Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
70. Rencana Bulan Madu


__ADS_3

"sayang, kau dengarkan Friska bilang apa??" Gavin mengoda Mona dikamarnya.


"Soal apa?" Tanya Mona yang memang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Suaminya ini.


"Kamu pura-pura enggak tau ya" Gavin memeluk Mona secara tiba-tiba.


"Iiihhhh lepasin aghh, sesak!" Karena Gavin memeluknya erat.


"Ini" menunjuk perut Mona.


"Maksud mu soal punya anak lagi?"


"Iya, ayo kita buat anak" ucap Gavin dengan cepat ketika Mona sudah mengerti.


Mona terdiam sesaat, mungkin saat ini Mona memikirkan anak mereka yang sekarang sudah berada disurga bersama kakek dan neneknya.


"Kamu masih sedih"


Mona hanya mengelengkan kepalanya. Kemudian Gavin merubah sisi badan, Mona untuk dipeluk agar tidak menyebabkan Mona merasa tidak nyaman.


"Kamu tenanglah semua sudah berlalu, kita mulai hidup baru ya" bujuk Gavin.


"Sudah tidur saja ya" ucap Gavin lalu membaringkan tubuh Mona.


Mona yang masih terdiam pun mengikuti arahan Gavin, dia pun segera memejamkan matanya, pikirannya masih terlihat berada didunianya sendiri.


10 menit kemudian Mona pun tertidur, entah apa yang membuat Mona merasa lelah, mungkin karena pikirannya saat ini.


Gavin mengelus rambut Mona dengan rasa sayang yang sangat besar.


"Maaf, aku mengingatkan mu lagi" batin Gavin yang merasa bersalah, karena hal ini baru saja 1 minggu lebih berlalu.


Gavin membenarkan posisi kepala Mona, lalu dia membaringkan dirinya, pinggangnya sudah minta untuk diluruskan.


Waktu juga sudah menunjukkan tengah malam.


Tidak lama Gavin berbaring, dia belum bisa tidur, lagi-lagi saat ini dia melihat tidur Mona gelisah, sama seperti dulu waktu dia masih menjadi supir Mona, dia sering melihat Mona tidur gelisah begini, karena sebuah masalah atau pikirannya bertumpuk.


Setelah Mona tenang dalam tidurnya, Gavin pun melanjutkan apa yang tadi tertunda, Gavin pun terlelap bersama sang istri.


*****

__ADS_1


Pagi ini dikantor Gavin.


Gavin meminta Dirgo untuk keruangannya, tidak begitu lama hadir lah Dirgo diruangan Gavin.


"Ada apa tuan?"


"Hei kawan, santai lah saat ini, aku ingin pendapat mu" jawab Gavin dengan sangat sangat, ternyata saat ini Gavin sedang membutuhkan teman berbagi.


"Ada apa?" Tanya heran Dirgo yang begitu santai terhadap dia.


"Kau jangan tertawa ya" ucap Gavin kepada Dirgo.


"Ok" jawab Dirgo.


Gavin mempersiapkan dirinya untuk bercerita.


"Ehm" suara Gavin membetulkan suaranya terasa ada sesuatu nyangkut ditenggorokkannya.


"Begini, aku ingin menambah anak secepatnya"


"Apa?"


"Hahahaha, tuan ini benar-benar tidak memberi istrinya istirahat"


"Maaf tuan, kan Nona baru sehat"


"Ya karena itu, aku tidak ingin menyia-yia kan kesempatan, hanya saja Mona tidak ingin melakukannya" frustasi Gavin.


Sesaat Dirgo pun berpikir.


"Hmm, bagaimana kalau tuan ajak nona bulan madu, kalian dari menikah belum ada bulan madu"


"Sedangkan orang-orang diluar sana yang baru menikah pastinya sangat ingin sekali berbulan madu dengan segera jika mereka sangat mempunyai banyak kesempatan dan biaya" ucap Dirgo.


"Ide bagus! Aku suka ide mu" ucap Gavin dengan semangatnya.


"Dan kau tolong urusi semuanya untuk bulan madu kami, direncana kan 3 hari kedepan!" Ucap Gavin dengan cepat.


"Tuannnnn tolong lah, ini bulan madu tuan, masak harus aku lagi" dengus kesal Dirgo.


"Aku tambah lagi bonus mu bulan ini bagaimana?" Tawar Gavin

__ADS_1


"Sungguh?" Tanya Dirgo kembali. Dirgo bukan orang yang materialistis hanya saja, jika dia mendapat bonus baginya itu sebuah penghargaan dan dia sedang menciptakan masa depannya.


"Iya" jawab Gavin santai.


"Baik" ucap Dirgo segera.


"Sekarang silakan keluar, bentar lagi istri ku tersayang mau datang" usir Gavin kepada Dirgo.


"Ini mah, habis manis sepah dibuang" Gumam Dirgo tetapi masih bisa didengar oleh Gavin.


Gavin terlihat tersenyum ketika Dirgo berjalan keluar, dikantor dia ini memang hanya Dirgo yang bisa membuat dia sedikit tersenyum jika berbicara.


Tetapi jika didepan karyawan lain, Gavin terlihat memyeramkan, angkuh, dingin, tidak banyak bicara.


15 menit kemudian, Mona sudah datang dikantor Gavin, dia pun langsung menuju ruangan Gavin, semua karyawan Gavin sangat terpesona melihat kedatangan Mona, padahal sudah biasa mereka melihat Mona kekantor Gavin, tetapi tetap saja mereka terpesona dengan Mona. Mona juga melemparkan senyum cantiknya ketika berpapasan dengan beberapa karyawan atau saling bertatap muka.


"Hei kalian lihat siapa sampai begitu"


"Itu istri tuan Gavin, sangat cantik"


"Sangat beruntung tuan Gavin"


Bisik beberapa karyawan wanita dan pria yang berkumpul.


"Hei, kalian mau mati yang membicarakan tuan dan Nona" ucap Dirgo yang kebetulan lewat didepan mereka.


"Aghh tidak asisten Dirgo"


"Maaf" mereka pun membubarkan diri.


"Nona memang mempesona" batin Dirgo yang kemudian berjalan keruangannya.


*****


Diruangan Gavin, Mona sedang bercerita soal tadi pagi dia bagaimana setelah ditinggal Gavin kekantor.


"Mama bagaimana hari ini sikapnya?" Tanya Gavin.


"Ya begitu lah" ucap Mona santai.


Saat ini Rebeca sudah sangat jarang kekantor Gavin, semenjak dipermalukan oleh Mona secara langsung.

__ADS_1


Dan Rebeca pun sedang mempunyai tugas untuk mengurus perusahaannya di negara lain, hanya sebuah cabang kecil yang dibuka oleh orang tuanya.


__ADS_2