_1


"Tuan, aku tidak seperti mu yang dahulu" sarkas Dirgo.


"Dirgo pesan gaun terbaik dari desainer ternama yang ada di negera ini, dengan tepat waktu jangan sampai telat" ucap Gavin trgas jika sudah memberi perintah.


"Baik tuan" Dirgo pun segera mengerjakan apa yang diperintahkan Gavin.


*****


Sorenya Gavin sudah pulang kerumah disambut bahagia oleh Mona, Gavin langsung memeluk Mona dan memberikan kecupan hangat dikening Mona.


Mona melihat Gavin menenteng sebuah kotak, tetapi tidak dia tanyakan apa isinya.


"Kalian mesra sekali ya, semoga kalian selalu akur begini" ucap tante Sella yang baru keluar dari kamar, sedangkan mama Vany sedang bersama teman-teman sosialitanya.


"Amin" ucap mereka berdua bersamaan.


"Terima kasih tante doanya" ucap Mona dengan bahagia.


"Tante, Gavin dan Mona naik dulu ya" pamit Gavin.


"Iya" jawab tante Sella dan kemudian Mona memberika senyumnya kepada tante Sella.


Sesampainya mereka dikamar.


"Sayang" ucap Gavin.


"Iya" jawab Mona lembut.


"Hari ini ada pesta direkan bisnis kita, kamu harus ikut temanin aku!" Ucap Gavin tegas kepada Mona agar Mona tidak banyak membantahnya.


"Sayang, memangnya istri aku, Dirgo kah? Yang istri aku, kamu" jawab Gavin.


"Hihihi" Mona tertawa kecil, dia membayangkan jika Dirgo memang istri Gavin bagaimana penampilan Dirgo.


"Apa yang kamu ketawakan"


"Tidak" jawab Mona dengan cepat.


"Ini gaun mu"


"Ok lah" jawab Mona yang dengan terpaksa ikut.


Gavin yang membawa kotak berisi gaun itu pun tidak melihat bagaimana bentuk gaun itu, untung saja Mona sudah mandi, jadi secara langsung dia mencoba terdahulu masih ad waktu 3 jam untuk ke pesta.


"Sayang" panggil Mona ketika Gavin membelakanginnya, kemudian Gavin pun berbalik dan melihat Mona dengan gaun yang dia bawa.


Gavin terdiam, mulutnya sedikit terbuka, dia ingin bicara, tetapi enggak bisa, gaun malam yang dipilihkan benar-benar tampak indah apalagi dengan Mona yang memakainya.


"Tutup mulut mu, nanti lalat masuk" tegur Mona, padahal itu saja Mona belum berdandan, bagaimana jika sudah berdandan, bisa jadi Gavin tidak jadi ikut ke pesta, melainkan mengajak Mona keranjangnya.


"Disini tidak ada lalat sayang, kamu mengada-ada saja" ucap Gavin yang tidak loading ke pembicaraannya dengan Mona.


"Kamu cantik sekali" dengan mata penuh cinta yang Gavin tampilkan.

__ADS_1


"Coba berputar"


Kemudian Mona berputar, dua kali putaran.


Kemudian dengan cepat Gavin mengambil hpnya dan menelepon Dirgo.


"Dirgo" dengan suara sedikit keras ketika sambungan telepon telah tersambung.


Dirgo yang saat itu mendengar Gavin memanggilnya sedikit menjauhkan teleponnya dari telingga karena suara Gavin.


"Siap tuan" ucap Dirgo.


"Pesan gaun baru sekarang, bilang desainernya aku tidak mau punggung istri ku terlihat!" Ucap Gavin dengan dingin, menatap punggung Mona terus, mona saat itu pun langsung mematung.


"Setengah jam sudah harus sampai disini!"


"Baik tuan" Dengan tergesa-gesa pun Dirgo melaksanakan tugasnya.


"Sayang, ini cantik!" Ucap Mona memainkan bagian rok nya. Mona sangat menyukai gaun tersebut, dengan dihiasi kristal-kristal kecil yang berkilauan.


"Tidak, aku tidak ingin punggung mu dilihat oleh siapa pun, kecuali aku" padahal Gavin sangat suka Mona memakai gaun itu, sangat memancarkan kecantikkannya. Gavin tetap mengambil gaun tersebut untuk Mona.


Mona hanya bisa diam tanpa menjawab Gavin.


Setengah jam kemudian Dirgo datang dengan membawa gaun baru.


Dengan wajah pucat, dia ngos-gosan karena mengejar waktu, tadi dijalan sampai hampir ingin menabrak seekor kucing.


"Kerja bagus teman" ucap Gavin.


"Tuan" langsung menyerahkan gaun baru itu.


"Untuk apa disini lagi, mau lihat istri ku berganti pakaian?" Menatap tajam Dirgo.


"Silakan pulang dan persiapkan diri" usir Gavin.


"Huft" suara Dirgo


Karena kelelahan, Dirgo pun tidak menjawab dia pun langsung keluar dari pintu utama.


"Bos, aku hampir mati, kalau aku mati hanya karena gaun itu, ku pastikan kau akan aku gentayangin" dumel Dirgo yang berjalan lunglai.


Bayangan Dirgo waktu hampir menabrak kucing.


Keadaan itu Dirgo mengemudikan mobilnya dengan laju yang lumayan tinggi.


Citttttttt! Bunyi Dirgo menekan remnya terlalu kuat karena menghindari kucing yang sedang bertengkar ditengah jalan yang sepi.


"Aghh hampir saja" kondisi mobil Dirgo sudah memiringkan posisi kearah pohon besar didepannya.


Muka Dirgo sudah pucat pada saat itu, jantungnya berdebar sangat kuat.


"Kurang asem itu dua kucing bertengkar pakai acara lari sampai tengah jalan, apa enggak bisa bertengkar dirumah saja" umpat Dirgo dengan kesalnya, sambil memukul stir mobilnya sendiri.

__ADS_1


Dirgo juga sangat tau jika menabrak seekor kucing saja akan mendatangkan kesialan mitosnya, apa lagi dua kucing.


Membayangkannya saja Dirgo sudah bergidik ngeri.


__ADS_2