Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
82. Perasaan Gavin


__ADS_3

Melihat Mona yang sedang berbicara dengan Bernard Julius membuat hati Gavin merasa berang, apalagi dia ingat kejadian beberapa waktu lalu.


"Nona mari" ajak Dirgo untuk pergi.


"Lama sekali, apa yang kalian bicarakan" ucap Gavin yang berjalan mendekati Mona, Dirgo dan Bernard dengan wajah yang super datar.


"Sayang kenalin ini Bernard rekan kerja aku dulu" ucap Mona bermaksud ramah.


"Tidak perlu, aku sudah kenal dia" mata menatap tajam Bernard.


"Dirgo, kau lambat"


Kemudian Gavin menarik tangan Mona untuk segera menjauh dari sana.


Dirgo merasa binggung dengan ucap Gavin kepadanya soal 'lambat'.


"Tuan, pasti sedang cemburu" batinnya.


"Ya iya lah aku cemburu, dia istri ku!" Batin Gavin seakan menjawab batin Dirgo.


Kemudian Dirgo pun berjalan cepat mengejar bosnya yang telah pergi.


Setelah Gavin berpamitan dengan rekan kerja lainnya, dia pun membawa Mona untuk pergi dari pesta tersebut.


Sedangkan Bernard yang masih disana dengan wajah terheran.


"Harusnya dia yang jadi milik ku" batin Bernard mengepalkan tangannya yang berada lurus kebawah.


*****


"Kamu kenapa?" Tanya Mona yang melihat raut wajah Gavin tanpa ada sedikit senyum pun.


"Kenapa kita cepat pulang! Acara belum selesai!" Tanya Mona yang tangannya masih dalam genggaman Gavin.

__ADS_1


"Aku enggak suka kamu dekat dengan laki-laki lain, kamu itu milikku!" Ucap Gavin dengan nada sedikit tinggi mata menatap tajam ke Mona.


"Hei, itu hanya rekan bisnis, apa kamu lupa?"


"Apa kamu lupa juga kalau dia menginginkan mu" ucap Gavin dengan galaknya.


"Huft" Mona menghela nafasnya. Tidak ingin berbicara lebih lagi.


"Sudah kita pulang" ucap Gavin


"Bagaimana dengan Dirgo?" Tanya Mona.


"Apa yang kau, khawatirkan dari dia"


Mona menatap mata Gavin yang tidak bisa diartikan dia. Dia memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan, dia lebih memilih diam.


Dirgo yang telah sampai keparkiran melihat mobil yang dia bawa tadi telah hilang, hanya helaan nafas panjang yang dia bisa lakukan, mau berteriak pun dia tidak berani.


"Tuan, kau tega tinggalkan aku" gumam Dirgo.


*****


Sesampainya mereka di rumah, Gavin berjalan mendahului Mona dengan wajah datar.


Pelayan yang membuka pintu dibuat kaget oleh Gavin yang langsung berjalan lurus tanpa menoleh kanan kiri.


Mona pun mengikuti Gavin dari belakang dengan tergesa-gesa, lalu memasuki kamar kesayangan mereka.


"Gavin, kau kenapa!" Ucap Mona dengan nada frustasi seperti dia menghadapi seorang anak kecil yang sedang merajuk.


"Kau datang bulan kah" sindir Mona, karena biasanya mod seorang bisa berubah-rubah disaat datang bulan, khususnya wanita.


Gavin malah balik langsung melotot kearah Mona, mendengar Mona mengeluarkan kalimat tersebut.

__ADS_1


"Aku mau mandi" jawab Gavin dingin, sedingin air buat dia mandi nanti.


"Serah" jawab Mona mulai membalikkan keadaan menjadi dia yang cuek.


Didalam kamar mandi, Gavin tengah menatap dirinya di dinding kaca, sambil menyisir rambutnya dengan menggunakan kelima jari kanannya.


"Apa aku egois? Aku hanya tidak ingin milik ku di ganggu, apalagi sampai direbut" batin Gavin.


Kemudian dia menyiram dirinya dibawah aliran shower, membiarkan dirinya merasakan air yang jatuh perlahan-lahan ketubuhnya. Dia tidak menggunakan water heater, dia memilih air dingin untuk mengdinginkan emosinya.


Setelah selesai mandi, Mona pun segera masuk kekamar mandi dengan cepat tanpa melihat ke Gavin.


Membuat Gavin merasa gusar sendiri.


30 menit Mona dalam kamar mandi, akhirnya dia pun keluar, setelah melihat Mona yang baru keluar dari kamar mandi, Gavin pun mendekati Mona yang sedang duduk dimeja rias untuk memakai krim malamnya.


Gavin memeluk punggung Mona, dengan kedua tangan dikalungkan ke leher, bahu Mona.


"Maaf" ucap Gavin hanya sekata itu saja.


"Agh, sudah lah lupakan" ucap Mona dengan santai, karena dia tau Gavin hanya cemburu saja.


"Sungguh?" Tanya Gavin memastikan.


"Iya" jawab Mona.


"Kamu selesai terima tamunya?" Tanya Gavin yang sepertinya ingin menuntaskan nafsunya.


"Sudah"


"Ayo"


"Dasar enggak sabar" ledek Mona.

__ADS_1


Dan mereka pun menuju ranjang mereka.


__ADS_2