Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
97. Waktunya Bersalin


__ADS_3

Perut Mona sudah sangat membesar, sangat besar dirasa lebih besar dari kehamilan biasanya, perutnya juga mengalami strecmak yang lumayan banyak.


Tetapi Mona selalu bersyukur mendapatkan kado terindah ini.


Usia kandungan Mona sudah 9 bulan sudah dekat waktu melahirkan, walau Mona tidak memeriksa kandungannya tetapi dia mencari tau lewat dokter keluar soal usia kandunganny dari terakhir dia mendapatkan tamu bulanannya. Mona juga selalu memakan-makanan sehat tentunya untuk kebutuhan nutrisi Mona.


Benar dijaman ini Mona masih memberlakukan tradisi lama, tidak memeriksa kandungannya, hingga menjadi cibiran mertuanya sendiri. Padahal dimana wanita-wanita yang tengah hamil pasti sangat ingin mengetahui kondisi, bentuk dari anaknya.


Mama Vany benar-benar terlihat biasa saja, tidak apa pun sedikit bicara kepada Mona soal kehamilan Mona ini, menanyakan kondisinya saja tidak ada.


Entah sampai kapan mama Vany akan bertahan pada posisi dia ini.


*****


"Aaaakkkkk" rintih Mona dikamarnya, pada saat itu Gavin sedang mandi.


"Aduhh perut ku!" Lirih Mona.


Mona ternyata dari subuh tadi sudah merasa tidak enak diperutnya, sudah berkali-kali diwaktu subuh mencoba bolak balik ke toilet tidak ada yang ingin dikeluarkan, sekarang Mona baru tau jika dari subuh tadi dia sudah mengalami kontraksi kecil.


Sekarang sakitnya datang sekitar 5-10 menit sekali, masih dapat ditahan oleh Mona, keadaan perutnya pun mengeras, mungkin anak Mona sudah menempatkan posisi siap untuk dia keluar. Hanya saja tanda-tanda seperti pecah ketuban atau darah belum terlihat.


Ketika Gavin keluar dari kamar mandi, dia melihat Mona mengeliat diranjangnya, melengkungkan tubuhnya, memegang perutnya.


Mona pun segera berjalan tertatih memasuki toilet bermaksud buang air, sekalinya didalam kamar mandi Mona kaget melihat darah yang berada di pahanya ternyata tanda nyata dia mau melahirkan sudah terlihat. Mona pun segera berjalan keluar dari toilet.


"Kenapa? Kog cepat sekali keluarnya!" Tanya Gavin heran.


"Aku sepertinya akan melahirkan" ucap Mona masih dengan tersenyum.


"Ayo cepat-cepat kita bersiap untuk kerumah sakit" ajak Gavin yang sudah bolak balik didepan Mona, dia binggung apa yang mau dia lakukan.


"Sayang hentikan, jangan berjalan bolak balik begitu, malah aku pusing melihat mu" rintih Mona.


"Duuuuhhhhh!" Ucap Mona.


"Sakitkah?" Tanya Gavin yang kemudian menuntun Mona untuk berjalan keluar.


"Enggak sakit, geli!" Ucap Mona bermaksud menyindir Gavin.


"Iya sakit, masak kayak gini enggak sakit, kamu sih enggak merasakan hamil dan mau melahirkan bagaimana!" ucap Mona lagi, apa lagi pas kontraksinya menyerang saat berjalan, Mona akan segera berjongkok itu lebih membuatnya tidak begitu merasa sakit.


Tidak kuat melihat Mona merintih terus, akhirnya Gavin memutuskan untuk mengendong Mona ala bride style.


"Uhmm" suara Gavin ketika mengangkat tubuh Mona.


"Kenapa?" Tanya Mona yang melihat wajah memerah Gavin seperti menahan beban.

__ADS_1


"Aku beratkah? Aku gendut!" Tanya Mona dramatis. Karena Mona sangat tidak suka jika dikatakan gendut, walau dia tau dia hamil besar, kini saja berat badannya sudah naik hingga 22 kg.


"Tidak, aku rasa! Aku perlu olahraga yang cukup untuk mengangkat mu!" Ucap Gavin yang mengalihkan pembicaraan agar Mona tidak kepikiran.


"Aduh-duhhhhh" ucap Mona jika kontraksinya menyerang, jika tidak Mona akan bersikap biasa saja.


"Tahan ya!" Ucap Gavin.


Mona pun mengalungkan tangannya dileher Gavin, agar Gavin lebih mudah membawanya untuk menuju mobil.


Pelayan yang melihat Gavin sedang mengendong Mona pun segera membantu keperluan lainnya.


Sesampai di mobil, Gavin pun melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan laju, karena tidak tahan melihat Mona sebentar-sebentar merintih antara sakit dan ketawa, terkadang terlihat seperti ketawa dalam sakit.


"Kamu ini ketawa apa sakit sih!" Tanya Gavin sambil menyetir.


"Sakit, tapi dibawa lucu aja biar enggak kerasa sakit" jawab Mona.


"Bagus, tahan ya!"


Gavin pun fokus menyetir mobilnya. Tidak begitu lama pun, rumah sakit sudah terlihat didepan mata, sesampainya dirumah sakit Mona pun segera dibawa dengan kursi roda menuju ruang bersalin.


"Panggil dokter terbaik disini" ucap Gavin yang sangat tegang karena sebentar lagi akan menjadi papa.


"Baik tuan" ucap perawat di rumah sakit.


"Sudah pembukaan 4 ini, bagus sekali, prosesnya cepat" ucap sang dokter. Karena memang hanya berselang 4 jaman Mona sudah pembukaan 4.


"Tuan silakan menemankan istrinya melahirkan" ucap sang dokter.


"Tidak tuan, saya takut darah! Nanti dokter malah mengurus saya bukan istri saya!" Tolak Gavin secara halus.


"Aaaahhkkkk" teriak Mona, dengan merintih.


"Baik, dok! Saya mau masuk" ucap Gavin.


Mendengar suara Mona yang begitu merintih membuat hati Gavin luluh, dia akhirnya memberanikan diri menemani istrinya melahirkan.


Beberapa saat ditunggu pembukaan Mona semakin lancar. Ketika diperiksa pembukaannya telah selesai, kepala anak sudah terasa didepan mata.


Maka dokter mengarahkan Mona untuk mengeden, mengeluarkan anaknya. Mona berusaha sekuat tenaga mendorong perutnya agar sang anak bisa keluar dengan selamat, dengan jari jemari yang selalu digenggam oleh Gavin yang berada disampingnya memberikan semangat, Gavin juga menimpali dengan mencium kening Mona, agar dia semakin semangat.


"Ayo nona, sedikit lagi" ucap sang dokter.


Mona sudah ngos-gosan, menarik nafas dan menghembuskan nafasnya.


"Aku enggak kuat, huft, huft!" Nafas Mona terputus-putus.

__ADS_1


"Ayo sayang kamu pasti bisa!" Semangat dari Gavin.


"Ayo lagi nona!" Ucap Dokter tersebut.


Mona pun memfokuskan dirinya, untuk mengeluarkan anaknya.


Gavin sangat terharu melihat Mona berusaha melahirkan anaknya, hingga dia membayangkan waktu mamanya melahirkan dia bagaimana.


"Oekkk, oeekkk, oeeekkk!" Suara bayi kecilnya Gavin dan Mona.


"Selamat tuan, bayi anda laki-laki dan sangat ganteng, seperti papanya!" Ucap seorang suster dengan wajah semu, merona dengan ucapannya sendiri.


"Dok, kog perut saya terasa sakit lagi, seperti ada yang mau keluar lagi!" Ucap Mona yang merasakan perutnya mules.


"Tunggu saya periksa" ucap Dokter tersebut.


"Ok, sekarang mengeden lagi ya!" Ucap sang dokter.


"Kog lagi dok!?" Tanya Gavin yang binggung.


"Sepertinya tuan akan mempunyai dua bayi"


"Apa dok?" Tanya Mona.


"Dokkkkk!" Teriak Mona karena merasakan anaknya akan keluar lagi.


"Ayoo! Satu, dua, tigaaa!" Teriak sang dokter.


Yang kali ini anak Mona lebih mudah keluar, karena yang sudah kedua kali.


"Selamat tuan, nona, kalian mempunya dua bayi laki-laki yang ganteng" ucap sang dokter.


"Terima kasih dok, sudah membantu kelahiran anak saya!" Ucap Gavin.


"Terima kasih dok!" Ucap Mona.


"Bentar ya saya mau jahit!"


"Aghhhhhh"


"Ini lebih menyakitkan daripada melahirkan!" Teriak Mona.


"Tahan sayang" ucap Gavin menenangkan istrinya, yang sedang mengigiti tangan Gavin.


Karena ketika Mona sudah merasa kesakitan, Mona langsung menarik tangan Gavin secara tidak sengaja untuk digigit.


"Aaggghhh" teriak Gavin juga yang kesakitkan karena kulit tangannya hampir seperti terlepas karena gigitan Mona.

__ADS_1


Gavin tidak berani mengerutu karena dia takut Mona akan marah terhadapnya, akhirnya dia hanya bisa menahan rasa sakit akibat gigitan Mona ditangannya.


__ADS_2