Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
27- Ternyata Dia Dalangnya


__ADS_3

Setelah sampai dirumah, Mona segera membagikan hadiahnya untuk bik Surti dan pak Parto, mereka semua sangat senang menerima hadiah dari majikannya.


Tentunya juga tidak lupa terhadap tante Dewi.


"Tante, ini buat tante" Mona membukakan sebuah kotak periasan yang berisi cincin yang sangat mewah yang dia beli dihawai.


"Wahh cantik sekali, kamu tidak lupa hadiah untuk tante" tante Dewi sangat senang menerimanya.


"Tentu tidak" ucap Mona mengedipkan 1 matanya.


"Lalu dari mu mana" ucap tante Dewi ke Gavin.


"Maaf nyonya, saya tidak membawa apa-apa" jawab Gavin sambil menunduk.


Gavin ketika kembali kerumah Mona, dia akan merubah sifatnya ke seorang Gavin yang berprofesi sebagai supir, sedangkan jika tidak hanya berhadapan dengan Mona, kondisi berada dikamar mereka atau tidak ada yang melihat dia, akan menjadi Gavin yang dingin, tegas, tidak bisa dilawan, dan sangat berkharismatik.


"Gavin kan suami Mona, Mona kasih kan sudah sama saja tante" bujuk Mona.


"Ya sudah enggak apa-apa kali ini tante lewatkan karena tante bahagia dapat hadiah dari kamu" Mona memang membelikan barang yang selalu tantenya suka, walau sempat beberapa saat lalu tantenya membuat masalah dikantor Mona, dengan pemakaiaan uang yang berlebihan.


Bagi Mona, itu tetap tantenya yang selama ini bersama dia, keluarga dia satu-satunya setelah orang tuanya tiada.


Mona saat ini juga sangat senang melihat tantenya senang.


*****


Besoknya dikantor Mona.


Para karyawan lain sangat senang melihat bosnya telah pulang mereka juga sangat senang karena mendapat begitu banyak hadiah dari Mona, Friska dan Gavin, walau hanya hadiah kecil-kecil saja, hanya sebagai kenangan.


Pekerjaan Mona sudah menumpuk.


"Ini, ni yang buat aku enggak mau meninggalkan kantor buat liburan" keluh Mona sendiri melihat setumpuk berkas yang harus dia periksa, melihatnya saja dia sudah capek.


"Semangat, harus semangat, ini jerih payah papa, aku bisa!" Mona menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Ting! Ting! Ting!


Bunyi pesan masuk dihp Mona, dia melihatnya langsung.


"Dari Gavin?" Batin Mona.


"Nanti sore kita pergi kesuatu tempat untuk menyelesaikan masalah ya" isi pesan Gavin.


"Masalah apa!" Balas Mona.


"Nanti saja, kamu saat ini pasti sibuk sekali, oh iya jangan lupa makan siang, nanti maag mu kambuh" balas Gavin sambil dia tersenyum sendiri menatap layar hpnya.


"Iya" balas Mona, dia merasa malu diperhatikan Gavin begitu.


Mona pun tidak mengambil pusing pesan Gavin tadi, dia lebih pusing dengan masalah didepan dia yang setumpuk itu.


"Fighting" seru Mona.


*****


Ditempat Gavin berada dia terlihat sedang menelepon.


"Siap bos"


"Berani dia menjadi dalang penculikkan Mona" Batin Gavin.


*****


Sorenya Gavin sudah siap membawa Mona ketempat yang memang sudah ia ingin tunjukkan Mona, dia meminta Friska untuk pulang terlebih dahulu.


"Kita kemana?" Tanya Mona takut-takut. Mona seakan mengingat kejadian Alex yang ingin memperkosanya.


Gavin sangat mengerti kondisi Mona, dia pun segera meraih tangan kanan Mona dan mengenggamnya.


"Tenang, aku bukan dia" ucap Gavin.

__ADS_1


"Apa dia membaca pikiran ku" batin Mona.


Mona hanya dia saja terhadap percakapan Gavin.


"Dia sangat peka" batin Mona.


Gavin pun menyetir dengan agak pelan, karena hanya menggunakan sebelah tangan, Mona merasa sangat tenang berada digenggaman Gavin.


"Mengapa aku selalu merasa tenang disamping dia" Mona memandang Gavin intens.


Gavin tau jika Mona terus memandangnya, hanya dia pura-pura saja tidak tau, karena tidak ingin membuat Mona merasa tidak enak.


Gavin membawa Mona kesebuah rumah yang kecil, tetapi terawat.


"Rumah siapa ini?" Tanya Mona ke Gavin.


"Markas kami" ucap Gavin santai.


"Markas???"


"Markas apa?"


"Jangan-jangan kamu"


"Sudah jangan pikiran macam-macam, ayo kita turun, kamu harus siapkan mental, fisik ya!"


"Ingat saat ini kamu istri seorang Gavin Alvaro Vilar" ucap Gavin lantang, membuat Mona bergidik ngeri.


"Hmm"


"Iya" ucap Mona.


Mona dan Gavin pun berjalan masuk dan kemudian disambut oleh Dirgo.


"Dirgo" ucap Mona kaget, karena Dirgo berada dipintu utama.

__ADS_1


"Silakan tuan dan nona" ucap Dirgo dan dibelakang Dirgo ada beberapa orang lainnya yang berbadan besar dan tegap berpakaian jaket kulit berwarna hitam.


Mona pun melihat kanan kirinya.


__ADS_2