Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
34. Sangat Tidak Percaya


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Belum juga Friska keluar dari ruangan Mona, pintu ruangan Mona sudah diketuk lagi.


"Masuklah" ucap Mona, Friska pun menunggu siapa yang masuk.


"Ada apa pak Sapto?" Ketika Mona melihat yang masuk adalah pak Sapto satpam yang berjaga dipintu gerbang utama.


"Ma-af nona!" Ucap Pak sapto agak terbata-bata.


"Ini" pak Sapto menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat, terlihat tebal.


"Ini dari mana pak, kog tidak ada pengirim" Mona membolak balikkan amplop tersebut.


"Saya juga tidak tau nona, soalnya isi kemarin ada seorang pria data dengan pakaian biasa saja menyerahkan, ketika ditanya dia enggak jawab seperti bisu!" Ucap Pak Sapto.


"Yang saya lihat hanya ada tulisan untuk nama nona!" Ucap pak Sapto.


"Oh"


"Yah sudah bapak silakan kembali bertugas" ucap Mona sambil menyobek amplop tersebut.


"Apa ini" tubuh Mona bergetar melihatnya, dia sangat kaget.


"Nona kenapa" Friska kaget melihat tubuh Mona yang tiba-tiba lemas menyadarkan badannya kekursi besarnya itu.


"Aku sungguh tidak percaya Fris"


"Ini sungguh diluar nalar ku!"


Mona pun mempersilakan Friska untuk melihat apa isi amplop itu.


"Apa ini benar, siapa pengirimnya" ucap Friska dengan kagetnya dia.

__ADS_1


"Siapa orang hebat yang bisa menemukan bukti ini semua nona?"


"Jangan kamu tanya aku Fris, aku sudah sangat lelah, a-ku!" Tiba-tiba saja Mona menangis, airmatanya menetes dipipi putih mulusnya.


"Sabar nona, kita selidiki dulu"


"Semua ini belum tentu benar, siapa tau ada yang ingin nona tersakit"


"Ta-pi nona kan selama ini tidak ada musuh" Friska berpikir dengan menjelingkan matanya ke kanan ke kiri.


Mona sangat tidak percaya jika orang itu sampai rela berbuat sejauh ini.


"Apa salah ku ya Tuhan" batin Mona, dia pun langsung mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


Mona sudah tidak tau harus berbuat apa, lalu siapa lagi yang harus dia percaya.


"Friska coba kamu selidiki lagi data-data ini sekarang" perintah Mona tegas.


"Baik nona, segera saya kerjakan" Friska pun segera mengambil amplop yang berisi data itu dan segera keruangannya, untuk mencari kebenaran.


Didalam ruangannya Mona sangat menyesali hidupnya, mengapa ada orang begitu jahat terhadapnya.


Tidak terasa airmata pun mengalir dipipinya, lagi-lagi dia menangis, dia tidak sanggup menahan derita hidup ini.


Mona pun memilih meninggalkan pekerjaannya, dia memilih membaring tubuhnya disofa, diruangan besar Mona terdapat sofa yang memang dikhususkan santai.


Dada Mona terasa sesak mengingat data yang barusan dia lihat, dia ingin marah, tetapi jika saat ini dia langsung marah sangat lah tidak jelas, jika data itu membohonginnya, maka dia akan semakin membuat masalah menjadi besar.


Akhirnya Mona pun tertidur disofanya.


*****


Diruangan Friska, dia sedang meneliti data-data yang datang dari amplop tersebut.

__ADS_1


"Kasihan nona" gumam Friska.


"Aku sungguh tidak percaya, jika ini benar, maka ini hal terburuk yang pernah nona alami!"


Friska juga meminta kepada bagian resepcionis jika ada yang mencarinya, bilang bahwa dia sedang sibuk. Dia ingin fokus meneliti data ini, karena ini hal terbesar dari hidup bosnya.


"Apakah tuan Gavin yang mengirim data ini" sepintas Friska kepikiran Gavin yang selalu membantu Mona.


"Aku harus menghubungin Dirgo" ucap Friska.


Friska pun segera mencari hpnya karena dia berniat menanyakannya pada Dirgo.


"Eh! Tunggu" ucap Friska berhenti mencari hpnya.


"Nomor si resek itukan aku tidak ada"


"Oh, yak ampun" Friska sedikit menyesalin tidak memiliki nomor hp Dirgo disituasi genting ini.


"Tapi untuk apa aku yang minta nomornya, harusnya dia" ucap Friska kemudian memajukan bibirnya, seperti menjelekkan mukanya sendiri. Gengsi Friska lebih kuat dari yang lain.


"Aku harus membantu nona selesaikan tugas ini segera" ucap Friska dengan semangat.


Friska pun kembali fokus mengejarkan data-data itu hingga sore menjelang, hingga ketika dia diajak pulang oleh Mona dan Gavin , Friska pun belum ingin pulang karena hanya tinggal sedikit lagi tugas dia selesai.


Bagi dia tanggung untuk meninggalkan pekerjaan itu.


*****


Diperjalan pulang Gavin melihat raut yang berbeda dengan wajah Mona.


"Kau kenapa?" Tanya Gavin dengan Mode Gavin yang sesungguhnya, suara yang tajam, tegas.


"A-ku lelah saja" ucap Mona dengan lemah.

__ADS_1


Kemudian Gavin pun tidak ingin lagi bertanya kepada Mona, karena dia tau kalau Mona ditanya terus pun dalam kondisi ini tidak akan menjawab.


__ADS_2