
Setiap jam Gavin selalu menghubungin Dirgo menanyakan apakah Mona sudah ketemu.
Tentunya Dirgo merasa sangat kasihan terhadap bosnya yang seperti kehilangan jati dirinya sebenarnya.
Selama Dirgo bersama Gavin, dia tau Gavin tidak pernah secintai ini terhadap wanita, jika wanita itu sudah pergi maka dia tidak perduli lagi, tetapi terhadap Mona sangat berbeda.
Saat ini Dirgo dan Gavin sedang berada disebuah ruangan khusus yang memang mereka pakai jika keadaan serius.
"Tuan" panggil Dirgo.
Gavin terlihat melamu.
"Hah, iya" jawab Gavin
"Katakan ada apa?" Ucap Gavin, dia berharap kabar baik.
"Sudah 1 kota ini kita cari keberadaan nona tetapi tidak ada!"
"Jangan pernah kau berhenti mencarinya" jawab Dirgo dengan nada sedikit tinggi.
"Tidak tuan, saya tidak akan berhenti mencari nona, saya ingin anda dan nona bahagia selalu!" Ucap Dirgo dengan kesungguhan hatinya.
"Tunggu tuan, ada 1 tempat yang kita belum cari"
"Asisten Friska" ucap Dirgo yang tiba-tiba kepikiran dengan Friska, dan membuat wajahnya menjadi merasa sedikit panas.
"Mengapa wajah mu menjadi begitu ketika mengucap nama asisten istri ku?" Selidik Gavin.
"Maaf tuan" ucap Dirgo.
"Gini tuan, selama 1 hari ini kita terlalu panik, dan fokus dalam pencarian Nona, hingga melupakan orang lain yang pasti nona cari!"
"Asisten Friska!" Tanya Gavin.
"Iya tuan, mengapa tidak kita hubungin dia!"
__ADS_1
"Aku sendiri juga tidak sampai kepikiran sama Friska" ucap Dirgo.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungin Friska, sambungan teleponnya sedikit lebih lama diangkat.
"Halo" sapa Dirgo diseberang telepon.
"Mengapa kau telepon aku!" Jawab Friska jutek.
"Langsung saja, apa nona bersama mu, atau ada menghubungin mu"
"Untuk apa kalian mencari nona?"
"Masih ada hati kalian sudah memperlakukan nona begitu!" Ucap Friska dengan kecewa.
"Bilang sama tuan mu jangan pernah mencari nona! Lupakan saja nona" ucap Friska dengan sangat kesal.
"Hei, tolonglah, tuan sudah sangat frustasi, ini hanya salah paham!"
"Jangan kau membela tuan mu yang jahat itu!" Friska seakan tidak takut melawan Gavin.
"Asisten Friska" sapa Gavin yang langsung merebut ponsel Dirgo dari tangan Dirgo yang masih menempel ditelingga saat itu.
"Friska tunggu, saya bisa jelaskan" ucap Gavin, tetapi ternyata sambungan telepon telah diputus oleh Friska.
"Tuan merasakan apa yang ku rasa selama ini" batin Dirgo, disaat seperti ini membuat Dirgo merasa sedikit geli, "mau tertawa takut dosa" itu menjadi pikiran Dirgo.
"Dirgo, langsung sediakan pesawat, kita susul Mona, dia pasti berada disana!" Ucap Gavin yang setidaknya mempunyai sedikit harapan, tentunya juga dia tau bahwa Mona baik-baik saja.
"Baik tuan" ucap Dirgo dengan cepat.
Kemudian Dirgo berjalan keluar dari ruangan tersebut dan berpapasan dengan Rebeca.
"Wanita ular" batin Dirgo menatap Rebeca dengan tajamnya.
Rebeca menatap balik Dirgo dengan sombongnya, seperti merendahkan Dirgo.
__ADS_1
"Dimana Gavin?" Tanya pada Dirgo. Dirgo tanpa menjawab langsung melenggang pergi.
"Agh, kurang ajar kau!" Teriak Rebeca.
Dirgo hanya tersenyum jahat mendengar teriakkan Rebeca, dia sangat tidak perduli akan hal itu.
Padahal Dirgo tau jika Rebeca pergi sudah sangat lama, dan entah mengapa dia tiba-tiba kembali.
"Sayang!" Panggil Rebeca kearah Gavin. Dia berlari ingin memeluk Gavin.
Tentu Gavin dengan cepat menghindar.
"Siapa yang kau panggil sayang, wanita ******!" Bentak Gavin, sesaat Rebeca terdiam.
"Mengapa kau tidak bisa menerima ku, kau masih saja mau menerima wanita yang sudah berselingkuh dengan laki-laki lain?" Ucap Rebeca dengan suara sedikit keras.
"Apa katamu, istriku selingkuh dari mana kau tau?" Tanya Gavin menatap mata Rebeca dengan tajamnya.
Rebeca terdiam, dia seperti sedang dipergoki mencuri.
"Apa kau yang mengirim Foto itu!" Tuduh Gavin.
"Tidak, bukan aku!" Bantah Rebeca, padahal memang sesungguhnya Rebecalah yang mengirim foto itu, dan yang mengambil sendiri Foto itu kebetulan dia juga waktu itu mau membeli kue ulang tahun buat Gavin.
"Kau tidak usah beralasan, dari cara berbicara mu, aku sudah tau!" Bentak Gavin, dan disana ada beberapa pelayan melihat hal itu, dan para pelayan merasa senang karena Rebeca bisa dibuat begitu oleh Gavin.
"Dan kau, pergi" usir Gavin dengan kasar.
Rebeca yang terdiam hanya mampu menitihkan airmatanya, antara dia sedih Gavin tidak pernah menerimanya dan diusir dengan begitu kasar.
Ternyata yang mengirim foto tersebut memanglah Rebeca.
*****
Dirgo mempersiapkan penerbangannya bersama Gavin, sore hari mereka akan berangkat.
__ADS_1
Kalau bagi Gavin maunya sekarang juga berangkat karena dia sudah tidak sabar menjemput istrinya.
Dia sangat merindukan sosok istrinya.