Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
94. Apa Harus Morning Sicknes?


__ADS_3

Pagi harinya, Mona terbangun karena sinar matahari yang menerang masuk kedalam kamar mereka dan seperti biasa Gavin akan meletakkan tangannya di antara perut Mona.


Dengan perlahan Mona pun melepaskan dirinya.


Setelah itu Mona pun segera mandi, selesai dia mandi, Gavin pun sudah menunggu diatas ranjang, ternyata dia telah terbangun.


"Mau mandi" tanya Mona basa basi.


"Tentu, tapi maunya dimandikan sama kamu!"


"Memang kamu bayi?"


"Belajar dulu, urus bayi besar!"


"Enggak" ucap Mona dengan cepat, kemudian dia berjalan menuju lemari mengambilkan handuk untuk Gavin pakai.


Gavin pun segera mengambil handuk itu dan pergi mandi mandi. Mona dengan sabar menunggu suaminya keluar dari kamar mandi karena ingin sarapan pagi bersama.


"Sudah ayo!" Ajak Gavin yang telah selesai mandi.


Gavin sudah memakai stelan jas rapi untuk berangkat ke kantor yang sudah di tinggalnya beberapa hari, Mona juga memakai pakaian rapi untuk ikut Gavin ke kantor.


*****


Dimeja makan ternyata disana mama Vany sudah menunggu, ada 1 lagi tamu yang tidak di undang datang menganggu siapa lagi kalau bukan Rebeca.


"Gavin duduk sini!" Ajak Rebeca yang benar-benar tidak tau malu sekali.

__ADS_1


Gavin tidak perduli terhadap Rebeca hanya memandangnya dengan tatapan tajam.


Gavin tentunya akan memilih duduk bersama sang istri.


"Pagi ma!" Sapa Mona dengan senyum manisnya.


"Hm" ucap mama Vany.


Mereka pun memulai makan paginya, setelah selesai makan pagi, mereka santai sejenak dimeja makan.


"Kau tidak hamil ya!" Langsung saja sarkas Rebeca ketika Mona yang baru selesai makan dan minum


"Maksud kamu?" Tanya Mona dengan menahan kesal.


"Iya tidak hamil, tidak adanya morning sicknes" jawab Rebeca dengan sinis.


"Aku hamil atau tidak itu bukan urusan mu!" Ucap Mona dengan nada yang ditekan.


"Mona, jangan membohongin kami soal kehamilan mu, jika memang kamu tidak mau dipisahkan dari Gavin, Rebeca bisa menjadi madu mu!" Ucap Mama Vany dengan santainya.


"Oh, jadi selama ini mama tidak percaya kalau Mona hamil?" Tanya Gavin yang sudah saatnya membuka suaranya.


"Lihat saja istri mu, tidak ada sedikit pun gejala hamil, wanita yang hamil tidak akan mudah makan-makanan yang banyak mengandung bawa seperti sayur ini" tunjuk mama Vany terhadap semangkok sayur.


"Orang hamil akan sensitive terhadap hal-hal yang berhubungan dengan bau makanan, lihat istri mu dengan rakusnya dia makan!" Padahal Mona tidak serakus itu makan, dia hanya makan sesuai porsinya saat ini yang sedang kuat makan.


"Dia tidak muntah-muntah atau pun mual lihat saja" ucap mama Vany.

__ADS_1


"Iya tante, macam orang tidak hamil, jangan-jangan dia pura-pura hamil untuk mengambil simpati tante ya!" Timpal Rebeca yang ingin memanaskan suasana makan pagi mereka, untung saja Gavin dan Mona sudah selesai makan, jika tidak Gavin pasti sudah tidak punya mood untuk makan.


"Kau diam saja, orang luar yang suka ikut campur, dasar wanita tidak tau malu, kemana dasar sekolah mu hingga mau menjadi pengganggu dikeluarga ku?" Ucap Gavin terhadap Rebeca, membuat Rebeca terdiam dan menahan rasa malu.


"Kau silakan keluar, sudah numpang makan disini, sudah kenyangkan? Dan tau pintu keluar dimana, atau perlu pelayan yang mengantar mu keluar!" Ucap Gavin dengan nada tinggi.


"Dan jangan pernah menganggu aku lagi, ini peringatan terakhir, jika sampai aku melihat mu, aku tidak perduli siapa kau tapi kau tau aku siapa, yang tidak segan mengutus orang-orang ku untuk membunuh mu!"


"Gavin" bentak mama Vany, karena mama Vany takut ini akan berakibat buruk terhadap pertemannya dengan mama Rebeca.


Rebeca sangat malu karena ini Gavin sendiri yang langsung berbicara. Dia pun segera berjalan keluar tanpa ada sepatah kata pun.


"Apa mama tidak percaya Mona hamil, akan ku panggilkan dokter kandungan kesini berserta alat canggihnya untuk memperlihatkan mama, diperut Mona ada cucu mama!" Ucap Gavin dengan suara sedikit tinggi.


"Tidak perlu" jawab mama Vany.


"Maaf ma, aku memang dari awal hamil tidak mengalami gejala hamil seperti pada umumnya wanita hamil, aku hamilnya biasa saja, tidak mual, tidak muntah atau pun sensitive pada hal-hal bau!" Ucap Mona menerangkan kondisi hamilnya terhadap mama mertuanya.


"Aku tidak percaya, dulu aku hamil Gavin saja sampai sulit makan, lha kamu sangat tidak seperti wanita hamil!" Ucap mama Vany, yang dulu memang hamil Gavin mengalami morning sicknes yang kuat sekali.


"Aku benaran hamil ma!" Ucap Mona dengan lirih.


"Agh sudahlah aku tidak perduli!" Ucap mama Vany.


"Ma, aku sudah katakan jangan sampai Rebeca kembali mengangguku, mama tau akibatnya nanti!" Ucap Gavin memperingatkan mamanya.


Mama Vany hanya diam, mengeratkan giginya, mengepalkan tangannya, karena dia sangat tau sifat anaknya jika sudah sangat merasa terganggu.

__ADS_1


Mona hanya bisa terdiam tanpa berexpresi apa pun dengan respon dari mama Vany, pedih hatinya itu pasti, dia merasa sangat tidak berharga dimata mama Vany.


__ADS_2