
Setelah berlibur beberapa hari di hawai hari ini saatnya mereka untuk pulang lagi ke negera mereka, ke rutinitas mereka, tentunya ke kantor Mona dan profesi Gavin yang tetap sebagai supir.
"Ya pulang deh, belum puas" Dirgo mengeluh pada Gavin, saat Dirgo selesai memberitahu Gavin sesuatu hal yang menyenangkan buat tuannya.
"Ooohh belum puas" lirik Gavin pada Dirgo.
"Kalau belum puas, akan ku tinggalkan kau disini, lalu pulanglah dengan merangkak" senyum jahat Gavin.
"Tuan merencanakan sesuatu" tanya Dirgo melonggo.
"Iya, tanpa sepeser pun yang mu dan tidak akan ada tiket untuk mu" hahahaha
"Tuan, memang tau rekening ku?" Tanya Dirgo mengejek.
"Kamu lupa siapa tuan mu?" Tanya Gavin.
"Tuan memang menyeramkan" ucap Dirgo.
"Apa katamu?"
"Tidak tuan"
"Ampun"
"Kita damai" menunjukkan angka 2 dengan jarinya kepada Gavin.
Kletukkkk! Gavin menyentil dahi Dirgo. Lalu berjalan pegi tanpa membuka suara lagi.
Dirgo langsung memegang dahinya karena sentilan Gavin didahinya juga lumayan terasa. Itu Gavin lakukan karena dia geram dengan Dirgo.
"Benjol deh kepala ku" gumam Dirgo mengejar Gavin yang telah berjalan cepat menuju kamarnya untuk bertemu Mona, meminta Mona untuk siap-siap.
__ADS_1
Saat membuka pintu kamar, Gavin tidak melihat Mona.
"Dimana dia" batin Gavin mencari Mona.
Ketika Gavin berjalan menuju kamar mandi, tiba-tiba saja pintu itu terbuka menampilkan Mona yang sudah berpakaiaan rapi.
"Aghhhh" teriak Mona karena dia kaget tiba-tiba Gavin sudah berada didepan kamar mandi.
"Kagetin saja"
"Huft" kata Mona sambil berjalan lagi.
"Kamu yang kagetin aku tau, kiranya kemana" saat ini Gavin sudah lebih bisa menahan gejolak dalam dirinya.
"Ayo siap-siap, 3 jam lagi kita siap terbang" ucap Gavin ingin berjalan kembali ke arah kasur, saat itu juga Mona menabrak dada bidangnya.
"Aduh" ucap Mona, tangan Mona memegang bagian perut Gavin.
"Wahhh roti sobek, seperti yang digambar-gambar" batin Mona
tetapi Mona segera memundurkan badannya, membuatnya hampir terjatuh dan ditangkap Gavin.
"Dia harum sekali" batin Mona, wajahnya pun memerah.
Gavin dan Mona saling berpandangan sangat dalam, sangat menikmati setiap inci muka dari lawan, perasaan yang sangat tenang bagi mereka berdua melihat satu sama lainnya, membuat keduanya sama-sama menampakkan wajah mereka yang memerah karena malu. Jantung keduanya beradu sama cepatnya dalam tubuh mereka masing-masing.
Gavin segera memperbaiki posisi Mona, Mona pun dengan cepat menjauh dari Gavin saat dia sadar, dia dalam posisi sangat dekat dengan Gavin, walau mereka biasa dalam posisi dekat seperti tidur dalam 1 ranjang bersama, tetapi mereka tetap dipisahkan oleh sebuah bantal guling.
Gavin terlihat sangat canggung saat ini, tetapi dia sangat senang, bahagia bisa dapat posisi seperti tadi sebuah keberuntungan bagi dia.
"Sudah siap" ucap Mona menyeret kopernya yang semakin bertambah saja isi dan kompernya yang awalnya membawa 1 koper, kini menjadi 2 koper, dia membeli banyak barang juga souvernir-souvernir buat karyawannya dikantor.
__ADS_1
"Banyak sekali bawaan mu" ucap Gavin menepuk jidatnya.
Mona tersenyum cengir kuda melihat Gavin begitu kaget.
Gavin pun akhirnya menyeret 1 koper milik Mona juga, sedangkan koper Gavin hanya kecil saja.
"Dimana Friska" tanya Mona pada Dirgo.
"Lah, memang saya mamanya, saya tidak tau nona" ucap Dirgo santai, padahal Gavin sudah menatapnya tajam, seakan akan menghabisi Dirgo.
"Ampun tuan" batin Dirgo, matanya pun melihat kearah Gavin.
Dirgo takut Gavin akan sangat marah besar karena hal itu.
"Hai nona" ucap Friska datang dengan bahagianya.
"Ini dia si biang kerok yang buat aku susah, bisa kena bantai aku sama tuan Gavin kalau tadi dia enggak segera muncul" batin Dirgo.
"Dari mana saja kamu" tanya Mona.
"Tadi lagi bertemu cowok disana, enggak sengaja tetapi cowoknya baik sekali, ganteng, tinggi, putih, perfect" ucap Friska sambil berbunga-bunga.
"Pantesan sampai lupa ya kita mau pulang" ucap Mona.
"Eh, maaf Nona"
"Sudah enggak apa-apa" ucap Mona.
Dirgo yang mendengar Friska membicarakan laki-laki lain dia merasa meradang, ingin marah tetapi pada siapa, pada Friska enggak mungkin, apa lagi pada tuannya.
"Perasaan macam apa ini" batin Dirgo.
__ADS_1
"Sabar" ucap Gavin berdiri tegap samping kuping Dirgo.
Selesai dari pembicaraan mereka pun bersiap menaiki pesawat jet yang sama waktu mereka pergi.