
Pagi hari seperti biasa Gavin sudah siap lagi untuk melayanin bosnya.
"Pagi tuan" sapa Friska.
"Sssstttttt! Jangan terlalu formal begitu jika kita berada diwaktu biasa" ucap Gavin.
Berubah lagi menjadi Gavin yang lebih aktif berbicara daripada menjadi Gavin Alvaro Vilar.
Mona hanya terkekeh saja melihat Gavin begitu takut akan identitasnya terbongkar cepat.
"Maaf" ucap Friska.
"Ayo jalan" ajak Mona.
Gavin pun membukakan pintu depan untuk Mona masuk, dengan pakaian supir seperti biasa, Gavin terlihat sangat sederhana.
1 jam kemudian mereka telah sampai dikantor, Mona sudah mulai memeriksa berkas yang didepan dia.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu ruangan Mona diketuk.
"Masuk" ucap Mona dengan suara tegasnya.
Mona melihat kedepan pintu siapa yang berjalan masuk, ternyata Friska dengan membawa berkas lainnya, tetapi diwajahnya terlihat cemas.
__ADS_1
"Mengapa wajah mu terlihat cemas" ucap Mona, karena dia sudah dari kecil hidup bersama dengan Friska, jadi tau perubahan diwajah Friska.
"Nona, jangan marah ya, mungkin ini kesalahan ku dalam mengecek data yang anda minta, tetapi sudah saya teliti beberapa minggu ini, dan ini hasilnya!" Friska menyodorkan data yang ia bawa dalam map berwarna merah.
Mona memperbesar matanya ketika melihat hanya bagian depan isinya, ketika melihat semakin kebagian belakang, kecewa Mona sudah diubun-ubunnya.
"Apa ini benar Friska?" Tanya Mona dengan suara menekan.
"Benar nona, saya awalnya tidak yakin, tetapi sudah saya cek berkali-kali"
"Saya juga tidak percaya dengan hasil yang saya dapat, tetapi kemudian saya ulang, hasilnya sama!" Ucap Friska dengan tenang.
"Saya benar-benar tidak percaya" ucap Mona.
Friska hanya diam saja, membiarkan bosnya mencerna terlebih dahulu data-data yang ada.
"Bagaimana nona, apa yang harus saya lakukan?" Tanya Friska ketika melihat raut wajah Mona sudah mulai tenang.
"Aku masih belum percaya Friska, hanya saja ini kita diam kan saja dulu, tetapi tetap diawasi hingga waktu yang tepat kita akan bertanya langsung"
"Tetapi nona ini data dari 2 tahun lalu, ini juga terlihat data dari 2 bulan sebelum kepergian tuan besar dan nyonya besar!" Ucap Friska.
"Fris? Kamu kenapa? Tanya Mona yang melihat tiba-tiba saja asistennya ini airmatanya mengalir dipipinya. Iya, Friska menangis.
Friska kemudian mengusap airmatanya, menahan airmatanya supaya tidak terjatuh lagi.
__ADS_1
"Aku teringat dengan Tuan besar dan nyonya besar, aku merindukan mereka nona" ucap Friska dengan suara yang parau.
"Kemarin setelah Nona berkunjung kemakam orang tua nona, aku pun berkunjung kesana, aku juga berkunjung ke makam orang tua ku" orang tua Friska lebih dulu meninggal karena sakit.
"Aku selalu mengingat kebaikan Tuan besar dan nyonya besar, hingga aku seperti sekarang!" Ucap Friska yang sudah mulai tenang.
"Terima kasih" jawab Mona dengan tersenyum kemudian memeluk Friska. Mona sendiri terharu terhadap Friska.
"Baik nona, maaf pembicaraan kita terpotong hanya karena aku menangis"
Mona mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku senang kamu juga menyayangin orang tua ku!" Ucap Mona.
"Nona, balik ke topik awal, ini data 3 tahun 2 bulan, disini pengeluaran semakin besar, aku tidak tau apa itu tanpa sepegetahuan nona apa tidak" ucap Friska menunjukkan kembali datanya.
"Kalau aku lihat-lihat ulang data ini, ini ada yang tanpa sepegetahuan ku!"
"Karena aku enggak mungkin akan mengizinkan hal sebesar ini dikeluarkan, apa sudah dimanipulasi"
"Ini sebuah kecurangan besar" ucap Mona.
Kemudian meletakkan data-data yang tadi Friska bawa.
Mona sebenarnya sangat kecewa mendapatkan data ini, dadanya terasa sesak, dia bukan orang yang tidak gampang memberi, hingga orang lain harus berbuat jahat kepadanya.
__ADS_1