
Sudah 1 minggu Friska bersama Mona, di istana Mewah Gavin.
Friska sudah ingin balik ketempat dimana dia berasal, ke negeranya, karena dia melihat Mona sudah sangat sehat.
Mona merasa sedih harus berpisah lagi dengan Friska, padahal saat ada Friska jika tidak ada Gavin, Friska lah yang menemaninnya.
Saat ini Gavin meminta Dirgo untuk keruangannya, dia juga memerintahkan Dirgo untuk mengantar kepulangan Friska, dengan wajah cemberut Dirgo menerima perintah dari bosnya.
Sedangkan Friska dan Mona mereka menghabiskan waktu dikamar Mona.
"Tuan, aku sibuk harus menanggani proyek besar" ucap Dirgo malas.
"Biarkan saja Friska pulang sendiri, dia sudah besar!" Ucap Dirgo dengan malas tapi sebenarnya hati dia merasa sepi karena tidak ada yang bisa diajak perang mulut lagi jika Friska pulang.
Karena biasanya dia dan Friska akan berperang mulut jika bertemu, atau hanya sekedar ejek-ejekan, entah apa yang kedua orang itu rasakan.
"Kamu tidak mau mengantar Friska pulang?"
"Tidak mau tuan, tuan kan tau saya banyak tugas belum selesai dari tuan!"
"Lalu siapa yang mengantar Friska pulang?" Tanya Gavin.
"Tuan saja bagaimana" jawab Gavin santai.
"Apa katamu" jawab Gavin langsung bangkit dari tempat duduk kebanggaannya, sambil membunyikan kesepuluh jari-jarinya.
"Ups, aku salah ngomong" batin Dirgo.
"Maaf tuan, keceplosan" kekeh Dirgo.
"Mau aku bunuh kau?" Tanya Gavin dengan senyum jahatnya.
"Ampun tuan, enggak apa-apa deh tuan bunuh yang penting jangan potong gaji ku" ucap Dirgo dengan sedikit candaan, karena dia tau jika Gavin tidak mungkin membunuhnya karena dia tidak berbuat kesalahan besar.
__ADS_1
"Bodoh, kalau kau mati, gaji kau utuh untuk apa"
"Iya juga ya tuan"
"Tuan pintar" puji Dirgo sambil bertepuk tangan.
Plakk!
Tangan Dirgo dipukul oleh Gavin dengan lemparan buku tebal.
"Aduuuhhhh sakit tuan" keluh Dirgo, karena lemparan Gavin berhasil mengenai jari-jari cakepnya.
"Sudah, pokoknya antar Friska sampai tujuan, aku tidak ingin istri ku cemas jika asisten dia pulang sendiri"
"Baik lah tuan" ucap Dirgo dengan malas.
Kemudian Dirgo kembali ke ruangannya.
Disana dia merasa sedih, entah mengapa hatinya merasa sedih mendengar Friska mau pulang.
*****
Kemudian waktu berlalu, waktunya malam, Friska harus melakukan penerbangan.
"Hati-hati ya Friska" Mona melepas pelukkannya dari Friska.
"Iya nona, nona yang baik-baik ya sama tuan dan semoga ponaan ku akan segera jadi ya"
"Amin" ucap Mona.
"Baik lah, malam ini kita buat ya sayang" goda Gavin.
"Waahhh, Dirgo jangan terpancing ya, nanti kau berbuat jahat terhadap asisten istri ku ini" ucap Gavin yang melihat wajah Dirgo yang memerah karena ucapan dia barusan.
__ADS_1
"Sudah tuan, aku tidak punya waktu" ucap Dirgo kemudian dia membawa koper Friska memasuki jet pribadi milik Gavin, walau bukan Dirgo pilotnya, hanya Dirgo yang menemanin Friska dalam penerbangan, memastikan Friska sampai dengan selamat.
"Gavin, kau mengoda Dirgo saja terus" ucap Mona menepuk bahu Gavin yang didepannya.
Disaat seperti inilah Gavin bisa bercanda dengan Dirgo, walau dia orangnya dingin, cuek, tetapi untuk teman terbaik dan istri, Gavin pasti menyediakan waktu untuk bercanda.
Friska dan Dirgo pun menaiki jet tersebut, mereka melambaikan tangan pada bos-bos mereka, seakan mereka melakukan penerbangan jauh, padahal hanya mengantar Friska pulang saja. Gavin dan Mona pun segera untuk pulang kerumahnya.
Kemudian didalam pesawat jet tersebut, Dirgo memandangin Friska dari belakang dengan diamnya, Dirgo binggung dia mau berbuat apa.
Friska pun hanya diam memandang keluar dari jendela pesawat.
"Aku laki-laki" itu saja yang dibatin Dirgo saat ini.
Kemudian dia berjalan beberapa langkah menuju bangku Friska.
Dan duduk disampingnya.
"Kamu melihat apa keluar?" Tanya Dirgo berbasa-basi.
"Lihat awan lah, masak lihat kamu" ucap Friska ketus.
"Hei, bisa enggak jangan bicara ketus begitu terhadap aku" ucap Dirgo dengan santai sepertinya mencoba berdamai dengan Friska.
"Kamu nyebelin" Friska membuang mukanya kejendela pesawat tidak mau menoleh ke Dirgo, Friska sedang mengalihkan perasaannya.
Dirgo pun pergi ke bangku belakang lagi.
30 menit kemudian, dia tidak lagi melihat pergerakkan dari Friska, dia melangkah lagi ke kursi Friska, ternyata Friska sudah tertidur.
"Dasar kebo" batin Dirgo
Dia pun duduk disebelah Friska, kemudian merendahkan sedikit bahunya untuk menampung kepala Friska yang tertidur itu.
__ADS_1
"Coba kita bisa berdamai terus macam ini" batin Dirgo melihat kearah wajah Friska yang tertidur pulas.