Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
90. Disebuah Desa


__ADS_3

Keesokkan harinya Gavin tiba disebuah desa yang tidak begitu luas, tetapi mungkin untuk mencari seorang wanita itu juga membutuhkan waktu.


Melihat kanan kiri masih banyak perkebunan, persawahan, daun hijau yang menyegarkan mata, udara yang sejuk. Ternak yang sedang memakan rumput dengan bebasnya.


"Indah sekali" batin Gavin menikmati desa tersebut.


Dia memarkirkan mobilnya dijalan yang besar didepan rumah orang yang tidak dikenalnya dan berjalan kaki memasuki jalan-jalan yang kecil.


"Permisi pak!" Ucap Gavin sopan kepada salah satu petani yang sedang mencangkul.


"Pak, saya mau tanya apa bapak pernah melihat wanita ini dan alamat ini dimana ya?" Tanya Gavin.


Beberapa warga yang berada disana juga memperhatikan Gavin yang memang bisa dikatakan berpenampilan lain dari pada yang lainnya disana.


"Saya tidak pernah melihat wanita ini, alamat ini saya kurang tau!" Ucap bapak itu.


"Oh ya sudah pak, terima kasih" kemudian Gavin pergi mencari warga lain yang mungkin tau.


Setelah berjalan beberapa jauh, dia melihat seorang ibu-ibu yang sedang berjualan kue dan bertanyalah dia kepada ibu-ibu itu.


"Bu, maaf mau tanya apa ibu tau alamat ini dan wanita ini" pertanyaan hampir sama yang Gavin lontarkan kepada ibu ini.


"Ini, ini alamat rumah saya!"


"Kamu siapa, apa temannya nak Friska?"


"Ibu tau wanita ini!"


"Ini bosnya Friska!" Ucap ibu itu.


Membuat hati Gavin berbunga-bunga sangat bahagia, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan istri tercintanya.


"Saya suaminya Mona, bu!" Ucap Gavin.


"Apa iya, ya sudah ayo ikut saya pulang" ibu itu segera mengajak Gavin untuk pulang kerumah ibu itu.


Beberapa waktu berjalan, akhirnya Gavin sampailah disebuah rumah yang sederhana.


"Ini rumah saya, mari masuk!"


"Baik bu!" Gavin melihat kanan kiri sekitar rumah merasa bersalah sampai Mona harus berada sejauh ini menghindar darinya karena kekecewaan itu.


"Dimana Mona?" Tanya Gavin.


"Iya kog tidak ada ya, apa dia keluar sama anak ibu!" Jelas ibu itu.


"Maaf bu, sebelumnya kenalkan saya Gavin, sampai lupa mengenalkan nama!" Gavin cenggesan.


"Walah, iya lupa, saya ibu Ani, bibinya Friska!"


"Oh, iya bu"


Ternyata Mona berada dikampung halaman Friska.

__ADS_1


Tidak lama menunggu Mona pulang dengan seorang laki-laki yang sepertinya lebih muda usianya dari Gavin, membuat Gavin merasa cemburu, karena Mona terlihat bahagia, padahal baru beberapa hari disini, seperti sangat akrab.


"Sayang" panggil Gavin.


Mona langsung melihat kearah Gavin, betapa terkejutnya dia melihat kedatangan Gavin.


Mona pun segera berlari kecil kearah ibu Ani.


Sebenarnya Mona sangat merindukan sosok Gavin.


"Lah, nona jangan lari begitu anda sedang hamil muda" ucap ibu itu.


"Apa hamil?" Kaget Gavin.


"Benarkah, sungguh sayang?" Tanya Gavin.


Tetapi Mona masih saja tidak mau didekatin oleh Gavin, atau pun dipegang.


"Deni, mana mangga mudanya sini, aku mau makan" ucap Mona yang tidak perduli akan kehadiran Gavin.


"Mona maafkan aku, aku mohon" Gavin kemudian berlutut didepan Mona bahkan dilihat oleh ibu Ani dan Deni, dia tidak perduli akan hal ini, baginya yang penting Mona mau memaafkannya dan kembali padanya.


"Maaf, aku tau aku salah, aku terlalu cemburu pada mu, padahal itu hanya rekayasa Rebeca, dan aku masuk jebakannya!" Ucap Gavin lirih.


"Kembalilah padaku, aku mohon, aku janji tidak akan pernah begitu lagi pada mu!"


Mona melihat kearah bu Ani dan Deni, bu Ani memberi isyarat untuk menerima Gavin dan kemudia meninggalkan Gavin dan Mona berdua untuk berbicara.


Menandakan penyesalan terdalam dari seorang Gavin.


Mona kemudian maju dan membantu Gavin berdiri sejajar dengannya, lalu Mona memeluk Gavin tanpa berbicara apa pun, tentu Gavin menyambutnya dengan sebuah airmata yang menetes dipipinya, termasuk Mona yang juga menangis.


"Kamu mau kembali padaku"


"Iya" jawab Mona dengan suara parau, mereka menangis bersama.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginnya lagi" ucap Gavin dengan senyumnya.


Mona dan Gavin berpelukkan erat. Untuk waktu yang cukup lama, melepaskan rasa kangennya.


*****


Saat ini Gavin dan Mona beristirahat dikamar yang selama beberapa hari ini Mona tidur.


"Sayang, kamu benar hamil?" Tanya Gavin serasa dia tidak percaya.


"Iya!" Ucap Mona dengan raut wajah bahagia.


*****


Flashback On


Sesaat setelah Gavin memarahi Mona hanya karena foto Mona sedang bersama laki-laki lain, Mona merasa sangat sedih, sangat sakit hati karena suaminya tidak percaya padanya.

__ADS_1


Gavin meninggalkan Mona didalam kamar sendirian menangis dengan sendunya.


Setelah puas menangisi hidupnya, dia pun berpikir bagaimana caranya hidup dia jauh dari Gavin.


Sejenak berpikir, dia meminta bantuan asisten Friska untuk mengatur semuanya saat itu juga, dia meminta Friska merahasikan ini semua dari siapa pun, karena dia tau keahlian tim IT Gavin melacak orang yang hilang, ya apa lagi bukan dengan bantuan Dirgo.


Karena Mona sudah tau celahnya dan Friska menyelesaikan tugasnya, malam itu juga Mona melakukan penerbangan.


Dia sampai ketika waktu pagi dibandara.


Dari jauh Friska melihat kerumunan orang, dia mencoba mendekat, mendapati Mona pingsan, betapa paniknya Friska saat itu, langsung membawa Mona kerumah sakit, sesampainya dirumah sakit Mona dilarikan ke Ugd.


"Dok, bagaimana keadaan Nona?" Tanya Friska pada seorang dokter wanita yang menghampirnya.


"Tenang, tadi saya sudah panggilkan dokter Spog.nya!" Ucap dokter tersebut.


"Maksud Dokter?" Tanya Friska binggung.


"Nona anda hamil!" Ucap sang Dokter.


"Benarkah Dok?!"


Dokter menunjukkan hasil usgnya membuat Friska sangat bahagia mendapat kabar tersebut, seperti Friska yang sedang hamil.


"Friska!" Monq membuka matanya dan kaget karena melihat tempat yang asing baginya, dengan bau obat-obatan yang khas.


"Tadi nona pingsan"


"Dan selamat, nona resmi menjadi calon mama"


"Aku hamil" tanya Mona, yang sudah mau meneteskan airmatanya.


"Iya nona, lihat ini" menunjukkan hasil usg


"Sudah memasuki usia 9 minggu loh" ucap Friska dengan riang.


Jatuhlah airmata Mona dengan tangis bahagia, hingga dia lupa kejadian beberapa jam yang lalu dengan suaminya.


"Nona istirahat ya" bujuk Friska.


"Tidak, aku baik-baik saja, aku sudah merasa baikkan, aku harus langsung kekampung halaman mu segera jika tidak percuma saja aku kabur dari istana itu, Gavin akan cepat menemukan ku" ucap Mona tetap pada pendiriannya.


"Baiklah Nona, tetapi nona ingat jangan stress jaga kondisi, ingat anda tidak sendiri"


"Iya bawel" ucap Mona dengan menjahili Friska.


"Nona" ucap Friska yang ingin menjahili kembali nonanya.


Flashback off


Mungkin karena sindrom ibu hamil inilah Mona terasa mudah sekali tersakiti, tetapi pada saat dia belum mengetahui dia hamil.


Belakang waktu itu memang Mona sangat mudah sekali merasa emosi, sedikit perkataan salah saja Mona tidak mau menerima dan mudah untuk meneteskan airmatanya.

__ADS_1


__ADS_2