
Gavin yang merasa jika ranjangnya sedikit bergoyang pun bergerak, dia meraba samping kanan, mencari keberadaan istrinya, merasa samping kanannya kosong, dia pun membuka mata dan melihat istrinya sedang menangis ditepian kasur diujung kaki.
Gavin pun langsung bangun untuk duduk disamping Mona, melihat Mona yang sedang menangis membuatnya binggung. Dia memperhatikan wajah Mona.
"Kamu kenapa?" Tanya Gavin.
"Aku gagal, aku gagal jadi seorang mama" suara parau Mona, dia mencoba mengambil nafas lewat hidungnya yang sudah tersumbat. Hidungnya sudah memerah, dia sudah bernafas melalui mulut.
"Hiks, hiks, hiks"
"Aku bukan wanita yang normal, aku, a-aku" Mona terus saja mengoceh sendiri.
Dia menunjukkan hasil tes kehamilan itu pada Gavin, hasil yang Gavin lihat adalah satu garis menandakan negatif. Mona sangat sedih dengan hasil yang dia terima, padahal saat dia bangun pagi dia sudah berharap hasilnya positif, ternyata hasil yang dia terima tetap negatif, dia mencoba sampai 3 tes kehamilan, tetapi juga tidak dia dapatkan, seakan dia tidak percaya dengan hasil itu.
"Apakah aku sulit hamil, apa karena keguguran itu aku sulit hamil lagi" suara sedih Mona.
"Sabar sayang" Gavin memeluk Mona untuk menenangkannya. Kemudian membawa wajah Mona menghadap kewajah dia, Gavin mengusap airmata yang mengalir diwajah cantik istrinya.
"Ini baru awal sayang, kita masih punya waktu yang banyak sekali" ucap Gavin dengan lembut untuk menenangkan Mona.
__ADS_1
"Tapi aku merasa sangat gagal menjadi seorang wanita"
"Hiks, hiks, hiks" Mona masih saja menangis.
"Sudah, enggak apa-apa. Kita pelan-pelan saja ya, semuanya butuh proses"
"Kita gagal"
"Kita buat lagi"
"Ayo sekarang kita buat lagi" senyum jahil Gavin datang mengoda Mona yang masih menangis.
"Ayo sayang kita buat ya" goda Gavin.
"Nah gitu senyum donk, makin cantik" ucap Gavin merayu Mona.
"Kamu jangan sedih lagi, nanti Tuhan akan memberi yang terbaik diwaktu yang tepat"
Mona mengangguk menandakan dia mengerti.
__ADS_1
30 menit kemudian mereka keluar dari didalam kamar, siap-siap untuk berangkat kekantor bersama.
"Sepertinya muka mu hari ini tidak bahagia" cibir mama Vany.
"Tidak ma, Mona baik saja" ucap Mona pelan.
"Atau biar saya tebak, kamu belum hamil juga ya, sudah hampir 2 bulan dari saya kasih kamu kesempatan"
"Ma, cukup" bentak Gavin, dengan pandangan mata yang sangat tajam, menatap ke mamanya.
"Jangan buat Gavin terus melawan mama dengan sikap mama yang begini terhadap istri Gavin" ucap Gavin yang ingin menambah emosinya. Walaupun Gavin anak yang sangat cuek terhadap mamanya, tetap dia masih ingin tetap setidaknya sedikit menghormati mamanya, Gavin belajar ini juga dari Mona.
"Mama hanya menebak, apa salahnya, istri kamu saja yang tidak berguna" ucap mama Vany dengan sinis.
"lagian, apa yang mama harap pada istrimu dia tidak memberikanya segera" ucap mama Vany dengan gayanya itu.
Membuat Mona menunduk kebawah, di dada Mona bergemuruh, terasa sesak, ingin sekali dia menangis saat ini, hanya dia sekuat tenaga menahannya, agar airmatanya tidak tumpah.
Menambah rasa sedih Mona untuk hari ini.
__ADS_1
"Aku harus kuat" batin Mona, menguatkan dirinya sendiri.
Bagi Mona sudah banyak yang dia lalui, tentu dengan ini saja dia kalah, akan membuat dirinya malu.