
Pagi hari yang cerah, Mona dan asisten Friska merencanakan akan bertemu kliennya disebuah hotel mewah.
Asisten Friska mempersiapkan semua datanya, mengatur jadwal, jam dengan tepat.
Gavin pun siap mengantar kemana pun Mona dan Friska pergi.
"Sudah siap semua" ucap Gavin.
"Siap bos" ucap Friska.
Gavin pun tersenyum kemudian melajukan mobilnya ke kantor terlebih dahulu, kemudian ke hotel tempat Mona dan kliennya janjian.
2 jam kemudian, sampai lah mereka disebuah hotel mewah, dengan menyewa sebuah ruangan khusus.
Disana Mona pun telah ditunggu oleh dua orang pria, salah satunya berumur sekitar 50 tahunan dan satunya berumur 30 tahunan.
"Saya Mona, ceo Campion Group" ucap Mona memperkenalkan diri.
"Dan ini asisten saya Friska" Friska pun menundukkan kepala memberikan tanda hormat.
"Saya Bramtio Julius panggil saja pak Bram" ucap bapak-bapak yang berumur 50 tahunan itu.
"Dan ini wakil saya yang juga sekaligus anak saya, Bernard Julius"
Mereka pun berkenalan, tetapi entah mengapa tangan pak Bram sangat lama menyalami tangan Mona, hingga Mona yang menariknya, dengan tatapan mata nakal melihat kearah Mona.
Begitu pula juga Bernard, dia hampir sama seperti papanya, sama-sama genit.
Siapa yang tidak terpesona dengan Mona yang begitu cantik. Friska yang berada disana pun tidak luput dari gangguan Bernard.
"Ih, apa orang ini" batin Mona.
"Ingin ku tinggalkan mereka, tapi mereka proyek besar" batin Mona.
Kedua pria itu ternyata pasangan bapak dan anak.
Dari jauh ada sepasang mata yang sedang mengintai mereka.
__ADS_1
"Kurang ajar mereka" batin Gavin, ternyata Gavin yang sedang melihat mereka dari jauh, dia ingin mengantarkan tas Mona yang ketinggalan dimobil.
"Dasar om-om botak" ucap Gavin dengan melihat kepala sula pak Bram.
"Tidak tau tua" ucap Gavin lagi.
Gavin pun berjalan menuju kearah Mona dan Friska.
"Tuan" ucap Friska pelan mengarah ke Gavin.
"Nona ini tas mu ketinggalan" ucap Gavin dengan memandang sinis kepada kedua bapak dan anak itu.
Mona sampai heran melihat Gavin yang begitu sinis terhadap mereka.
Lalu Gavin segera pergi karena tidak mau menganggu Mona dalam bekerja.
Setidaknya pekerjaan Mona pun berjalan lancar saat ini, pertemuan pun selesai.
Mona dan Friska pun berpamitan dengan pak Bram dan Bernard.
"Iiih dasar tua bangka" batin Friska.
"Maaf pak, saya sudah menikah" ucap Mona dengan cepat.
Bagi Mona lebih baik, pelan-pelan orang-orang diluar sana mengetahui jika dia sudah menikah.
Pak Bram dan Bernard begitu terkejut mendengar pengakuan Mona, begitu pula Friska.
"Apa itu benar?" Tanya Bernard
"Benar" ucap Mona, tentunya jika Gavin mendengarnya maka dia akan sangat senang dengan hal ini.
"Nona, anda kenapa?" Tanya Friska disamping telingga Mona.
"Tidak apa-apa" jawab Mona.
"Apa nona kesambet ya" batin Friska yang bertanya bodoh.
__ADS_1
Mona dan asistennya pun langsung melangkahkan kakinya pergi mencari sang supir.
"Dimana sih Gavin" ucap Mona.
"Tuan enggak ada kasih kabar ke nona kah" tanya Friska.
Mona mengeleng-gelengkan kepala, memberi isyarat "tidak ada".
"Itu tuan" tunjuk Friska ketika melihat Gavin dengan seorang wanita sedang bercanda.
"Hei, apa-apaan dia bisa bercanda dengan wanita lain begitu" ucap Mona dengan nada kesal.
"Memang tidak boleh nona?" Tanya Friska pura-pura bodoh.
"Tidak boleh, dia suami ku" ucap Mona dengan tegas.
"Nona cemburu??"
"Tidak" ucap Mona, tetapi matanya tidak lari dari Gavin yang sedang berbicara dengan seorang wanita.
"Aku tau nona sekarang sudah pandai cemburu, tandanya nona sudah mulai mencintai tuan Gavin" batin Friska.
"Friska panggil Gavin sekarang, aku tunggu dimobil" ucap Mona dengan nada kesal.
"Baik" ucap Friska.
Friska pun segera menghampiri Gavin dan memberitahu Gavin jika mereka sudah selesai dan siap pulang.
"Siapa dia?" Tanya perempuan itu.
"Oh, ini asisten Friska!" Ucap Gavin.
"Friska" Friska memperkenalkan dirinya.
"Nila, aku teman sekolahnya Gavin" ucap perempuan itu.
Akhirnya Friska pun mengetahui siapa Nila sebenarnya, pantesan mereka begitu akrab.
__ADS_1