
1 bulan lebih pun berlalu dari liburan mereka. Mona menantikan selalu berharap jika kini rahimnya sudah dihadiri oleh janin yang ingin tumbuh.
Dia mengecek kalendernya, melihat kapan terakhir dia mendapatkan tamu bulanannya.
"Waahh"
"Aku telat sudah 1 minggu lebih" batinnya dengan senang.
Ketika melihat kalender lewat hpnya, dia selalu mencatat tanggal berapa tamunya datang.
Kini Mona sudah mempunyai persediaan tes kehamilan. Didalam kamarnya Mona terlihat ceria. Dia membayangkan jika sudah ada janin yang tumbuh, betapa bahagianya dia.
Dia juga sangat ingin melihat Gavin mendapat kebahagian lebih darinya.
"Ayo tidur, sudah malam lho" ajak Gavin, dia menatap heran istrinya yang terlihat ceria ketika selesai melihat hp.
"Kamu chatting dengan siapa sebahagia itu?" Tanya Gavin yang penasaran dan mulai cemburu.
__ADS_1
"Iiihhhh apaan si chatting, aku cuma lihat kalender saja" celoteh Mona.
"Lihat kalender kog bisa sebahagia itu" Gavin masih tidak percaya.
"Lihat ini chattingan ku dari kapan dan aku tidak ada menghapus, aku barusan membuka kalender" ucap Mona kesal, merasa Gavin tidak percaya dengan dia.
Gavin melihatnya dan sedikit percaya.
"Aku lihat kalender kapan aku terima tamu bulanan dan aku sekarang sepertinya sudah telat biasanya akan tepat waktu atau lebih cepat terima tamu bulanan ini" ucap Mona dengan senang.
"Sungguh, kamu sudah tes??" Gavin langsung antusias.
"Bagaimana pun hasilnya aku harap kamu terima ya" ucap Gavin, karena dia takut istrinya terlalu berharap atau hal lainnya nanti membuat istrinya tidak percaya diri lagi.
"Kog kamu ngomong gitu sih, kamu enggak mau punya anak dari aku" Mona berucap dengan kesal dan cemberut.
"Bukan gitu sayang, aku hanya enggak ingin kamu kecewa, aku malah sangat ingin mempunyai anak secepatnya dari mu" ucap Gavin menenangkan Mona yang terlihat raut wajah yang berubah.
__ADS_1
"Sudah tidur yuk, besok pagi kamu cek ya" kemudian Gavin mengecup pucuk kepala Mona, Mona seketika pun memejamkan matanya, merasakan kasih sayang yang mengalir penuh dari Gavin.
"Aku sangat berharap, anak kita akan segera tumbuh dirahim mu sayang" batin Gavin melihat ke arah Mona yang baru saja membaringkan dirinya.
Kemudian Gavin tidur dengan memeluk Mona dari belakang, dia memcium bau harum rambut Mona yang terurai kebelakang.
Sedangkan Mona sedang berpura-pura memejamkan matanya, dia tidak ingin dilihat Gavin jika dia sedang memikirkan hal yang barusan mereka bicarakan.
"Aku ingin bisa mengandung anak mu" batin Mona.
*****
Pagi harinya, Mona sudah terbangun dengan cepat-cepat dia pergi kamar mandi dan tidak lupa membawa alat tes kehamilan itu.
Jantungnya berdebar, terasa jantungnya berpacu dengan cepat, dia sudah tidak sabar menanti hasilnya, padahal kakinya saja belum menginjak kamar mandi.
Setelah sampai dikamar mandi, Mona sudah was-was menanti hasil tes kehamilannya, setelah waktunya ditentukan, dia melihat alat itu dan hasilnya.
__ADS_1
"Hiks, hiks, hiks" tiba-tiba saja airmatanya mengalir. Perasaan Mona sangat bercampur aduk.
Mona pun keluar dari kamar mandi masih dengan berlinar airmata. Dia duduk ditepian ranjang, sambil mengusap airmatanya yang masih terus mengalir. Dia tidak tau, harus berbuat apa, hanya airmata yang dapat ia tumpahkan, hanya itu yang dapat melegakan dia. Dia masih saja berharap ini hanya mimpi, bisa membuat perubahan yang indah untuk dia.