
1 hari telah berlalu dari menghilangnya Mona, semuanya sudah mencari keseluruh kota, tempat. Anak buah dari Dirgo sudah menyebar kemana-mana, termasuk Dirgo sendiri sudah berusaha.
Gavin panik sudah 1 hari Mona tidak ada bersamanya, dia menjadi sedikit-dikit emosian, terkadang menitikkan airmata, hatinya benar-benar hampa tanpa kehadiran Mona disampingnya.
Melihat pelayan yang datang saja terkadang baginya itu Mona, hanya dia cepat tersadar.
"Sayang dimana kamu" Gavin merindukan Mona, dia melihat digaleri fotonya semua berisikan foto Mona.
"Maafkan aku yang tidak tau diri ini, kembalilah jangan begini terhadap aku" lirih batin Gavin yang lagi duduk diteras belakangnya.
Dari kejauhan ada dua orang wanita sedang memperhatikan Gavin, mereka adalah mama Vany dan tante Sella.
"Kasihan sekali Gavin, dia sangat terpuruk" ucap tante Sella.
"Kamu sebagai mamanya juga tidak bisa membuatnya tenang, Mona itu gadis baik, seharusnya kamu dapat menerimanya dengan baik" ucap tante Sella yang memang menyukai Mona.
"Tidak kak! Anak itu tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan, tidak seperti Rebeca yang bisa menambah kekayaan keluarga kami" ucap Mama Vany dengan nada tidak suka ketika kakaknya sangat menyukai Mona.
"Vany" bentak tante Sella.
"Kamu ingat siapa kamu dulu?" Tanya tante Sella dengan nada sedikit naik karena sudah merasa kesal dengan adiknya sendiri.
Flashback On
Jauh sebelum Stevany (mama Vany/mamanya Gavin) menikah dengan papanya Gavin, Stevany merupakan gadis biasa penuh kasih sayang dan ramah.
Dia dan kakaknya (tante Sella) tumbuh bersama dalam keluarga yang sederhana penuh kehangatan, suka cita walau hidup dalam kesederhanan.
__ADS_1
Suatu hari Stevany sedang berjalan santai disebuah kota, dia sebenarnya berniat mencari kerjaan hanya semuanya tempat yang dia datangin tidak ada lowongan pekerjaan.
Karena kesal dia tidak mendapatkan kerjaan, dia berjalan sambil menendang sebuah botol yang kebetulan ada ditepi jalan, orang yang membuang botol sembarang pun tidak terlihat, seharusnya botol tidak berada ditepi jalan atau pun berada dibadan jalan, tempat botol kosong adalah tong sampah.
"Aghh! Siapa yang melempar botol sembarang" ucap seorang pria yang memegang dahinya sedikit berdarah terkoyak akibat mulut botol yang tajam.
Stevany tersadar bahwa dia berbuat kesalahan karena kakinya dengan nakal menendang botol tersebut. Dengan cepat dia menghampiri laki-laki yang terluka akibat ulahnya.
"Maaf, aku yang menendang botol tersebut!" Ucap Stevany dengan suara bergetarnya, apalagi dia melihat penampilan laki-laki tersebut sangat rapi, dengan sepatu yang mengkilat, jas yang nampak sangat mahal, pakaian yang sangat bermodel dan wajah yang tampan tentunya.
"Biar aku mengobati mu" Stevany langsung mengeluarkan sapu tangan yang berada dalam tasnya untuk mengelap darah yang mengalir.
"Mengapa kamu menendang botol itu" ucap laki-laki itu yang awalnya sudah sangat emosi karena kepalanya harus bocor karena botol, menjadi tidak marah karena melihat kecantikkan Stevany, dia juga terkesan dengan Stevany yang langsung mengakui kesalahannya.
"Aku lagi kesal tuan, aku lagi mencari pekerjaan dan tidak mendapatkannya, maaf sekali lagi!?" Ucap Stevany merasa bersalah.
"Sudah tidak apa-apa hanya luka kecil"
"Stevany, tuan" balas Stevany, pada saat itu dia tidak mengetahui jika orang yang bernama Vilar dibelakangnya merupakan orang terkaya yang ada diasia.
"Bisa saya lihat Cv mu?" Stevany dengan cepat menyerahkan berkas yang masih dalam pegangannya.
"Nanti saya serahkan ke Hrd dan kamu silakan datang kekantor itu" Cristo menunjuk sebuah kantor yang tidak jauh dari mereka berada.
"Terima kasih tuan" dengan sangat bersenang hati Stevany menerimanya.
Dan mulai saat itu lah mereka mulai saling mengenal satu sama lain, hingga Cristo yang merupakan atasan Stevany menyatakan Cintanya dan mengajak Stevany menikah, Cristo memilih Stevany karena dia tau wanita yang akan dinikahnya adalah bukan wanita materialistik.
__ADS_1
Tentunya Stevany sangat senang dan bahagia, dia memang sangat mencintai Cristo, dia tidak memikirkan soal kekayaan Cristo baginya hidup sederhana saja sudah sangat membahagiakan.
Mungkin saat ini mama Vany terlalu terobsesi dengan harta hanya karena dukungan dari pihak luar, sebelum dia menikah dengan Cristo, papanya Gavin, dia tidak mengenal berbagai orang, apalagi dengan harta yang berlimpah.
Flashback Off
Mama Vany mengingat masa lalunya, dia sedikit merasa bersalah dan sedih.
"Cobalah kamu menjadi mama yang baik" ucap tante Sella menasehati adiknya.
Membuat mata mama Vany berkaca-kaca, dia tidak tau harus berbuat apa.
"Aku tidak perduli kak, ini aku yang sekarang bukan aku yang dulu, aku bisa berubah menjadi apa yang ku mau!" Ucap mama Vany tidak perduli.
"Sudahlah kak, aku mau kekamar istirahat!" Mama Vany pun segera berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan tante Sella berjalan menuju kearah Gavin.
"Nak!" Ucap tante Sella membuyarkan lamunan Gavin.
"Tante!" Ucap Gavin dengan pelan.
"Yang sabar ya! Mona pasti ketemu dia tidak akan pergi jauh dari mu, tante tau dia juga sangat mencintai mu!"
"Tante, aku bersalah terhadap Mona"
"Harusnya aku mendapat hukuman saja, tetapi Mona jangan pergi seperti ini" renggek Gavin, hilang sudah sifat dinginnya berada dalam posisi ini dan berhadapan dengan tantenya.
__ADS_1
"Kamu sabar ya, kita berdoa, semoga Mona cepat kembali!"
Tante Sella menguatkan Gavin, Gavin hanya menadahkan kepalanya dimeja. Terlihat wajah lusuh Gavin, tidak terlihat sedikit pun senyuman.