
Mona sangat prihatin terhadap Tasya yang memiliki rambut panjang tetapi ketika disebut rambutnya banyak yang rontok. Hingga membuat Mona melamun karena rasa bersalahnya memegang rambut Tasya hingga rontok begitu.
"Tasya, kamu sakit apa sehingga dirumah sakit ini" tanya Friska dengan nada lembut.
"Aku" Tasya terdiam sejenak. Kemudian melihat lurus kearah Friska.
"Aku asisten pribadi nona" Friska menunjuk kearah Mona.
"Nona" panggil Friska.
"Agh iya" Mona langsung meresponnya.
"Aku terkena kanker darah" Tasya tersenyum.
"Tapi sekarang Tasya belum ada pendonor, mamanya Tasya tidak cocok, papa kandung Tasya entah dimana!" Ucap Gadis kecil polos itu dengan memikirkan kehidupan dia.
"Apa kanker darah anak sekecil ini" gumam Mona.
Tasya hanya menggangguknya saja.
Mona sangat tidak habis pikir, anak selucu, cantik, pintar seperti Tasya harus menderita penyakit seberat ini.
__ADS_1
"Apa yang Tuhan rencanakan untuk anak ini" batin Mona.
Friska pun begitu sedih melihat Tasya kecil.
"Tante lihat rambut Tasya" Tasya membukakan topi bundar yang sedari tadi berada dikepalanya.
"Tasya" lirih Friska dan Mona bersamaan. Karena melihat rambut atas Tasya yang sudah mulai membotak.
"Tidak apa tante ini hanya hal kecil, ini akibat kemoterapi"
"Tasya ingin hidup, tapi jika tidak ada pedonor, maka Tasya akan pergi ke surga"
"Tasya sebenarnya tidak takut jika harus pergi ke surga, karena disana ada kakek dan nenek Tasya" ucap Tasya dengan riang.
Mona dan Friska hanya mendengar dan tidak bisa berkata apa-apa, antara perasaan mereka terkejut, kagum dengan kekuatan Tasya.
"Tasya anak kuat, pasti nanti ada pendonor yang datang" ucap Mona menguatkan Tasya.
"Iya sayang, nanti kamu pasti dapat pendonor, kami yakin" ucap Friska.
"Tasya ayo masuk, kemo mu akan dilaksanakan sebentar lagi" panggil seorang wanita yang tiba-tiba datang tetapi berada ditepian taman, kira2 wanita itu berusia 25 tahunan.
__ADS_1
"Iya ma" jawab Tasya dengan semangatnya.
"Da tante-tante sampai ketemu lagi" ucap Tasya sambil berlari.
"Semangat" ucap Mona meneriaki Tasya.
"Itu pasti mamanya" batin Friska.
Tasya pun pergi meninggalkan taman itu, membuat suasana menjadi sunyi kembali tanpa pembicaraan antara Mona dan Friska.
"Friska, apa anak ku juga sekarang bersama papa dan mama disana ya?" Tanya Mona dengan suara datar tatapan maju kedepan sana.
"Sudah pasti nona, pasti tuan dan nyonya besar akan menjaganya, maka nya sekarang nona harus lebih bersemangat jangan sampai anak nona bersedih melihat nona begini" ucap Friska, bagi Friska ini kesempatan untuk membangkitkan semangat Mona.
"Iya, aku mengerti" ucap Mona kemudian tersenyum, membuat Friska kian lebih semangat lagi.
Jauh disana mereka tidak menyadari jika ada seorang pria sedang memperhatikan mereka, pria tersebut merasa lega melihat sang istri sudah lebih baik, kemudian dia berjalan menuju ke istri dan asisten istrinya.
"Sayang" ucap Gavin dengan mata yang berkaca-kaca melihat kearah Mona, pria itu adalah Gavin.
"Sayang" ucap Mona juga kemudian langsung memeluk Gavin dengan eratnya.
__ADS_1
"Anak kita sudah bahagia diatas sana, sama mama dan papa" ucap Mona sambil meneteskan airmatanya.
Friska yang melihat itu, merasa sangat bersyukur karena nonanya, sudah jauh lebih baik, berkat Tasya si malaikat kecil.